////

Rasakan Pengalaman Baru di Amartha Village Tour

Menikmati alam pedesaan, membuat keset, melihat budi daya ikan dan pembuatan parang serta makan siang di desa Ciseeng, Bogor.

Terekam dalam ingatan ibu Apsiah (33) saat pertama kali merintis usaha ikan cupang dirumahnya. Kala itu, suaminya tidak mempunyai pekerjaan. Sang suami sulit untuk bekerja karena tidak memiliki ijazah sekolah. Alhasil, dia berangkat ke Jakarta untuk mengais rejeki dengan peri ke pasar Jatinegara. Awalnya, dia membawa beberapa ikan cupang ke rumah. Dia mulai belajar membudidayakan ikan tersebut. “Suami saya bawa 200 ekor ikan . Lalu, coba-coba dia piara,” kata Apsiah.

Kemudian, dia berusaha membeli beberapa ikan cupang melalui “petani” ikan. Lalu, ikan itu dijual kembali di Jakarta. “Saya dulu belum punya apa-apa dulu untuk memiliki ikan cupang. Jadi, saya beli lansung dari petani ikan. Saya jual ke Jakarta,” ungkap Apsiah.

Beberapa tahun, dia menjual ikan cupang tergerak hatinya untuk membudidayakan ikan tersebut. Namun, apa daya, dia tidak mempunyai modal untuk membangun usaha itu. Dia hanya bermodalkan uang dari arisan dari ibu-ibu di dekat rumahnya. “Uang arisan itu lama cairnya. Jadi, sulit buat modal. Lalu, saya dengar ada Amartha yang mampu memberi pinjaman modal tapi angsurannya murah. Saya akhirnya ikut Amartha,” jelasnya.

Dia meminjam uang ke Amartha untuk transportasi sang suami pergi ke Jakarta. Dia mengaku sangat sulit membawa ikan cupang ke Jakarta tanpa ada transportasi milik sendiri. Sang suami harus berjibaku dengan penumpang lain saat membawa ikan tersebut. “Dulu kemana-mana naik angkot (angkutan umum). Tapi sekarang sudah punya motor. Saya pakai duit dari Amartha untuk DP (Down Payment) motor,” ungkapnya.

Ibu Apsiah dan ratusan ikan hasil ternakannya

Ibu Apsiah dan ratusan ikan hasil ternakannya

Lama laun usahanya mulai berkembang, dia sudah bisa membeli tanah dan rumah. Bahkan, dia sudah memiliki kolam untuk ikan mas koki. Dia pun juga sudah mempunyai kios di Blok M dan Jatinegara. “Alhamdulilah setelah dibantu pinjaman oleh Amartha saya sudah bsa menambakan beberapa ikan cupang untuk dijual. Tapi ada impian lain yang saya inginkan yakni mempunyai tempat usaha di pinggir jalan. Ya semoga dengan semakin bertambahnya pinjaman saya mampu membeli tempat usaha lagi,” terangnya.

Pinjamannya terus bertambah sejak bergabung dengan Amartha pada 2011. Mulanya, dia hanya meminjam Rp 500.000. Kini, pinjamannya bertambah menjadi Rp 11 juta. Bahkan, beberapa tetangganya juga ikut membudidayakan ikan cupang saat melihat dirinya sukses membangun usaha tersebut. “Itu disebelah ada kolam ikan bukan milik saya tetapi tetangga. Ini juga di lapangan kolam milik tetangga. Mereka juga ikut-ikut budidaya ikan cupang setelah melihat saya usaha ikan itu. Ya, saya enggak apa-apa menularkan usaha ini. Ya, saling membantu lah,” ucapnya.

Hal yang sama juga dialami oleh Ibu Ratna (48) yang kini mampu merenovasi rumah dan membiayai kuliah anaknya. Usaha kesetnya melaju pesat setelah meminjam di Amartha. Bahkan, dirinya sudah memiliki usaha lain seperti sayuran dan ubi. “Saya jadi ingat masa lalu, anak saya ingin sekolah dan mondok tapi tidak punya uang. Kerja saya dan suami cuman serabutan jual ikan di pasar. Saya jualan ikan tanpa modal. Ambil orang ikannya lalu dijual jadi untungnya sedikit hanya cukup untuk makan sehari-hari,” katanya seraya berkaca-kaca.

Saat mendengar ada Amartha di desanya, dia berusaha meminjam untuk modalnya berusaha. Dia memilih untuk meneruskan usaha keset yang sudah dilakukannya sejak 1999. Sementara itu, sang suami tetap berjualan sayuran dan buah-buahan. “Saya sudah mulai usaha sejak 1990. Pernah mengalami beberapak kali gagal. Dari berdagang tahu hingga warung sembako. Akhirnya saya mantap dengan jualan keset,” jelasnya.

Keset dari bahan baku kain sisa konveksi

Keset dari bahan baku kain sisa konveksi

Dia sangat bersyukur dengan kehadiran Amartha. Saat ini, dia sudah bisa meminjam sebesar Rp 10 juta. Padahal, dahulu dia mulai meminjam sebesar Rp 500.000 pada 2011 lalu.Begitu juga dengan ibu Lilis (40) yang memiliki usaha parang, golok dan celurit. Dia memiliki pengalaman buruk meminjam uang di renteiner. “Dulu saya pernah meminjam uang dengan orang. Saya pinjam terus setor uang ke dia. Ternyata, dia membawa uang itu dan kabur dari desa ini. Saya kapok. Akhirnya, saya pinjam di Amartha. Saya terbantu dengan pinjaman ini. Dapat kembangkan usaha saya dan biaya kuliah anak saya,” ucap Lilis.

Sangat menarik cerita-cerita ibu tersebut dalam menjalani usahanya. Anda pun dapat bertemu lansung dengan ibu-ibu itu dengan mengikuti A Village Tour yang diselenggarakan pada 21 Juli 2018 di desa Ciseeng, Bogor hanya dengan Rp 175.000. Anda dapat merasakan lansung pembuatan keset, parang serta budidaya ikan cupang serta menikmati keindahan alam pedesaan. Makan siang bersama warga desa dan mendapat oleh-oleh dari ibu tersebut. Menarik bukan? Daftar sekarang di http://bit.ly/AVillageTour              

(Hans Arthur)

Please follow and like us:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

FACEBOOK
FACEBOOK
GOOGLE
GOOGLE
https://blog.amartha.com/rasakan-pengalaman-baru-di-amartha-village-tour">
LINKEDIN
%d bloggers like this: