Sumpah Amartha untuk Kesejahteraan Merata di Indonesia

|

|

|

Sepuluh tahun lalu, Amartha diciptakan sebagai sebuah koperasi kecil di wilayah Ciseeng, Jawa Barat. Amartha diinisiasi oleh seorang karyawan yang terbilang mapan dalam pekerjaannya. Bagaimana tidak, ia si anak muda ini bekerja di salah satu perusahaan besar di dunia.

Pekerjaan yang mapan di usia muda? Tentu menjadi impian setiap fresh graduate dan para pekerja lainnya. Namun, anak muda ini lebih memilih berhenti dan mulai membuka koperasi kecil yang jauh dari pusat kota, namanya Andi Taufan Garuda Putra.

Ciseeng, Saksi Sejarah Berdirinya Amartha

Pendirian Amartha tak semata-mata hanya karena iseng saja. Selama bekerja di IBM, Andi menyadari adanya ketimpangan masyarakat pinggiran. Dari perbincangan dengan ibu-ibu yang ditemui saat itu, faktor penyebabnya adalah kurangnya modal usaha. Bahwa masyarakat di pedesaan sulit mendapatkan pinjaman untuk usaha karena tidak memiliki rekam jejak keuangan. Kalaupun menggunakan bank keliling, bunga yang dibayarkan sangatlah besar. Dari keadaan ini Andi Taufan tergugah untuk membantu mereka agar bisa mendapatkan pinjaman yang ramah dan mudah.

Di awal mendirikan Amartha, ia hanya memberikan pinjaman kepada lima nasabah atau kini disebut #PerempuanTangguh. Isu yang beredar membuat Amartha kedatangan banyaknya nasabah. Tantangan pertama yang dihadapi Andi pada kondisi ini adalah, banyaknya permintaan namun minim persediaan dana.

“Awalnya bikin Amartha dengan modal Rp15 juta di mana Rp500 ribu per orang. Satu tahun jalan bisa dapat seribu orang. Modalnya dari orang tua, teman-teman pas kuliah. Bertahap dari sana, saya mulai ke bank-bank dan hingga akhirnya dapat 5 Miliar. Namun lebih dari itu, bank menyarankan untuk ada fix aset,” ujarnya saat menjadi pembicara Entrepreneurs Wanted! di Sasana Budaya Ganesha, Bandung pada 2017 silam.

Muhammad Yunus dan Grameen Bank, Inspirasi Amartha Dukung Perkembangan UMKM

Karena pihak bank dengan kata lain tidak dapat membantu Andi, ia pun terpaksa harus kehilangan banyak calon nasabah dan hampir menutup Amartha pada tahun 2015.

Bertransformasi Menjadi P2P Lending

Di masa sulit ini, Andi memutar otak agar Amartha dapat bertahan. Ia pun kemudian mengubah model bisnis Amartha dari yang semula penyalur pinjaman mikro konvensional menjadi platform pinjaman peer to peer.

Model bisnis ini memungkinkan satu pengguna untuk meminjamkan uangnya ke pengguna lain yang membutuhkan. Dengan demikian, Amartha memiliki persediaan dana untuk dipinjamkan kepada nasabahnya, para perempuan pengusaha mikro di pedesaan.

Meskipun beralih menjadi online, Amartha tetap membutuhkan petugas lapangan atau Business Partner (BP). Hal ini dikarenakan, masyarakat yang dijangkau oleh mitra usaha adalah masyarakat yang jauh dari pusat kota. Para BP ini bertugas untuk melayani dan mengedukasi mitra usaha selama masa pinjaman berlaku. Setiap minggu BP bertemu dengan para mitra untuk melakukan pembayaran pinjaman sekaligus pendampingan usaha. 

Amartha, Satu-satunya Fintech P2P Lending Indonesia Yang Masuk Daftar 250 Start-Up Fintech Paling Menjanjikan 2020

Selain itu, yang menarik dari Amartha adalah setiap mitra usaha yang mengajukan pinjaman harus membentuk kelompok sebanyak 10-20 orang. Pembentukan kelompok ini guna meminimalisir risiko yang terjadi sekaligus menerapkan asas gotong royong yang mulai terkikis zaman di Indonesia.

Hingga kini, Amartha fokus memberikan pinjaman hanya kepada para perempuan saja. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh tim Amartha, perempuan tidak hanya dapat meningkatkan taraf hidup dirinya dan keluarganya saja melainkan juga lingkungan sekitarnya. Contohnya, berdasarkan Laporan Akuntabilitas Sosial Amartha tahun 2019, muncul 74% lapangan pekerjaan baru atas usaha mitra Amartha yang telah berjalan dan diisi oleh perempuan juga.

Mengajak lebih dari 3.000 anak muda Indonesia, Amartha telah menyalurkan lebih dari 2.7 Triliun kepada lebih dari 550 ribu perempuan pengusaha mikro di pedesaan per Oktober 2020. Sejak berdiri hingga ke depan, misi Amartha tetap sama, menciptakan kesejahteraan merata di Indonesia.

“Adalah impian saya dapat melihat Indonesia yang semakin sejahtera dan merata. Dengan hadirnya Amartha, kita dapat berkontribusi dalam meningkatkan akses pembiayaan sektor UMKM sehingga dapat menciptakan perekonomian yang lebih inklusif di Indonesia, tutupnya.

Mari bersama #MenjadiAmartha.

LANGGANAN EMAIL MONEY+

DAPATKAN INFO TERBARU
TENTANG MONEY+

Eri Tri Angginihttp://museumberjalan.id
Lulusan Ilmu Sejarah yang nyasar ke financial services. Kindly check museumberjalan.id untuk dapatkan informasi seputar sejarah & sosial budaya.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Usaha yang Cocok di Tengah Pandemi Corona

Covid-19 atau virus corona sedang mewabah sehingga semua orang harus diam di rumah mengisolasi diri. Tapi kalau begini terus semua aktivitas jadi...

Semua Orang Bisa Jadi Sultan. Investasi di Amartha Mulai dari 100 Ribu Rupiah!

Good News From Amartha!  Dalam rangka mempercepat indeks inklusi keuangan di Indonesia sekaligus menjangkau lebih banyak pendana untuk mendorong...

Black Card, Bisa Punya Gak Ya?

Belum lama ini, muncul video viral di TikTok tentang charge card paling istimewa di Dunia yang disebut Black Card.

Ini Daftar Negara Termiskin di Dunia, Ada Indonesia Gak Ya?

Setiap negara di dunia diklasifikasikan menjadi 3, yaitu negara miskin, berkembang, dan maju. Dalam klasifikasi ini setiap organisasi dunia memiliki indikatornya...