Home Syariah ☪ Tiga Buku Bisnis Menarik untuk Memulai 2020

Tiga Buku Bisnis Menarik untuk Memulai 2020

Awal tahun adalah waktu yang tepat untuk membuat resolusi apa saja yang ingin kita capai di tahun 2020. Sebagai pecinta buku, salah satu yang sering aku jadikan resolusi adalah buku apa saja yang aku ingin selesaikan tahun ini. Yah walaupun jarang sekali resolusi tercapai, tapi setidaknya dengan merencanakan, aku jadi meriset buku apa saja yang menarik untuk dibaca di hari-hari kedepan.

Di tulisan ini, aku ingin berbagi tiga buku bisnis menarik yang aku baca tahun lalu. Ketiga buku ini menurutku memberiku banyak insight tentang strategi, pengembangan produk dan insight dalam membangun sebuah startup. Relevan dengan pekerjaanku di tim Business Development Amartha. 

Semoga ketiga buku ini dapat masuk dalam list bacaan teman teman di awal tahun 2020 ini. Mari kita mulai dari yang pertama.

Hard Things About Hard Things – Ben Horowitz

Ben Horowitz adalah founder sekaligus setengah nyawa dari kapitalis ventura Andreessen-Horowitz atau juga biasa disebut a16z. Andreessen-Horowitz berinvestasi di startup teknologi yang masih dalam tahap awal. Portfolio dari a16z sangat impresif, hampir semua startup teknologi unicorn ada dalam list investasi mereka. Mulai dari Facebook, Groupon, Lyft hingga AirBnb. 

Di buku Hard Things About Hard Things, Ben Horowitz menceritakan pengalamannya dalam mengembangkan startup mulai dari pertama bekerja di Netscape, mengembangkan startup B2B bernama Loudcloud, menjualnya ke Hewleet-Packard dan menggunakan uang hasil penjualan tersebut untuk memulai a16z. 

Salah satu yang sangat insightful di buku ini, Horowitz menceritakan bagaimana perbedaan ekspektasi dan skillset yang dibutuhkan pekerja yang bekerja di startup dibandingkan dengan corporate. Aku mensarikan beberapa wawasan tersebut di tabel dibawah :

Horowitz menulis buku ini dengan jujur dan terang-terangan. Kita bisa merasakan tantangan demi tantangan yang Horowitz rasakan dalam memimpin startup. Menurutku, buku ini wajib dibaca untuk semua yang sedang bekerja di startup atau sedang berpikir untuk pindah dari corporate ke startup. Di balik semua gemerlap flexible hour atau kerja di kantor berwarna-warni, berkarir di startup ternyata tidak mudah dan di buku ini kita bisa belajar tips dan trik berharga dari Ben Horowitz. 

It Doesn’t Have To Be Crazy At Work – Jason Fried and David Heinemeier Hansson

Jason Fried dan David Heinemeier Hansson (DHH) adalah founder dari startup 37signals yang sekarang bernama Basecamp. 37Signals pada awalnya adalah software house global yang fokus pada desain website. Namun semenjak 2014, 37Signals fokus dalam pengembangan aplikasi manajemen proyek mereka bernama Basecamp. 

Fried dan DHH juga terkenal mengadvokasi work-life balance, kerja remote dan praktek-praktek produktivitas yang relevan dengan proses pengembangan perangkat lunak. Selain buku ini, mereka berdua sebelumnya merilis buku Getting Real yang berisi wawasan dalam membangun aplikasi web dan juga best-practice dalam membangun tim kerja remote dalam buku Remote. 

Di buku It Doesn’t Have To Be Crazy at Work, Fried dan DHH menyampaikan tesisnya bahwa mayoritas cara bekerja dan desain ruang kerja modern saat ini tidak mendukung produktivitas. Bekerja tidak harus selalu hectic, penuh distraksi dan bikin gila. Duo Basecamp ini berargumen jika tempat kerjamu menuntut untuk lembur setiap hari dan setiap hari suasana kerja sangat stress, maka ada sesuatu yang salah secara fundamental. 

Dua hal yang membuat suasana kerja menjadi gila : 

  • Distraksi fisik dan virtual yang terjadi secara konstan
  • Mengejar growth atau pertumbuhan dengan segala cara

Buku ini membahas bagaimana tips dan trik mengurangi dua hal ini dan menjadikan tempat kerja menjadi lebih zen sehingga produktivitas meningkat. 

Beberapa tips menarik yang kudapat dari buku ini :

  • Kurangi atau Hilangkan Meeting untuk Update status. Jika delapan orang berkumpul untuk update status selama sejam, maka waktu kerja yang hilang bukan satu jam tetapi delapan jam. Update status proyek atau sprint sebaiknya digantikan dengan dokumen tertulis yang bisa dibaca setiap anggota tim sesuai dengan waktu kosong mereka. 
  • Distraksi lebih banyak datang dari internal tim. Yang paling sering terjadi adalah manajer yang sedikit-sedikit minta update dari tim yang sedang bekerja. Ruang kerja sebaiknya diperlakukan seperti perpustakaan yang hening dan fokus. Meeting sebaiknya dilakukan seminimal mungkin di dalam ruangan terpisah. 
  • Tidur berkualitas sangat krusial untuk kerja kreatif. Mengembangkan produk, menulis software dan mengerjakan riset, semua ini adalah kerja kreatif. Menukar waktu tidur dengan bekerja lembur tidak pernah menghasilkan hasil yang optimal. Pekerja yang kurang tidur tidak hanya tidak produktif tetapi juga temperamental sehingga menimbulkan lingkungan kerja yang toxic
  • Grup chat harus diperlakukan secara asynchronous. Berpartisipasi di chat grup itu layaknya berada di meeting panjang tak berujung dengan agenda yang berubah-ubah. Dua tips untuk chat grup yang produktif : (1) Asynchronous most of the times, real-time sometimes; (2) Kalau memang urgent, sebaiknya telpon saja atau kalau tidak, buat ringkasan dan kirim melalui email. .

Buku ini menurutku adalah angin segar di tengah buku-buku produktivitas yang menuntut untuk kerja keras tanpa mengenal batas. Selain itu, ciri khas dari buku Fried dan DHH adalah bab nya yang ditulis pendek-pendek sehingga enak untuk dicerna. 

Blood, Sweat and Pixels – Jason Schreier

Ini adalah buku yang menarik dibaca untuk kamu yang fanatik dalam bermain video game. Jason Schreier adalah seorang jurnalis game untuk Kotaku. Di buku Blood, Sweat and Pixels, Jason menuliskan beberapa proses behind-the-scene dari pengembangan game mulai dari game AAA seperti The Witcher 3 hingga game indie seperti Stardew Valley.

Tiga hal yang membuat pengembangan video game sangat berbeda dan mempunyai tantangan lebih rumit  dibanding perangkat lunak yang lain :

  • Games sangat interaktif. Games tidak berjalan liner seperti layaknya perangkat lunak lain. Ada puluhan hingga ratusan aksi yang bisa dilakukan pemain sehingga pengembang harus membuat respon dan logika untuk semua aksi yang mungkin dilakukan pemain. 
  • Engine dan development tools yang selalu berubah setiap tahunnya. Mengembangkan game itu layaknya membuat sebuah film tetapi kamera harus dibuat dari nol setiap kali film baru dimulai. Teknologi komputasi berevolusi setiap tahun sehingga membuat ekspektasi grafis dan gameplay  dari pemain naik terus mengikuti tren tersebut. Ditambah lagi, tools dalam membuat game yang sangat berbeda antar satu platform dengan yang lain (PS4 dengan Xbox One) sehingga menambah kompleksitas proses pengembangan. 
  • Penjadwalan yang hampir pasti selalu molor. Dalam pengembangan software tradisional, definisi selesai sebuah task dapat diestimasi dari pembelajaran development sebelumnya. Tetapi dalam sebuah game, yang di ukur adalah seberapa menyenangkan gameplay atau mekanik yang terjadi di dalam game tersebut. Ini hanya bisa diukur ketika game sudah jadi dan pemain mencoba hasil jadinya. Ketika hasil tidak optimal, maka developer mengulang dari awal dan mengetahuinya lagi setelah benar benar jadi. Ini sebabnya hampir semua pengembangan game selalu molor dari jadwal. 

Buku ini membahas banyak sekali proses kreatif di balik sebuah game. Menarik untuk dibaca siapapun yang bermain game atau tertarik untuk mengembangkan game. 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Apa Itu TKB90 dan TKW90?

Amartha terus menjalankan prinsip transparansi kepada masyarakat dengan mencantumkan Tingkat Keberhasilan 90 (TKB90) di halaman utama website Amartha.com. Dengan transparansi ini, pemberi pinjaman akan...

5 Lapisan Mitigasi Risiko Ini Ada di Amartha

Sebelum memulai pendanaan di dunia fintech, Anda harus mengetahui risiko dan keamanan yang dilakukan perusahaan tersebut. Hal ini dilakukan agar...

Perjalanan Hidup Menjadi Single Parent

Perjalanan hidup menjadi single parent, sebagai seorang ayah dari seorang putri, tidak pernah terpikirkan sebelumnya disaat mengikat janji dengan pasangan, selalu terucap...

Semua yang Saya Raih Ini Karena Amartha

“Tolong Amartha dijaga sebaik mungkin agar ibu-ibu lain yang belum bisa bangkit bisa terbantu.” Begitu kata Pariyah saat tim Amartha bertemu di rumahnya, desa Randusari,...