Sikap Jakob Oetama, Pendiri Jaringan Media Terbesar di Indonesia Yang Patut Ditiru 

0
101
[ARSIP] Portrait foto Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta, Selasa (27/9/2016). Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama (88) meninggal dunia di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (9/9/2020).

Kabar duka kembali menyelimuti tanah air Indonesia. Jurnalis sekaligus pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama pada hari ini (9/9) meninggal dunia di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta. Jakob meninggal dunia karena mengalami gangguan multiorgan. 

Jakob Oetama dirawat di RS dalam kondisi kritis pada tanggal 22 Agustus 2020 lalu. Di tengah perawatan kondisinya sempat membaik namun kembali memburuk. 

Berikut sikap yang dimiliki Jakob Oetama dalam membangun Kompas hingga menjadi salah satu jaringan media besar di Indonesia:

Rendah Diri

Laki-laki kelahiran Magelang, 27 September 1931 ini memiliki cita-cita sebagai guru seperti yang dilakukan ayahnya. Namun, ia kemudian membelot dan memilih wartawan sebagai pekerjaan utamanya. Bersama teman seperjuangannya, Jakob mendirikan jaringan media terbesar di Indonesia dengan nama Kompas Gramedia.

Jakob Oetama dalam mendirikan Kompas sendiri fokus pada bagian editorial saja sementara temannya, PK Ojong yang mengurus bagian bisnis. Kepergian Ojong yang mendadak di tahun 1980 memaksa Jakob harus memikul beban dalam mengelola bisnis. 

Katanya, “Saya harus tahu bisnis. Dengan rendah hati, saya akui pengetahuan saya soal manajemen bisnis, nol! Tapi saya merasa ada modal, bisa ngemong! Kelebihan saya adalah saya tahu diri tidak tahu bisnis.” 

Nguwongke

Selama memimpin Kompas, Jakob dipandang oleh para karyawannya sebagai pemimpin yang nguwongke dan tidak pernah menonjolkan status atau kedudukannya. Jakob terus berpegang teguh pada nilai humanisme transendental yang ditanamkannya. 

Fokus pada Passion

Seperti yang disebutkan di atas bahwa Jakob dalam membangun kompas fokus pada bagian editorial. Hal ini bermula dari ketertarikannya dalam menulis setelah ia belajar ilmu sejarah.

Dalam perjalanan karirnya, Jakob mulai masuk ke dunia jurnalistik saat ia menjadi sekretaris redaksi mingguan di majalah Penabur pada tahun 1956. Dari sinilah ia kemudian menaiki karirnya sebagai pemimpin redaksi.

Selesai mendapatkan gelar sarjana, Jakob sempat bimbang akan masa depannya. Ia pun meminta saran dari Pastor Oudejans. “Jakob, guru sudah banyak, wartawan tidak.” Jawaban inilah yang mengubah hidup Jakob dan fokus membangun Kompas hingga sampai saat ini.

Baginya, Wartawan adalah Profesi, tetapi Pengusaha karena Keberuntungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here