Mengenal Quiet Quitting Tren Bekerja Secukupnya

0
280
Ilustrasi quiet quitting. sumber: www.istockphoto.com
Ilustrasi quiet quitting. sumber: www.istockphoto.com

Quiet quitting adalah suatu fenomena yang saat ini tengah tren di kalangan pekerja. Terutama mereka yang berasal dari generasi Y dan Z. Fenomena satu ini adalah dampak dari adanya kebiasan kerja yang terbangun semenjak pandemi berlangsung, yaitu work from home

Jadi, sejak adanya sistem kerja secara WFH atau bekerja di rumah, maka jam kerja menjadi tidak karuan dan menimbulkan pemikiran baru yang mengubah pandangan pekerja. Jika kamu belum mengetahui tentang fenomena atau tren satu ini, maka sebaiknya ikuti informasi berikut!

Apa itu Quiet Quitting?

Singkat kata, fenomena satu ini biasa diartikan sebagai berhenti secara diam-diam. Akan tetapi, ia sama sekali tidak berhubungan dengan proses berhenti atau resign dari pekerjaan atau posisi yang tengah ditanggung.

Jadi, bisa dibilang bahwa quiet quitting adalah cara sehat supaya bisa bertahan untuk bekerja. Lebih jelasnya, fenomena yang sedang tren satu ini merupakan sebuah gerakan kesadaran bagi pekerja untuk bekerja secara wajar. 

Mengenal Lebih Dalam Fenomena Quiet Quitting (Kerja Sewajarnya) 

Perlu kamu ketahui, fenomena satu ini muncul dari kalangan pekerja yang berasal dari generasi Y dan Z Amerika Serikat sebagai suatu pemahaman baru. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, paham satu ini muncul karena adanya kebijakan bekerja di rumah. 

Jadi fenomena quiet quitting ini berasal dari banyak pekerja yang kini menyadari bahwa kerja terus-terusan dan tidak mengenal waktu tidaklah membawa dampak yang baik untuk mereka, khususnya karir. Mereka pun sadar bahwa produktivitas bukan segala-galanya. 

Intinya, fenomena yang sedang tren ini memberi paham pada pekerja muda untuk sebaiknya bekerja dengan porsi wajar. Jadi, mereka yang setuju dengan paham kerja sewajarnya ini akan menolak lembur dan menegaskan jam kerja yang mereka bisa. 

Dengan kata lain, tren di dunia kerja ini membawa mereka untuk lebih berani mengabaikan panggilan bos serta hal apapun terkait pekerjaan di luaran jam kerja. Selain itu, para pekerja tersebut pun lebih sedikit mengambil peran agar bisa menghindari pekerjaan tambahan.  

Bisa dibilang bahwa kerja sewajarnya ini adalah bukanlah paham yang mengajak untuk berhenti dari pekerjaan secara diam-diam. Akan tetapi, ini lebih pada bagaimana para pekerja bisa survive atau bertahan di tengah gempuran produktivitas yang dapat memicu kelelahan. 

Baca Juga: Inilah 5 Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja

Jadi, bisa dikatakan juga bahwa paham quiet quitting ini merupakan lawan dari hustle culture yang mendewakan produktivitas secara berlebihan. Dimana paham satu ini pun pernah digandrungi para pekerja dan menjadi tren di masyarakat dalam kurun waktu tertentu.

Saat ini, para pekerja yang menerapkan paham kerja sewajarnya pastinya menolak hustle culture, sebab paham satu ini bisa memberi tekanan berlebih agar terus-terusan bekerja serta lebih sibuk ketimbang orang lain, dan menganggapnya wajar. 

Lalu, untuk bentuk konkretnya sendiri, paham quiet quitting atau kerja sewajarnya ini menciptakan suatu kebiasaan yaitu bekerja seperlunya saja, dengan kata lain yaitu bekerja secara optimal sesuai tanggung jawab dan jam, dan tidak terlalu pusing tentang jenjang karir.

Menimbulkan Perdebatan 

Sudah bisa ditebak bahwa paham satu ini akan memicu perdebatan di kalangan profesional. Khususnya para pekerja yang telah memiliki jenjang karir tinggi. Seperti biasa, mereka terbagi menjadi 2 golongan yaitu yang ‘mengkritisi’ dan ‘mendukung’.

Bagi mereka yang tidak atau kurang setuju dengan paham satu ini, maka bisa menganggapnya sebagai kemunduran karir dan pencapaian perusahaan. Sedangkan bagi mereka yang setuju, maka akan menganggap fenomena satu ini sebagai protes ekspolitasi. Nah, itu dia pembahasan seputar quiet quitting. Jika kamu tertarik dengan paham ini, maka tidak perlu takut untuk menerapkannya.

Namun, jika tak ingin benar-benar quiet quitting, kamu gunakan waktu ini untuk rehat sejenak dan kembali produktif dalam melakukan pekerjaan.

Jangan lupa juga untuk simpan hasil kerja kerasmu dalam bentuk investasi. Di microfinance marketplace Amartha, cuma dengan melakukan pendanaan menjadi lender mulai dari 100 ribu aja, kamu bisa memperoleh imbal hasil hingga 15% flat per tahun. Kamu juga tak perlu khawatir, karena Amartha sudah terdaftar di OJK dan tentunya memiliki dampak positif dengan modalin UMKM di Indonesia agar lebih maju dan berkembang.

Download aplikasi Amartha di Android
Download aplikasi Amartha di iOS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here