Pantang Berhenti di Tengah Pandemi, Mitra Amartha Raih Pendapatan 200 Persen

0
98

Sudah setahun sejak pemerintah mengumumkan kemunculan kasus pertama COVID-19 di Indonesia. Sejak saat itu, jutaan orang harus melalui peralihan aktivitas secara offline menjadi online. Tidak hanya sampai disitu, banyak juga individu yang sampai kehilangan pekerjaannya.

Dampak pandemi ini dirasakan tidak hanya oleh orang di kota tetapi juga mereka yang berada di pelosok desa. Kondisi yang terpuruk ini tidak memiliki kejelasan sampai kapan akan terjadi sehingga semua orang mulai bangkit dan menciptakan fase new normal-nya sendiri.  

Ibu Dian merupakan salah satu #PerempuanTangguh Amartha yang tidak membiarkan dirinya ikut terpuruk akibat COVID-19. Tidak dapat dipungkiri bahwa saat COVID-19, usaha katering yang dimiliki Bu Dian sempat mengalami penurunan yang sangat drastis. 

Sebelum ada pandemi, Ibu Dian aktif berjualan katering di sekolah-sekolah sehingga ia bisa mendapatkan pemasukan setiap harinya. Akan tetapi, sejak semua aktivitas dilakukan di rumah, Bu Dian hanya dapat berbisnis katering jika ada acara (hajatan) di daerahnya. Dengan demikian, pemasukannya pun menjadi tidak pasti. 

Ibu Dian tidak hanya tinggal diam dan menunggu pandemi berlalu. Termotivasi dengan perlunya membantu keuangan keluarga menjadi alasannya untuk berani ambil risiko dan mencoba bisnis lain, yakni usaha kredit.

Ibu Dian merasa kredit barang menjadi peluang usaha karena meski perekonomian saat pandemi sulit, orang-orang di sekitarnya masih butuh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, misalnya peralatan dan perkakas rumah tangga.

Oleh karena itu, ia melihat bahwa masyarakat sekitar lebih memilih untuk belanja secara kredit ketimbang kontan, karena belanjaannya bisa dicicil dan tidak mengganggu pengeluaran pada aspek lainnya. 

“Awalnya sih coba-coba, karena usaha kateringnya gak terlalu bagus, lalu pindah ke kreditan itu mencobalah tapi taunya lancarlah sampai sekarang.” ujarnya.

Untungnya, usaha kredit yang dijalankannya sekarang lebih lancar ketimbang kateringnya. Ibu dian mengakui bahwa saat usaha katering, setiap hari ia menyiapkan 100 boks makanan dengan harga Rp150.000. Ketika beralih menjadi usaha kredit barang, keuntungan yang didapat meningkat hingga Rp3.000.000 per harinya. Wow, naik hingga 200% dari pendapatan harian awalnya!

Namun dibalik itu, Ibu Dian juga menghadapi tantangan baru. Dengan sifat usahanya yang berbeda jauh dibanding katering yang langsung bisa menyajikan dan menjual makanannya, usaha kreditan ini membuat Ibu Dian harus pintar-pintar melihat orang yang melakukan kredit. 

Menurutnya, nasabah yang dicari benar-benar yang amanah dalam melakukan pembayaran. Tidak hanya menciptakan penghasilan baru, usaha ini juga membuat Bu Dian mendapatkan keahlian yang baru untuk mampu waspada dan memahami niat calon pembeli. 

Kedepannya, Bu Dian ingin supaya usahanya yang baru ini bisa lebih lancar, berkah, dan semakin berkembang. Bu Dian berpesan semoga Amartha semakin berkembang, sukses, dan tidak kapok untuk memberikan modal kepada para ibu mitra. Yuk, kita beri apresiasi terbesar pada para ibu mitra yang sudah berjuang melawan pandemi ini!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here