Tak Sekedar Pinjaman Modal Usaha, Amartha Dampingi Mitra Hingga Sukses Meski Berkali Gagal

3
48

Demikian banyak masayarakat pedesaan yang membutuhkan modal untuk usaha dan pemberian pinjaman modal usaha lunak yang berdampak sukses diberikan amartha.com

Menjadi perusahaan Financial Technology (FinTech) yang telah melayani lebih dari 20 ribu anggota, Amartha selalu memberikan pendampingan terbaik untuk kemajuan para pengusaha UKM binaannya. Salah satunya dirasakan Onih (39), yang telah bergabung dengan Amartha sejak 2012.

Dengan pinjaman modal usaha 500 ribu dari Amartha, Onih mengawali bisnis pertamanya dengan berjualan gorengan dan nasi uduk. Namun, keberuntungan belum menghampirinya lantaran banyaknya saingan.

Bersama suaminya yang berprofesi sebagai security, ia pun banting stir menjadi peternak lele.

Untuk membesarkan usahanya Onih menginvestasikan pinjaman modal usaha dari Amartha di tahun kedua, ketiga, dan kempat, masing-masing Rp 1.500.000, Rp 3.000.000, dan Rp 3.000.000 untuk budidaya lele.

Namun ternyata keberuntungan masih belum juga menghampirinya. Musim kemarau membuat usaha budidaya lele Onih bangkrut setelah gagal panen dan banyak lele yang mati.

Kegagalannya dalam usaha budidaya lele yang telah dirintisnya selama tiga tahun tidak lantas membuat ibu dua anak ini menyerah. Dengan sisa pinjaman modal usaha terbatas yang ia miliki, dia pun kembali merintis usaha baru.

“Waktu itu pinjaman modal usaha saya abis, saya muter-muter cari ide, apa ya yang bisa dibikin dengan modal kecil. Akhirnya saya mutusin untuk mulai nganyam keset,” ujar Onih menceritakan pengalaman bisnisnya.

Ide bisnis itu didapatkan Onih dari pengalaman dahulu bekerja sebagai seorang buruh anyaman dengan upah 1.500/keset.

Kini, dengan pinjaman modal usaha dan pendampingan usaha dari Amartha usaha Onih mulai berkembang. Bahkan dia telah mempekerjakan tujuh orang buruh anyam.

Semua Demi Pendidikan Anak

Sebagai seorang security, Gaji suami Onih tergolong lumayan, 3 juta rupiah per bulan. Namun, ia ingin punya pendapatan lebih. Motivasinya untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga kuliah menjadi semangatnya untuk terus berusaha.

Anak pertamanya berusia 23 tahun, sebelumnya bekerja sebagai OB di sekolah swasta. Sekarang ini anaknya diangkat sebagai tenaga pendidik tambahan di bidang seni karena keahliannya.

Kepada anak pertama, ia sangat mendukung keinginannya untuk kuliah, dibuktikan dengan rajinnya Onih menabung di Amartha.

Sementara itu anak keduanya masih duduk di bangku SMK. Demi sang anak kedua, Onih tidak segan membayarkan kebutuhan ekstrakulikuler Paskibra yang digemari anaknya.

Kebanggaan dirasakan Onih ketika mengetahui tim Paskibra sekolah anaknya berhasil menjuarai perlombaan setingkat kabupaten.

Berbisnis Untuk Menciptakan Lapangan Pekerjaan

Onih adalah sosok pengusaha yang ulet meski beberapa kali gagal menjalankan bisnis. Selain itu ia juga seorang yang peduli dengan lingkungan sekitar.

Tidak mau sukses sendirian, Onih juga mengajak saudaranya menganyam keset. Dalam benaknya, dia berharap agar usahanya bisa terus berkembang dan mempekerjakan lebih banyak orang.

Onih ingin melihat lebih banyak lagi ibu yang tidak menganggur dan ikut menganyam bersama dirinya. Menurut Onih dengan menciptakan peluang, ia bisa mengajak orang lain lebih maju, seperti dirinya sekarang ini.

“Seperti keset, orang awalnya pasti selalu melihat sulit untuk dikerjain, tetapi kalau udah biasa, akhirnya ya sederhana. Di usaha juga gitu, proses pasti ada,” cerita Onih sembari memainkan jari-jari lincahnya menganyam satu demi satu perca di atas karung goni.

Butuh Modal Untuk Mengembangkan Usaha

Dengan sisa pinjaman modal usaha terbatas, kain perca yang diambilnya dari Cilangkap disulapnya menjadi sebuah anyaman keset nan cantik.

Bila dulu ia hanya mampu memenuhi satu kodi setiap minggunya. Sekarang ini, dengan tujuh orang buruh anyam, Onih telah bisa memenuhi permintaan hingga sembilan puluh keset per minggu.

Onih ingin sekali mengembangkan usahanya. Ia ingin bisa berbelanja kain perca dan karung goni langsung dari Tanah Abang. Tujuannya tidak lain untuk menurunkan biaya bahan baku.

“Saya ingin menyetok kain perca dan punya gudang di samping rumah. Jadi saya gak perlu mondar-mandir belanja. Dengan begitu juga, siapapun orang yang mau ikutan nganyam bisa gabung,” ujarnya.

Selama ini, tambah Onih, terkadang beberapa pesanan tidak dapat diterima karena kehabisan stock bahan. “Selain itu juga, saya terpaksa ngerem karena kalau tetep dikerjain saya belum punya cukup modal usaha untuk bayar upahnya,” tutur Onih.

Dari hasil kerja kerasnya itu, Onih bisa memperoleh pendapatan sebesar Rp 450.000 per minggu. Pendapatan tersebut ia putar lagi untuk membeli bahan baku, membayar buruh, sisanya ia tabung untuk sekolah anak.

Onih berhasil membuktikan bahwa dengan ketekunan dan kerja keras bisa merubah nasib seseorang bahkan berdampak sosial.

Mau seperti Onih? Ayo ajukan pembiayaan untuk kebutuhan modal usaha di Amartha!

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here