Menyaksikan Ibu Pengrajin Amartha Sambil Menikmati Alam Pedesaan

Menikmati keindahan alam pedesaan yang sunyi sambil menikmati suasana dan pemandangan yang khas seperti sawah dan perkebunan sambil makan siang bersama warga desa. Bahkan, Anda juga dapat menyaksikan dan ikut serta dalam kesibukan warga desa. Menarik bukan?

Ya, Anda bisa menikmati semuanya dalam Amartha Village Tour, sebuah aktivitas bulanan yang diinisiasi oleh salah satu pionir financial technology (fintech) atau tekfin (teknologi finansial) Indonesia, Amartha. Amartha Village Tour merupakan salah satu media yang digunakan Amartha untuk memberi kesempatan pada masyarakat luas agar lebih mengenal proses dan dampak sosial yang dihasilkan dari aktivitas pendanaan melalui platform Amartha. Acara yang rencananya akan kembali digelar pada 24 Maret 2018 ini akan bertempat di desa Kemang, Bogor, Jawa Barat

Anda akan melihat lebih dekat, bahkan dapat terlibat secara lansung dalam membuat produk-produk para ibu pengrajin Amartha. Dengan semangat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, Amartha mendukung pendanaan bagi pengusaha mikro perempuan untuk sektor produktif, seperti perdagangan, pertanian dan peternakan serta industri rumah tangga. Hingga tahun 2017, Amartha telah menyalurkan lebih dari Rp.225 milyar kepada 70,977 usaha di lebih dari 500 desa di Jawa, dengan tetap menjaga tingkat ketepatan waktu pembayaran di atas 99,7%.

“Kami menghubungkan para wirausaha mikro perempuan di pedesaan yang membutuhkan dana usaha dengan orang-orang baik di kota yang ingin membantu mendanai usaha mereka. Ternyata, antusiasme masyarakat demikian besar. Di tahun 2017 ini, sebanyak 9.833 orang pendana (lenders) mempercayakan investasi mereka ke Amartha, naik tiga belas kali lipat dari 748 orang di tahun sebelumnya,” kata Andi Taufan Garuda Putra selaku Founder dan CEO Amartha di Jakarta, belum lama ini.

Amartha sendiri merupakan tekfin yang bergerak di Peer-to-Peer (P2P) lending. Dengan P2P lending, perusahaan yang berdiri sejak 2010 ini memanfaatkan teknologi itu untuk meningkatkan efisiensi operasional sehingga dapat menjangkau desa-desa terpencil dan memproses pengajuan dana dengan lebih cepat. Mengadopsi sistem pendanaan berkelompok dan tanggung renteng (Grameen Model), Amartha juga memiliki tim lapangan untuk mendampingi dan mengedukasi mereka.

Menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi keuangan (SNLIK) yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di tahun 2016, menemukan bahwa indeks inklusi keuangan Indonesia baru mencapai 67,82%. Ini menunjukan bahwa masih terdapat lebih dari 30 persen masyarakat Indonesia yang belum memiliki akses keuangan, khususnya mereka, masyarakat prasejahtera yang sebagian besar tinggal di wilayah pelosok pedesaan.

Dengan menghubungkan pendana yang sebagian besar tinggal di perkotaan dengan mitra usaha prasejahtera di pelosok desa, lanjut Andi, Amartha menempatkan diri sebagai perantara dalam membantu pendana yang ingin memberikan dana kepada mitra usaha perempuan di pelosok desa yang bertekad untuk meningkatkan taraf hidup keluarga mereka. “Platform P2P lending memungkinkan sumber pendanaan yang lebih terbuka dan demokratis, sehingga menciptakan kesempatan yang lebih besar bagi mitra usaha di desa untuk mendapatkan pendanaan yang terjangkau,” terang Andi.

Tentunya, Andi menambahkan, hal ini tidak hanya memberi manfaat bagi pendana yang akan menerima keuntungan finansial, tetapi juga kesempatan bagi mitra usaha untuk meningkatkan pendapatan mereka sehingga bisa membiayai anak-anak bersekolah, rumah yang lebih layak serta nutrisi yang lebih baik.

“Melalui konsep P2P yang menciptakan keterhubungan antara desa dan kota tersebut, Amartha mendorong terciptanya potensi-potensi ekonomi baru di desa, seperti lilin-lilin yang digambarkan oleh Bung Hatta sebagai cahaya yang menerangi Indonesia. Menciptakan kebahagiaan yang lebih merata, melalui pendanaan yang berdampak sosial,” tutup Andi.

Dengan kegiatan A Village Tour ini, menurut Relationship Manager Amartha, Dede Kurnia Bowo, Amartha menjadi P2P lending Indonesia pertama yang melakukan pendekatan kreatif dalam mengkomunikasikan visinya lewat berbagai kegiatan unik yakni mengajak masyarakat luas untuk turut berpartisipasi dalam mendorong para pengusaha kecil dan mikro menjadi makin mandiri dan berdaya.

“Anda akan menyaksikan dan merasakan secara lansung kesederhanaan dan perjuangan mereka, para ibu mitra Amartha yang Anda danai, juga mendapatkan pengalaman  yang mendalam dan tak terlupakan bagi hidup Anda,” kata Dede.

Salah satu pendana Amartha, Melissa Eveline yang telah mengikuti village tour beberapa waktu lalu mengatakan kebahagiaannya dapat mengikuti kegiatan ini. Pasalnya, dia menjadi mengenal kehidupan para ibu pengrajin Amartha serta dampak sosial berkat pendanaan ini.

“Terkadang sebagai orang Kota yang dimanjakan dengan berbagai kemudahan membuat saya lupa masih banyak saudara kita yang harus berjuang keras dengan keterbatasan, melalui program Amartha Visit Village ini menyadarkan saya bahwa saya juga dapat membantu dan menyejahterakan mereka. Saya dengan senang hati menjadi bagian dari visi Amartha untuk melakukan pendanaan, yang berdampak bagi saya dan orang lain, terima kasih Amartha,” kata Melissa.

Inilah hal yang mendasari pemilihan Amartha Village Tour sebagai kegiatan rutin yang diadakan oleh Amartha ke depan dalam rangka memfasilitasi masyarakat luas, khususnya para pendana, untuk merasakan dan melihat secara langsung perjuangan dari masyarakat di piramida terbawah dalam meraih kehidupan yang lebih sejahtera.

Nah, semakin penasaran kan bagaimana keseruan Amartha Village Tour ini? Segera daftarkan diri Anda di bit.ly/AVillageTour

Please follow and like us:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

FACEBOOK
FACEBOOK
GOOGLE
GOOGLE
https://blog.amartha.com/menyaksikan-ibu-pengrajin-amartha-sambil-menikmati-alam-pedesaan">
LINKEDIN
%d bloggers like this: