Tren Slow Traveling di  Tahun 2020

Tren Slow Traveling di 2020

Di akhir tahun 2019 kemarin, menurut riset yang dilakukan oleh perusahaan skyscanner kepada sekitar 100 juta penggunanya, sebanyak 27.4 persen travelers memilih untuk mencari liburan yang lebih santai dan tidak bepergian dengan itinerary yang padat. 24.6 persen travelers memilih liburan dengan jangka waktu yang pendek dan sekitar 21 persen memilih untuk berpergian ke tempat yang tidak banyak turis.

“27.4 persen travelers memilih untuk mencari liburan yang lebih santai dan tidak bepergian dengan itinerary yang padat.”

 

Berkaca dari riset tersebut, pada tahun 2020 ini tren dari industri traveling di Indonesia sendiri sudah akan mulai mengikuti ketiga tren traveling di atas. Pada pembahasan kali ini saya akan membahas kira-kira apa saja sih tren traveling untuk orang Indonesia di tahun 2020 ini? Simak berikut ini!

Traveling Santai

Keyword yang satu ini akan banyak menghiasi tren traveling di tahun 2020 mendatang nih. Apa sih konsep Traveling yang santai atau “santuy” atau lebih dikenal dengan nama beken “Slow Traveling”

Slow Traveling sendiri adalah konsep dimana travelers lebih memprioritaskan quality over quantity. Dimana kini travelers tidak lagi dikejar waktu untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain ketika sedang liburan, namun lebih kepada mengurangi jumlah tempat yang dikunjungi dan lebih menikmati perjalanan atau bahkan menetap di satu tempat. 

“Slow Traveling sendiri adalah konsep dimana travelers lebih memprioritaskan quality over quantity.”

 

Saya sendiri sebagai seorang travelers juga tidak terlalu menyukai konsep tur agen dimana harus berpindah-pindah secara cepat karena ingin melihat semua tempat wisata. Selama saya bepergian, pasti saya selalu menyempatkan diri untuk tinggal sedikit lebih lama dan mengexplore kota maupun daerah disekitarnya.

Local Experience

Masih berhubungan dengan konsep traveling santai, Tasting Local Experience juga akan menjadi highlight di tahun 2020 ini. Dengan mengurangi jumlah tempat yang dikunjungi, semakin banyak hal yang bisa kita temukan dan dapat ketika sedang berkunjung di satu tempat. 

Salah satu contohnya ketika saya pergi backpacking ke Jerman. Mungkin banyak orang mengetahui Jerman hanya sebatas kota Berlin, Munich atau yang paling terkenal adalah kastil yang mirip dengan logo Disney yaitu Kastil Neuschwanstein. Tidak banyak orang yang mengetahui di sekitar wilayah Munich banyak terdapat tempat yang sangat indah untuk dikunjungi seperti danau Eibsee yang terletak di bawah puncak tertinggi gunung alpen dan Königssee yang merupakan salah satu tempat wisata musim panas favoritnya Hitler.

Jadi sangat penting untuk mencoba untuk tinggal sedikit lebih lama dan merasakan pengalaman yang berbeda yang mungkin tidak banyak turis lainnya mengetahui.

Efisiensi

Sejak kemunculan situs-situs online seperti Airbnb dan Traveloka, kini berpergian baik ke dalam maupun keluar negeri lebih mudah dan cepat. Saya sendiri juga sangat terbantu dengan salah satu situs bernama blablacar ketika sedang berada di Eropa, dimana disitu saya bisa dikatakan istilahnya “Nebeng” dengan orang yang memiliki mobil dan akan menuju ke tempat tujuan yang sama. 

Dibandingkan dengan harus pergi ke tur atau travel agent yang biasanya memiliki harga yang lebih mahal dan tidak se-flexible ketika memilih sendiri, kini travelers sudah lebih pintar dalam mencari penginapan hingga tiket yang murah dan cepat.

Personalisasi

Dengan semakin terbukanya kesempatan untuk memilih penginapan dan juga transportasi, kini orang Indonesia sudah mulai meninggalkan cara bepergian dengan cara konvensional yaitu mengikuti paket tur dari travel agent. Kini travelers dari Indonesia dapat mengatur itinerary sendiri bahkan juga mencari guide ketika berpergian ke luar negeri, salah satu layanan yang disediakan oleh start-up travel Indonesia yaitu Travelbuddy Indonesia yang mempertemukan travelers dengan Diaspora Indonesia yang berada di luar negeri. 

Berlibur ke Jepang tanpa menggunakan tur agen dan ditemani dengan orang Indonesia yang sudah lama tinggal disana dan tau kuliner favorit yang pas dengan lidah saya, sepertinya menarik untuk dicoba bukan? 

Please follow and like us:
FACEBOOK
FACEBOOK
LINKEDIN
%d bloggers like this: