//

Pendekatan Lokal Untuk Masyarakat Unbanked di Indonesia

AmarthaIndonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia, dengan total penduduk sebesar 258.316.051 jiwa atau setara dengan rasio 3,5%, dari jumlah penduduk dunia.

Menjadi negara dengan jumlah penduduk yang padat, membuat Indonesia tak luput dari celah kemiskinan. Pada Maret 2016, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,01 juta orang (10,86 persen). (BPS 2016)

Berbicara mengenai kemiskinan di Indonesia, tentu tidak terlepas dari sulitnya akses keuangan dan permodalan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Khususnya mereka, masyarakat prasejahtera yang sebagian besar tinggal di wilayah pelosok pedesaan. Akses keuangan dan permodalan, menjadi barang mewah yang sulit untuk didapatkan oleh masyarakat golongan ini, mengingat bahwa tidak semua wilayah di Indonesia terjangkau dengan layanan perbankan.

Hal ini sejalan dengan data dari Findek Bank Dunia 2014, bahwa jumlah penduduk Indonesia yang telah memiliki rekening di lembaga keuangan formal hanya sekitar 36%, sisanya yaitu 64% penduduk Indonesia tidak punya rekening dan akses terhadap lembaga keuangan formal. Tak heran, tercipta kesenjangan yang kemudian menghambat masyarakat dari lapisan tersebut, untuk ikut menikmati tingkat kesejahteraan yang makin bertambah setiap tahunnya.

Maka dari itu, melalui pendekatan yang berkelanjutan dengan menitik beratkan pada pemerataan akses ekonomi, yang bermuara pada inklusi ekonomi di Indonesia, pendampingan dan pemberian akses dalam hal pemodalan yang terjangkau bagi masyarakat dalam golongan ini, dirasa menjadi jawaban yang tepat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan bagi segenap masyarakat Indonesia.

Salah satu skema yang dapat diterapkan ialah melalui Grameen Bank yang dapat menjangkau hingga masyarakat akar rumput.

Amartha mencoba mengkolaborasikan skema Grameen Bank ini dengan platform peer-to-peer lending (P2P), dimana kebutuhan permodalan kecil dan mikro yang tidak bisa dilayani oleh perbankan formal, dapat terpenuhi.

Amartha mempertemukan investor, yang dalam hal ini berperan sebagai pemodal, dengan calon peminjam untuk didanai. Dengan sentuhan teknologi dalam setiap prosesnya, memberikan kemudahan dan efisiensi pada kegiatan berinvestasi dengan platform peer-to-peer lending ini.

Seluruh proses dalam kegiatan investasi hingga pemberian modal usaha kepada calon peminjam, diikuti dengan sistem yang telah terintegrasi, salah satunya ialah kegiatan pendampingan oleh para field officer Amartha kepada peminjam, dimana hal ini menjadikan kami mampu menekan NPLs hingga 0% dalam kurun waktu 7 tahun ini.

Pendampingan yang dimaksud ialah bagaimana field officer Amartha dapat menjadikan para peminjam untuk mampu memahami hak dan kewajiban mereka, sehingga para peminjam dapat menjalankan kewajibannya, yaitu melakukan angsuran secara tepat waktu. Selain itu, pendampingan yang diberikan tidak melulu tentang pinjaman dan angsuran, namun ada pula kegiatan sharing serta home visit yang dilakukan oleh field officer apabila terjadi kendala pada peminjam.

Skema Pendampingan

Dalam melakukan pendampingan, tentu tidak semerta-merta dilaksanakan secara spontan. Terdapat 3 hal dasar yang menjadi Local Approach bagi field officer Amartha kepada para peminjam, yang sebagian besar adalah masyarakat pedesaan dengan segla keterbatasan akses modal. Hal tersebut antara lain memberikan literasi keuangan, menawarkan kesempatan melakukan pinjaman serta aktifitas sosial.

Hal pertama ialah pemberian literasi keuangan, yang berhubungan dengan pengenalan cara pengelolaan keuangan, pengelolaan keuangan bisnis dan pribadi, pengambilan keputusan, serta pengelolaan risiko. Pengenalan cara mengelola uang ini, akan dibagi menjadi dua hal yakni keuangan pribadi/keluarga dan juga keuangan usaha para peminjam.

Kemudian, pengelolaan keuangan bisnis dan pribadi berhubungan dengan bagaimana peminjam mampu melakukan management keuangan harian, mingguan dan bulanan, mencatatan cash flow harian serta perhitungan laba dan rugi dari usaha yang dijalankan.

Pengambilan keputusan sendiri berhubungan saat calon peminjam menentukan atau mengambil keputusan untuk meminjam atau tidak. Karena field officer memberikan pendampingan secara menyeluruh, mulai dari sebelum melakukan pinjaman juga setelah melakukan pinjaman. Terakhir ialah pengelolaan risiko yang berhubungan dengan kebutuhan akan asuransi, dimana setiap peminjam diberikan edukasi risiko yang mungkin terjadi sepanjang proses peminjaman. Sehingga asuransi dirasa penting untuk diadakan.

Kedua ialah penawaran kesempatan untuk melakukan pinjaman. Field officer Amartha juga bertanggung jawab untuk memberikan penawaran kepada calon peminjam, untuk mendapatkan pembiayaan dari Amartha.

Mitra Amartha adalah mereka, masyarakat prasejahtera yang tinggal di pelosok pedesaan, dimana mereka tidak mendapatkan fasilitas pelayanan perbankan, tidak memiliki dokumen bisnis yang legal, dan memiliki kewajiban untuk membentuk sebuah grup, sebagai entitas dasar yang akan melekat pada peminjam. Tujuannya adalah, agar tercipta kepercayaan dalam mengelola angsuran dengan berbasis kelompok tersebut.

Keuletan dan semangat mereka untuk ikut mewujudkan ekonomi inklusif, terlihat jelas pada seluruh aspek dan tanggung jawab yang mereka lakukan. Berbagai halangan dan rintangan, mulai dari jarak, cuaca dan kondisi geografis lapang, sama sekali tidak menjadi beban dan hambatan bagi field officer untuk terus datang dan mendampingi para mitra Amartha. Field officer adalah garda terdepan yang terjun langsung dan berhadapan dengan mitra Amartha di lapangan.

Terakhir adalah aktifitas sosial. Hal ini berhubungan dengan berbagai kegiatan sosial yang dilaksanakan oleh Amartha, dimana field officer bertugas untuk mendukung dan mensukseskan kelangsungan acara yang telah dibuat. Contoh aktifitas sosial ini seperti pengenalan terhadap nutrisi, menjaga kebersihan, program pemeriksaan kacamata, dan lainnya. Kedekatan yang tengah terjalin antara mitra dan field officer akan memudahkan komunikasi dan koordinasi dalam rangkaian acara, sehingga mitra yang dilayani dapat memanfaatkan kegiatan dengan maksimal.

Harapan ke Depan

Berhasil melakukan pendampingan dengan implementasi pendekatan lokal pada mitra Amartha, membuktikan bahwa field officer Amartha memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk melaksanakan pendampingan dengan tepat.

Tak jarang, mereka juga dijadikan tempat berkeluh kesah dan penasihat bagi para mitra Amartha di lapang. Mulai dari urusan angsuran hingga perkembangan usaha. Dengan kerja keras dan ketekunan, saat ini Amartha mantap memperluas jangkauannya, hingga di seluruh pulau Jawa.

Kedepannya, field officer ini akan menjadi tempat untuk bertukar informasi bisnis bagi para mitra Amartha. Dimana pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan field officer, menjadi dasar untuk melayani mitra dengan setulus hati. Memajukan usaha di sektor informal, dan mempercepat roda ekonomi nasional. Bersama Amartha, terus semangat menebar semangat ekonomi inklusif demi kemajuan perekonmian Indonesia di masa depan.

Please follow and like us:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

FACEBOOK
FACEBOOK
GOOGLE
GOOGLE
https://blog.amartha.com/pendampingan-pada-masyarakat-prasejahtera">
LINKEDIN
%d bloggers like this: