Mendorong UMKM melalui Fintech

Mendorong UMKM melalui Fintech

Pemerintah Indonesia terus mendukung Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk maju. Dengan semakin berkembangnya teknologi, Pemerintah mendorong UMKM untuk menggunakan sumber modal melalui financial technology (fintech) serta memasarkan produknya melalui online atau e-commerce.

Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim Kementerian Komunikasi dan Informatika, Septriana Tangkary, mendukung UMKM untuk mengambil opsi sumber modal melalui fintech. Meski begitu, para pengusaha UMKM juga harus berhati-hati dalam memilih fitnech “Sekarang ada fintech. Hampir sama (suku bunga) kok perbankan. emang kita mesti hati-hati pada saat ditawarkan fintech. Harus yang sudah terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan),” kata Septriana di Jakarta, belum lama ini.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 61,41 persen. Sementara itu, menurut data International Finance Corporation (IFC), kesenjangan pembiayaan untuk sektor usaha kecil dan menengah sebesar 166 miliar dolar AS atau sekitar 19 persen dari pendapatan domestik bruto (PDB) pada 2017. Selain itu, pinjaman perbankan ke sektor usaha mikro rata-rata baru mencapai sekitar 13-14 persen.

Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef)  Nailul Huda mengatakan, para pelaku usaha kecil ini agak sulit menjangkau bank. Mereka juga berusaha untuk menghindar dari jeratan renteiner. Karena itu, mereka mencari alternatif pembiayaan kepada perusahaan fintech.Sementara itu, bank pun memerlukan kepanjangan tangan dari fintech untuk kemudahan para pelaku usaha kecil dalam mengakses dana. “Bank sulit menjangkau yang UMKM ini, khususnya mikro. Itu adalah kelebihan dari tekfin. Kalau bisa dikolaborasikan, bagus sekali,” kata Nailul seperti dilansir dari Republika, baru-baru ini.

Dia menjelaskan unit usaha mikro terutama perdagangan eceran merupakan sektor terbesar yang mendapatkan pembiayaan dari fintech, yakni sebanyak 70 persen. Menurut data OJK per Juni 2018 yang menyatakan aliran pinjaman dari berbagai penyelenggara jasa fintech telah mencapai Rp7,64 triliun, maka sebanyak Rp 5,35 triliun atau 70 persen mengalir ke pedagang eceran. Kendati begitu, pelaku UMKM di Indonesia masih kesulitan mendapatkan kredit pembiayaan dari sumber-sumber konvensional untuk mendorong perkembangan bisnis.

Pendiri dan CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra mengatakan fintech terutama peer to peer lending (p2p lending) menjadi salah satu pendorong ekonomi untuk UMKM. Dengan menghubungkan pendana yang sebagian besar tinggal di perkotaan dengan mitra usaha Amartha di pelosok desa, Amartha menempatkan diri sebagai perantara untuk membantu pendana yang ingin berinvestasi untuk kebaikan dengan mitra usaha perempuan di pelosok desa yang bertekad untuk meningkatkan taraf hidup keluarga mereka. “Platform peer-to-peer memungkinkan sumber pendanaan yang lebih terbuka dan demokratis, sehingga menciptakan kesempatan yang lebih besar bagi mitra usaha di desa untuk mendapatkan pendanaan yang terjangkau,” jelas Andi

Tak hanya pendana secara individu tetapi juga organisasi atau institusional yang mau ikut memberikan pedanaan di Amartha. Perusahaan yang berdiri sejak 2010 ini telah bekerja sama dengan Bank Mandiri, Bank Permata, Mandiri Tunas Finance serta beberapa Bank Perkreditan di pulau Jawa. “Melalui kerja sama dengan lembaga keuangan maupun bank , kita bisa membantu pengusaha mikro di daerah untuk bisa mendapatkan akses pembiayaan dan pendampingan,” tutup Andi.

Please follow and like us:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

FACEBOOK
FACEBOOK
GOOGLE
GOOGLE
https://blog.amartha.com/mendorong-umkm-melalui-fintech">
LINKEDIN
%d bloggers like this: