Home Tech ⚙ Treat Credential Data in Better Manner

Treat Credential Data in Better Manner

Perkembangan teknologi telah membawa begitu banyak perubahan dalam kehidupan manusia. Tidak hanya banyak secara kuantitas, namun juga secara kualitas. Implementasi teknologi bahkan sudah mengakar dalam kehidupan kita. Simply said, hampir tidak ada aspek yang tidak tersentuh oleh teknologi. Namun, as wise said, good will come along with bad. Begitu juga dengan teknologi yang membawa dampak baik dan buruk. Salah satu dampak dari mudahnya akses teknologi adalah kemudahan penyebaran informasi digital. 

Informasi digital adalah produk utama dari teknologi informasi. Mudahnya penyebaran informasi digital sebenarnya adalah tujuan utama adanya teknologi informasi itu sendiri. Jika kamu masih lahir pada tahun 90-an, kamu masih merasakan betapa sulitnya untuk berkomunikasi dari satu tempat ke tempat yang lain. Padahal terkadang ada hal urgent yang harus segera disampaikan. Untuk itulah dikembangkan teknologi informasi.

Tapi, disadari atau tidak, perkembangan ini kini banyak dimanfaatkan secara negatif oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Seperti misalnya, meretas database untuk mendapatkan email dan password orang lain, mengeksplorasi Heartbleed Bug untuk mengakses data server secara ilegal, membuat pishing website, membuat keylogger, atau menyadap komunikasi orang lain untuk mendapatkan informasi pribadi. Bagi kamu yang belum pernah mengalaminya atau “menganggap” kamu tidak pernah mengalaminya, trust me this is something you need to concern about.

Di antara banyaknya jenis informasi/data digital, yang paling berbahaya jika bocor adalah credential data. Credential data dapat berupa password, OTP, token, key, PIN atau informasi lainnya yang dapat digunakan untuk membuka akses informasi yang sangat penting (sensitive information). Lalu, gimana sih tipsnya menyimpan kredensial data ini? Yuk simak tips berikut.

 

  • It’s Better to be Proactive, Than Reactive.

 

Dalam hal credential data security or any other important digital information, sangat penting bagi kita untuk menjadi proaktif. Proaktif dimaksudkan dengan melakukan berbagai tindakan pencegahan untuk mencegah terjadinya kebocoran data. Kalau boleh meminjam istilah kesehatannya, “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Salah satu jargon proaktif yang paling terkenal adalah “mengganti password minimal 3 bulan sekali”. Dengan mengganti password minimal 3 bulan sekali, kita bisa memastikan bahwa password yang kita miliki tetap aman, dan sekalipun kita “pernah” kebocoran data (data leaked) maka password kita yang lama tidak lagi berlaku.

 

  • Proprietary Information Should be Difficult to Access. Period.

 

Artinya, semua informasi/data yang bersifat pribadi dan penting TIDAK BOLEH dapat diakses dengan mudah. Seperti misalnya kita menulis pin kartu debit dan menempelnya di kartu tersebut, atau kita menyalin password di selembar kertas yang dapat diakses oleh siapa saja. Hal ini sangat lah tidak dianjurkan ya guys.

Baca Juga : Mengenal Teknologi Machine Learning

 

  • Don’t Put All Your Eggs Into One Basket

 

Eggs di sini bukan berarti telur ayam ya guys. Eggs disini diartikan sebagai seluruh credential data. Kita sangat dianjurkan untuk menyimpan kredensial data kita di beberapa tempat. Kenapa? Hal ini berhubungan dengan sistem keamanan teknologi informasi itu sendiri. Walau dibuat secanggih apapun tidak ada satu orang pun yang bisa menjamin bahwa teknologi tersebut aman 100%. Karena hampir tidak ada security sistem di dunia ini yang sempurna secara keseluruhan.

Dengan demikian, jika terjadi kebocoran data, entah itu karena pembobolan sistem, kerusakan dan hal lainnya, data kita tidak seluruhnya leaked. Jika dikaitkan dengan telur, ketika wadah satu telur jatuh, maka tidak semua telurnya pecah karena sebagiannya disimpan di wadah yang berbeda.

 

  • Two-Factor Is Annoying, But Necessary

 

Two factor authentication bisa dibilang metode ampuh untuk melakukan verifikasi saat kita ingin login. Dengan two factor authentication kita dituntut untuk memasukkan kode OTP yang dikirimkan ke kita (baik melakuk email atau no handphone). Namun, tidak jarang dan tidak sedikit dari kita merasa bahwa two factor authentication in some cases is really annoying. Walaupun terkadang ribet, tapi percayalah bahwa two factor authentication ini memastikan bahwa data kita disimpan dengan aman dengan kombinasi kode yang dinamically changing. Dan ingat ya, jangan pernah memberikan kode otp kepada siapapun. You have been warned!

 

  • Encrypt Everything Like the Fate of the Galaxy Depends It

 

Tips yang kelima ini terdengar sedikit berlebihan ya guys (Slogan ini terinspirasi dari film star wars). Tapi, kalau kita mempertimbangkan apa yang bisa terjadi ketika kita kehilangan kredensial data, maka slogan ini malah terkesan kurang greget loh. So, as smart tech user, kita harus selalu memastikan bahwa kita sudah melindungi semua kredensial data kita secara optimal. Bila perlu, jangan ragu untuk meng-encrypt kredensial data kita, agar tidak bisa diakses dengan mudah oleh orang lain.

Nah, itu dia tips menyimpan kredensial data yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selamat mencoba, semoga bermanfaat.

suberlin sinaga
Data and Nasgor lover

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Apa Itu TKB90 dan TKW90?

Amartha terus menjalankan prinsip transparansi kepada masyarakat dengan mencantumkan Tingkat Keberhasilan 90 (TKB90) di halaman utama website Amartha.com. Dengan transparansi ini, pemberi pinjaman akan...

5 Lapisan Mitigasi Risiko Ini Ada di Amartha

Sebelum memulai pendanaan di dunia fintech, Anda harus mengetahui risiko dan keamanan yang dilakukan perusahaan tersebut. Hal ini dilakukan agar...

Perjalanan Hidup Menjadi Single Parent

Perjalanan hidup menjadi single parent, sebagai seorang ayah dari seorang putri, tidak pernah terpikirkan sebelumnya disaat mengikat janji dengan pasangan, selalu terucap...

Semua yang Saya Raih Ini Karena Amartha

“Tolong Amartha dijaga sebaik mungkin agar ibu-ibu lain yang belum bisa bangkit bisa terbantu.” Begitu kata Pariyah saat tim Amartha bertemu di rumahnya, desa Randusari,...