Survei BPS: 69% UKM Butuh Modal di Masa Pandemi

    0
    304
    Mitra Amartha
    Mitra Amartha yang menjalankan usaha keripik dan camilan

    Sampai saat ini, pandemi Covid-19 sudah mewabah di Indonesia hampir 8 bulan. Salah satu kebijakan yang dijalankan adalah dengan penerapan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. Hal ini tentunya berdampak sekali pada perekonomian masyarakatnya yang mayoritas adalah pelaku UMKM. Sebagai informasi, mayoritas GDP Indonesia ditopang oleh pelaku UMKM lebih dari 60%.

    Badan Pusat Statistik (BPS) pun melakukan survei mengenai dampak Covid-19 kepada para pelaku usaha di Indonesia. Sebanyak 34.559 pelaku usaha menjadi koresponden di mana 25.256 adalah Usaha Menengah Kecil (UMK), 6.821 Usaha Menengah Besar (UMB), dan 2.482 di bidang pertanian. Survei sendiri dilakukan pada tanggal 10.26 Juli 2020.  

    BPS: 69% UMKM Butuh Modal Usaha Selama Pandemi

    Terdapat tiga sektor usaha yang paling parah terdampak Covid-19, yaitu Akomodasi dan makan minum (92,47%), jasa lainnya (90,90%), dan transportasi dan pergudangan (90,34%). Adapun daerah yang mengalami penurunan pendapatan paling dalam adalah Bali, Yogyakarta, Jakarta, dan Banten.

    Selain itu, hasil survei menunjukkan bahwa UMK paling banyak mengalami penurunan pendapatan akibat pandemi Covid-19 atau sekitar 84,20%. 

    Data lain menunjukkan bahwa 69,02% pelaku UMK membutuhkan modal usaha; 41,18% membutuhkan keringanan tagihan listrik untuk usaha; 29,98% berupa relaksasi atau penundaan pembayaran pinjaman; 17,21% membutuhkan kemudahan administrasi untuk mengajukan pinjaman, dan 15,07% ingin penundaan pembayaran pajak. 

    Apabila pandemi ini tidak kunjung usai, para pelaku usaha dalam hasil survei tersebut tidak yakin dapat mempertahankan usahanya. Sebanyak 55% responden mengatakan tidak tahu bisa bertahan atau tidak, 25,94% mengaku dapat bertahan lebih dari 3 bulan, dan 14,58% dapat bertahan antara 1 sampai 3 bulan. 

    Menurut Ikhsan Ingratubun selaku Ketua Asosiasi UMKM Indonesia, pendapatan UMKM di masa new normal belum pulih seutuhnya. Ia menyebutkan rata-rata pelaku usaha hanya meraih penghasilan sekitar 15-20 persen dari pendapatan sebelum Covid-19.

    Meskipun demikian, ia menambahkan “UMKM memang rapuh, tetapi dia juga mampu untuk mentransformasi dirinya dengan cepat dan adaptif.” 

    Bisa Dengan Gotong Royong

    amartha

    Bagi UMK di pedesaan keadaan dengan pandemi ini makin sulit. Salah satu faktor penyebabnya adalah sulit mendapatkan pinjaman dari perbankan. Untuk menjembatani keadaan ini, Amartha hadir sebagai perusahaan peer to peer lending yang menghubungkan investor dengan pelaku pengusaha mikro di pedesaan.

    Di Amartha, mitra usaha tidak hanya mendapatkan modal pinjaman saja melainkan juga pelatihan keuangan dan kewirausahaan. Mitra juga mendapatkan pendampingan rutin setiap minggunya oleh tim lapangan Amartha. 

    Sementara sebagai investor, kamu bisa mendapatkan keuntungan sampai 15% Flat per tahun dengan repayment setiap minggu. Apabila kamu tertarik untuk berinvestasi di Amartha, ini adalah waktu yang tepat. Yuk investasi sekarang!

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here