The Downside of Work Life Balance

0
145
work life balance
Sumber Foto: Freepik

Istilah work life balance cenderung memisahkan antara dunia kerja atau profesional dengan dunia personal atau keluarga dengan proporsi waktu yang sama. Sekian jam untuk personal, sekian jam untuk pekerjaan.

Padahal faktanya pada setiap rentang waktu, kita memiliki prioritas yang berbeda.

Pada satu momen, kita dituntut untuk mengejar target pekerjaan yang diharapkan, disisi lain kita juga sering mengambil jam kerja untuk urusan personal dengan proporsi waktu yang terus berubah.

Baca Juga: Work Life Balance di Dunia Kerja? Mungkinkah?

Work Life Balance Adalah Mitos?

David Sedaris dengan ‘The Burners Theory’ nya menegaskan bahwa Work-Life Balance itu tidak ada. Menurut Sedaris, manusia memiliki “four burners” sebagai berikut:

  1. The first burner represents your family.
  2. The second burner is your friends.
  3. The third burner is your health.
  4. The fourth burner is your work.

The Four Burners Theory mengatakan bahwa “in order to be successful you have to cut off one of your burners. And in order to be really successful you have to cut off two.”

Pada satu rentang waktu, kita memang harus memilih 2 hal dan “mengorbankan” 2 hal. Maka dari itu, hari ini kita mengenal istilah Work-Life Harmony atau Work-Life Integration.

Yang dimaksud dengan Work Life Harmony adalah bagaimana kita mengatur sedemikian rupa dengan menyatukan, mengintegrasikan, dan mengharmoniskan kehidupan personal dan pekerjaan.

Pada satu waktu, kita memakai jam kerja untuk mengurus anak. Disisi lain, kita menghabiskan malam untuk bekerja dan mengejar target-target pekerjaan yang ada.

Apalagi pada kondisi WFH seperti saat ini, dimana ruang kerja dan ruang personal menjadi satu kesatuan. Masalah-masalah personal dan pekerjaaan bercampur jadi satu.

Lalu, bagaimana produktivitas karyawan diukur?

Cara Mengukur Produktivitas Karyawan

productivity
Sumber Foto: The Urbanlist

Produktivitas tidak lagi diukur dari waktu kerja yang dihabiskan atau banyaknya aktivitas yang dilakukan, melainkan dari output atau outcome kerja yang dihasilkan.

Dengan asumsi karyawan pada kondisi mau dan mampu mengerjakan tugasnya, maka leader atau atasan diharapkan memberikan ruang belajar dan berkreasi kepada rekan kerja dalam menyelesaikan pekerjaan mereka.

Biarkan karyawan mengatur waktu mengharmoniskan antara urusan personal dan pekerjaan.

Pada perjalanan membangun produktivitas guna mencapai output kerja yang diharapkan itu, karyawan mungkin akan mendapatkan kendala, maka disinilah pentingnya karyawan mengkomunikasikan kendala yang mereka hadapi kepada leader.

Ada 2 hal yang membuat ini penting, yaitu sebagai berikut:

  1. Leader atau rekan kerja bukan dukun, apalagi di masa-masa WFH, mereka tidak bisa menebak kendala apa yang kita hadapi.
  2. Jangan sampai sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah pusing memikirkan kerjaan sendiri, disalahkan lagi karena pada akhirnya tidak perform.

Baca Juga: WFH Lagi, Ini Sejumlah Aplikasi Pendukung Kerja Dari Rumah

Perihal ini, ada 2 hal mendasar yang memang perlu dipenuhi terlebih dahulu oleh leader, yaitu:

  1. Psychological Safety. Leader harus mampu membangun kenyamanan karyawan untuk menyampaikan apa yang menjadi kendala mereka.
  2. Kesiapan atasan leader menjadi Coach, Mentor dan Feedback Provider bagi karyawannya.

Perjalanan karir dan kontribusi kita di kantor adalah sebuah maraton, bukan sprint. Maka penting untuk menjaga ritme guna terus mengharmoniskan kehidupan personal dan profesional yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja kita secara berkelanjutan.

Ultradian Rhythm mengajarkan bahwa pada selang 90 menit bekerja, kita butuh “ultradian healing process“, istirahat sejenak dan melakukan aktivitas yang berbeda.

Pada rentang 90 menit kita akan mencapai puncak performance pada kondisi optimal arousal. Namun jika terus dipaksakan, optimal arousal tersebut, akan menurun dan beralih ke stress.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here