Sistem Analisa Skor Kredit untuk Ekonomi Inklusif

|

|

|

Sistem Kredit Skoring sebagai salah satu bentuk Mitigasi Risiko Berinvestasi di Amartha
Sistem Kredit Skoring sebagai salah satu bentuk Mitigasi Risiko Berinvestasi di Amartha.

Mayoritas Masyarakat Indonesia Belum Memiliki Rekening Bank

Di Indonesia, 78% masyarakatnya tidak memiliki rekening bank atau disebut unbanked, angka ini jauh di atas nilai median secara global yaitu 38%[1]. Hal ini menggambarkan ketidakmerataan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, sementara potensi ekonomi Indonesia cukup menjanjikan.

Masyarakat unbanked yang tidak mampu mendapatkan pelayanan perbankan tersebut, disebabkan oleh banyaknya daerah di Indonesia yang belum terjangkau layanan bank. Hal ini membuat mereka tidak layak mendapatkan fasilitas bank seperti pinjaman untuk modal usaha, sementara untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, mereka membutuhkan modal untuk melakukan usaha. Maka dari itu, penting untuk menyediakan akses keuangan yang dapat menjangkau mereka, masyarakat di piramida terbawah untuk dapat makin berdaya dan sejahtera.

Penilaian Risiko Kredit

Pada bank konvensional, untuk memberikan pinjaman pada pelaku usaha, bank melakukan analisa terhadap risiko kredit berdasarkan histori transaksi yang dilakukan oleh calon peminjam dan nilai agunannya. Bagaimana masyarakat unbanked ini bisa mendapatkan pinjaman sementara mereka tidak memiliki rekening yang membentuk histori transaksi ini dan juga tidak memiliki sesuatu untuk diagunkan?

Di Amerika Serikat, semua histori peminjaman masyarakat terekam dengan baik dan terpusat dengan mengacu pada nomor identifikasi sosial (Social Security Number) yang dimiliki oleh setiap penduduk yang pernah berpenghasilan di Amerika. Dari data ini diperoleh skor kredit yang sudah menjadi standard global, disebut dengan skor FICO. Hal ini mempermudah lembaga keuangan untuk mendapatkan nilai risiko kredit seseorang.

Di Indonesia sebenarnya sudah ada sistem serupa di bawah kendali Bank Indonesia yang disebut Sistem Informasi Debitur (SID). Sistem ini terdapat nilai skor kredit seseorang yang pernah bertransaksi di perbankan dan memiliki daftar hitam berisi informasi masyarakat yang memiliki skor kredit yang buruk. Namun, sistem ini hanya dapat menilai seseorang yang sudah terjangkau bank.

Dengan kata lain, belum ada standard nasional untuk masyarakat yang unbanked dalam menilai risiko kredit mereka di Indonesia. Di sini lah peran ARKANA, salah satu produk teknologi finansial yang dikembangkan oleh Amartha. ARKANA merupakan suatu sistem terintegrasi yang dapat memberikan analisa yang akurat terhadap nilai risiko kredit seseorang meskipun orang tersebut belum pernah terjangkau perbankan. Berbeda dengan sistem seperti SID yang mengandalkan histori transaksi perbankan, ARKANA menambahkan data survey psikometri dan survey kelayakan ekonomi sebagai bahan pertimbangan untuk menilai risiko kredit calon peminjam tersebut. Dengan menggunakan pendekatan mesin pembelajar (machine learning), ARKANA dapat menilai risiko kredit setelah mempelajari data dari calon peminjam di masa lalu.

ARKANA menghasilkan peringkat risiko kredit mulai dari kelas A, A-, B, B-, C, D hingga E. Pada platform Peer-to-peer lending Amartha, peringkat ini digunakan untuk menilai kredit (credit pricing) yang layak untuk diberikan kepada calon peminjam, yang mencakup Tenor, Rate, Installment, dan Plafond (TRIP).

Dengan sistem ARKANA ini, Amartha berhasil menekan risiko gagal dan telat bayar para peminjamnya. Hingga saat artikel ini diturunkan, Amartha berhasil mendanai lebih dari 41,000 masyarakat unbanked di Indonesia dengan total dana tersalurkan sebesar lebih dari 107 Milyar Rupiah.

Skor Kredit untuk Ekonomi Inklusif

Peringkat risiko kredit ARKANA telah memberikan wawasan kepada para investor mengenai peminjam yang akan didanai sehingga mereka dapat memilih calon peminjam yang layak, dan juga membuat para peminjam bersemangat dalam mengembalikan cicilannya supaya peringkat risiko kreditnya tetap terjaga dengan baik. Hal ini membentuk ekosistem yang saling mendukung antara borrower-investor.

ARKANA tidak hanya dapat digunakan untuk platform Peer-to-peer lending Amartha, namun nilai peringkat kredit yang dihasilkannya dapat digunakan oleh lembaga keuangan lain di Indonesia. Dengan semakin berkembangnya penggunaan ARKANA di wilayah-wilayah lain yang masih belum terjangkau perbankan, perwujudan perekonomian inklusif yang merata di Indonesia bukan sekedar impian.

[1] : Asian Development Bank, Financial Inclusion in Asia: An Overview, September 2015

LANGGANAN EMAIL MONEY+

DAPATKAN INFO TERBARU
TENTANG MONEY+

Team Money+
Money + is financial blog for everyday life. We cover a wide range of everyday life topics including technology, lifestyle, careers, sharia and women empowerment. We strive to make financial easy to understand and fun for everyone!

Related Articles

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Usaha yang Cocok di Tengah Pandemi Corona

Covid-19 atau virus corona sedang mewabah sehingga semua orang harus diam di rumah mengisolasi diri. Tapi kalau begini terus semua aktivitas jadi...

Semua Orang Bisa Jadi Sultan. Investasi di Amartha Mulai dari 100 Ribu Rupiah!

Good News From Amartha!  Dalam rangka mempercepat indeks inklusi keuangan di Indonesia sekaligus menjangkau lebih banyak pendana untuk mendorong...

Black Card, Bisa Punya Gak Ya?

Belum lama ini, muncul video viral di TikTok tentang charge card paling istimewa di Dunia yang disebut Black Card.

Ini Daftar Negara Termiskin di Dunia, Ada Indonesia Gak Ya?

Setiap negara di dunia diklasifikasikan menjadi 3, yaitu negara miskin, berkembang, dan maju. Dalam klasifikasi ini setiap organisasi dunia memiliki indikatornya...