Mengenal Kain Ulos Warisan Budaya Indonesia Asal Kota Medan

0
3460
Ilustrasi kain ulos. sumber: kwriu.kemdikbud.go.id
Ilustrasi kain ulos. sumber: kwriu.kemdikbud.go.id

Sama halnya dengan daerah lain di Indonesia, Suku Batak Toba, Sumatera Utara juga punya kain tradisionalnya yang disebut kain tenun “ulos”. Kain ulos merupakan kain tradisional khas suku Batak, Sumatera Utara, yang resmi ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai salah satu warisan budaya tak benda Indonesia pada 17 Oktober 2014.

Satu tahun kemudian, tepatnya 17 Oktober 2015, Kemendikbud menetapkan tanggal 17 Oktober sebagai Hari Ulos Nasional dan dirayakan dengan beragam acara yang identik dengan penggunaan kain adat ini.

Setelah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, kini berniat mengusulkan ulos menjadi warisan budaya tak benda dunia ke United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) pada 2025 mendatang.

Sejarah Kain Ulos

Melansir laman warisan budaya.kemdikbud.go.id, sudah dikenal masyarakat Batak pada abad ke-14 sejalan dengan masuknya alat tenun tangan dari India. Pada mulanya fungsi Ulos adalah untuk menghangatkan badan, tetapi kini Ulos memiliki fungsi simbolik untuk hal-hal lain dalam segala aspek kehidupan orang Batak. Kini menjadikan ulos sebagai kain tenun khas Batak yang melambangkan ikatan kasih sayang antara orang tua dan anak-anaknya, atau antara seseorang dan orang lain.

Disebutkan juga, menurut pandangan suku bangsa batak, ada tiga sumber yang memberi panas kepada manusia, yaitu matahari, api dan Ulos. Ulos berfungsi memberi panas yang menyehatkan badan dan menyenangkan fikiran sehingga membuat hati merasa gembira. Ulos sendiri dapat dijadikan pakaian sehari-hari dalam masyarakat Toba.

Bila dipakai oleh laki-laki bagian atasnya disebut hande-hande, bagian bawah disebut singkot, bila sebagai penutup kepala disebut tali-tali, bulang-bulang atau detar. Jika Ulos dipakai oleh perempuan (wanita) bagian bawah disebut haen, dipakai hingga batas dada.

Saat digunakan untuk menutup punggung disebut hoba-hoba dan dipakai berupa selendang disebut ampe-ampe, jika dijadikan tutup kepala disebut saong. Selanjutnya, apabila seorang wanita menggendong anak, kain Ulos yang digunakan disebut parompa dan penutup punggung disebut hohop-hohop.

Jenis-jenis Kain Ulos

Sebagian dari kita mengenal kain ulos dijadikan sebagai pakaian, nyatanya kain ulos juga sering dijadikan hadiah seremonial karena kain ini juga menjadi simbol status dan menjadi identitas Suku Batak. Oleh karena itu, setiap ulos memiliki jenis, makna, dan fungsi masing-masing.

  • Kain Ulos Sibolang
    Di antara berbagai jenis ulos, ulos sibolang adalah yang jenis ulos banyak digunakan. Ulos sibolang adalah kain ulos berwarna biru dengan pola mata panah. Ulos ini biasanya digunakan sebagai sarung atau bisa juga dipakai sebagai selendang.
  • Kain Ulos Mangiring
    Kain ini dengan corak yang saling beriringan. Ulos ini melambangkan kesuburan dan kekompakan yang biasanya diberikan kepada anak yang baru lahir, terutama anak pertama.
  • Kain Ulos Ragi Hotang
    Ulos ragi hotang atau kain rotan berbintik merupakan kain ulos yang memiliki tepi lebar dan berjumbai. Jenis ulos ini biasa digunakan pada acara pernikahan adat Batak. Kain ulos ragi hotang menyimbolkan ikatan kasih sayang. Kain ini juga sebagai simbol harapan dari pemberinya agar pasangan pengantin baru memiliki ikatan batin dan selalu saling menyayangi.
  • Kain Ulos Ragi Hidup
    Ulos Ragi Hidup melambangkan kehidupan dan kebahagiaan dalam keturunan dengan umur yang panjang (saur matua). Ulos ini biasanya digunakan pada waktu pesta.

Selain beberapa jenis ulos yang telah disebutkan, masih banyak jenis ulos lain yang dimiliki suku Batak dengan makna dan fungsi yang beragam.

Pembuatan Kain Ulos

Dilansir dari situs www.indonesia.travel/id, secara tradisional, menenun kain ulos itu merupakan tugas kaum wanita. Masyarakat setempat meyakini bahwa proses menenun sangat erat kaitannya dengan peran perempuan dalam merawat keluarga, anak, dan masyarakat. Biasanya, proses menenun dilakukan di waktu senggang. sehingga tak mengherankan jika untuk menghasilkan satu kain ulos, terkadang membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan.

Dalam pembuatan kain ulos biasanya menggunakan benang kapas dan diwarnai dengan cara merendam benang ke dalam pewarna alami yang berasal dari tanaman. Warna biru terbuat dari tanaman indigo, warna merah dari kayu secang dan mengkudu, warna kuning berasal dari kunyit, sedangkan hitam dihasilkan dengan mencampurkan mengkudu dengan indigo, serta hijau adalah campuran indigo dan kunyit.

Proses pembuatan yang cukup lama dan unik, membuat kain ulos memiliki daya tarik tersendiri. Sehingga tak jarang juga para wisatawan yang ingin mendapatkannya sebagai kenang-kenangan. Nah, jika kamu ingin berbelanja kain Ulos di Sumatera Utara, daerah Pematang Siantar atau Balige merupakan destinasi yang tepat untuk berburu kain tradisional ini. Selain itu, kamu juga bisa menemukan Ulos di berbagai toko souvenir atau kios kerajinan tangan di sekitaran Tomok atau Tuktuk, dan juga di tiga desa, Tongging, Paropo, dan Silalahi di pesisir barat laut Danau Toba.

Saat ini, pembuatan Ulos juga sudah lebih modern, yakni dengan memanfaatkan ATBM (alat tenun bukan mesin). Benang yang dipakai juga tidak diproduksi sendiri, tetapi menggunakan benang jadi. Selain itu, banyak juga penenun yang lebih memilih pewarna sintetis untuk membuat kain ulos dengan harga yang lebih terjangkau. Jadi, saat ingin membeli ulos, jangan lupa untuk memperhatikan tekstur bahannya.

Jika kain ulos memiliki tekstur yang cukup halus, kemungkinan besar kain tersebut dibuat dengan mesin dan menggunakan pewarna sintetis. Hal ini terdapat perbedaan karena, Ulos hasil tenunan tangan asli akan terasa lebih kasar saat disentuh.

Baca Juga: Kunci Sukses Berbisnis Bagi Orang Medan. Patut Ditiru!

Modalin UMKM Medan

Itulah beberapa informasi dasar mengenai kain Ulos, sebagai kain tradisional khas kota Medan, yang bisa menjadi bekal bagi kamu yang ingin berkunjung ke Sumatera Utara. Nah, jika kamu tertarik dengan ragam UMKM kota Medan, kamu bisa membantu para CEO UMKM di Kota Medan untuk mengembangkan usahanya dengan cara melakukan pendanaan di Amartha.

Selain membantu para perempuan tangguh di microfinance marketplace Amartha, kamu juga bisa mendapatkan imbal hasil sampai dengan 15% flat per tahun, dengan mendanai mulai dari Rp100.000 aja.

Download aplikasi Amartha di Android
Download aplikasi Amartha di iOS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here