Home Business Pemilu Amerika Serikat dan Dampaknya Bagi Ekonomi Indonesia

Pemilu Amerika Serikat dan Dampaknya Bagi Ekonomi Indonesia

|

|

|

Hari ini Amerika Serikat kembali menggelar pemilihan presiden (Pilpres) elektoral dengan kandidat Joe Biden melawan Donald Trump. Siapapun yang menang nantinya, mereka akan menjadi salah satu bagian penentu dalam perekonomian di ranah global.

Donald Trump sendiri merupakan perwakilan dari Partai Republik yang pada kampanye kali ini membawa slogan American First. Sementara Joe Biden dari Partai Demokrat membawa slogan Made in All of America.

Melansir akun Instagram asumsico, menurut Sydney Morning Herald, Trump sebenarnya belum menegaskan secara persis kebijakan yang akan ia kejar kalau terpilih di periode kedua. Namun, ada dua hal yang seringkali ia gembar-gemborkan yaitu vaksin Covid-19 akan segera datang untuk menyudahi pandemi, dan tahun 2021 akan menjadi tahun pertumbuhan ekonomi terbagi bagi Amerika Serikat dan juga sepanjang sejarah.

Lalu apa kebijakan luar negeri yang akan dilakukan Trump?

Ada tiga pola kebijakan luar negeri yang diprediksi akan dilakukan dari periode pertama, yaitu akan melanjutkan “perang dingin” jilid II dengan Cina, akan terus bermesraan dengan pemimpin negara yang terkenal otoriter seperti Rusia dan Korea Utara, dan akan menafikan kesepakatan internasional dan mendorong AS bertindak seenaknya sendiri. 

Biden sendiri dalam kampanyenya mengatakan ingin menonjolkan keinginan kembali bekerjasama dengan negara lain dan mengubah bentuk kerjasama dengan sekutu-sekutu AS.

Biden juga kemungkinan besar akan kembali bernegosiasi soal perubahan iklim di forum PBB, mengangkat lagi wacana demokrasi HAM di tingkat internasional, dan bekerjasama lagi dengan Jepang, Australia, hingga Uni Eropa dalam format yang sebelumnya dikenal.

Kandidat Mana Yang Menguntungkan Bagi Ekonomi Indonesia?

Ekonom dari Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira mengatakan kembalinya Trump ke Gedung Putih dan potensi perang dagang AS dan Cina telah menyebabkan guncangan besar baik secara langsung maupun tidak langsung pada Indonesia.

Amerika Serikat juga melakukan pengetatan terhadap barang-barang impor dari negara-negara selain dari Cina. Artinya Indonesia ditargetkan sebagai negara yang mengalami penyesuaian hambatan dagang, baik tarif maupun non tarif,” katanya seperti dilansir di kompas.com.

Pengenaan bea masuk ini membuat produk Indonesia menjadi tidak kompetitif karena harga produk yang diekspor akan lebih mahal sehingga dikhawatirkan akan kalah bersaing.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Shinta Kamdani memandang Indonesia bukan mitra dagang yang cukup signifikan bagi AS. Sebab bagi AS, Indonesia adalah mitra dagang ke-50 dalam daftar mitra dagangnya.

Bagi Indonesia, AS adalah salah satu tujuan utama ekspor nonmigas (produk pakaian, hasil karet, alas kaki, produk elektronik, dan furniture) selain Cina dan Uni Eropa. 

Akan tetapi, bila terpilihnya Trump dan memanasnya perang dagang dari Cina bisa dijadikan peluang menurut Shinta. Bea masuk yang tinggi bagi produk impor dari Cina akan semakin memberatkan investor asing yang memiliki pabrik di Cina. Hal itu membuat mereka terpaksa melirik negara lain yang mampu menampung mereka menjadi investor.

“Kami melihat ini sebagai peluang untuk mengambil alih, makanya kita selalu ngomong relokasi pabrik dari China, ini yang sekarang kita ambil tidak hanya dari Amerika Serikat, Korea, Jepang, dan lain-lain.” ujar Shinta yang juga merupakan Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO).

Bhima pun menyatakan bahwa posisi Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN membuat Indonesia menjadi pasar dagang dan tujuan investasi yang potensial terlepas dari siapapun presiden yang memimpin AS. 

Ahmad Malik Zaini, ekonom dari Samuel Sekuritas Indonesia mengutip dari bbc.com, mengatakan bila Biden terpilih, perang dagang AS dan Cina akan diatasi secara multilateral melalui organisasi perdagangan dunia.

“Kalau Biden yang terpilih, mungkin isu perang dagang antara AS dan China akan lebih sedikit mengalami penurunan tensinya. Jadi pertumbuhan ekonomi akan lebih kencang, harga komoditas dunia seperti nikel, minyak, CPO, juga logam seperti emas akan lebih tinggi ketimbang kalau Trump yang terpilih.” jelasnya. 

LANGGANAN EMAIL MONEY+

DAPATKAN INFO TERBARU
TENTANG MONEY+

Eri Tri Angginihttp://museumberjalan.id
Lulusan Ilmu Sejarah yang nyasar ke financial services. Kindly check museumberjalan.id untuk dapatkan informasi seputar sejarah & sosial budaya.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Usaha yang Cocok di Tengah Pandemi Corona

Covid-19 atau virus corona sedang mewabah sehingga semua orang harus diam di rumah mengisolasi diri. Tapi kalau begini terus semua aktivitas jadi...

Ini Daftar Negara Termiskin di Dunia, Ada Indonesia Gak Ya?

Setiap negara di dunia diklasifikasikan menjadi 3, yaitu negara miskin, berkembang, dan maju. Dalam klasifikasi ini setiap organisasi dunia memiliki indikatornya...

Apa Itu TKB90 dan TKW90?

Amartha terus menjalankan prinsip transparansi kepada masyarakat dengan mencantumkan Tingkat Keberhasilan 90 (TKB90) di halaman utama website Amartha.com. Dengan transparansi ini, pemberi pinjaman akan...

Butuh Dana Cepat? Ini Pilihan Pinjaman Syariah Bebas Riba

Perlu modal besar untuk buka usaha? Pinjam ditempat lain tapi takut riba? Kamu tidak usah khawatir, pasti saja ada solusinya. Kini ada...