Kisah Mitra Amartha Asal Padang Sukses Usaha Seni Tanaman Bonsai

0
61

Memiliki usaha tanaman, tidak hanya soal dapat membedakan jenisnya, tapi juga punya pengetahuan soal seni. Seni inilah yang menurut Ibu Elfiyeni, mitra usaha Amartha menjadi pembeda usahanya dibanding pengusaha tanaman lainnya.

Ibu Elfiyeni, yang akrab di sapa Ibu Elfi adalah mitra usaha Amartha di Point Koto Tangah, Padang, Sumatera Barat. Dalam kesehariannya, ibu Elfiyeni menggeluti usaha kerajinan bonsai batok kelapa bersama suaminya. Usaha ini sudah dijalankan kurang lebih 1,5 tahun terakhir.

Mengenal Bonsai dari Cerita

Sebelumnya ibu Elfi dan suami berjualan ikan di pasar Tabing, salah satu pasar tradisional di Padang yang selalu ramai pengunjung. Aktivitas pengambilan ikan di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) secara rutin, membawa langkah ibu Elfi menuju kerajinan bonsai.

Saat itu, suami ibu Elfi bertemu dengan teman lama yang tengah mengambil kelapa untuk bibit bonsai. Dari cerita teman suami Ibu Elfi itu didapati fakta bahwa bonsai mulai ramai peminat dan menariknya seni bertanam bonsai ini berharga jual yang tinggi.

Di sesi obrolan itu, teman suami Ibu Efli juga memperlihatkan foto hasil bonsai-bonsai yang cantik yang sudah siap dipasarkan. Mengetahui informasi tersebut, Ibu Efli mencoba peruntungan dengan terjun langsung untuk menekuni dunia perbonsaian. Ia memulai dengan modal 5 bibit kelapa seharga Rp100.000.

Baca Juga: 10 Peluang Usaha yang Menjanjikan di Masa Pandemi

Berkat Yakin

Ibu Elfi pun memulai belajar bagaimana cara untuk mengolah batok kelapa menjadi bonsai yang indah, mulai dari meletakkan kelapa di media tanam yang basah hingga tunas cikal bakal kelapanya tumbuh.

Kemudian mengeringkan batok kelapa dan akhirnya sabut kelapa mulai dicabut perlahan dengan hati-hati. Sambil menunggu 3 daun sejati tumbuh berkembang, setiap hari batang dan batok kelapa tersebut selalu dibersihkan.

“Ketika memutuskan memulai usaha ini, harus siap meluangkan waktu dan memberikan perhatian yang khusus pada tanaman ini”,

Bonsai Ibu Elfi kemudian tumbuh baik dan bernilai seni yang tinggi. Penjualan pertama bonsai hasil ketekunannya dibanderol dengan seharga Rp300.000.

Dari hasil penjualan seluruh bonsai ini, Ibu Elfi dan suami mampu membayar biaya sekolah anak yang saat itu baru masuk SMA. Dana yang cukup besar ini bisa terpenuhi setelah pusing memikirkan biaya seragam, uang gedung, dan kebutuhan lainnya. “Alhamdulillah, berkat yakin.” tegasnya.

Baca Juga: Tekun Bertani, Kini Junengsih Berhasil Merenovasi Rumah

Kembangkan Usaha Bersama Amartha

Pesanan bonsai Ibu Elfi meningkat, sementara dana ditangan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sempat menyerah, namun pada akhir Oktober 2020, Ibu Elfi mendapatkan informasi tentang pembiayaan Amartha dari tetangga yang sudah menjadi mitra.

Atas izin dari suami, Ibu Elfi pun yakin ini merupakan jalan keluar untuk mengembangkan usaha bonsai yang hampir mati karena keterbatasan modal. Ibu Elfi menemui tim Business Partner Amartha untuk mendaftar dan dan dituntun sampai proses pencairan.

Ibu Elfi mendapatkan pembiayaan pertama sebesar Rp4 juta. Modal usaha ini membuka pintu rezeki yang luar biasa untuk keluarga kecil Ibu Elfi. Pesanan demi pesanan terus berdatangan, sekarang lokasi usaha juga sudah terdaftar di Google Maps dengan kata kunci “Bonsai Galeri Ayang Stab”. Kini, usaha seni tanaman bonsai menjadi salah satu sumber pendapatan Ibu Elfi dan keluarga.

Namun, bencana alam tak dapat kita hindari, bukan?

Pada tanggal 18 Agustus 2021 terjadi bencana alam banjir bandang di sebagian besar wilayah kota Padang akibat intensitas hujan yang tinggi. Malam itu debit air di wilayah pemukiman Ibu Elfi tiba-tiba langsung tinggi yang mengakibatkan bonsai-bonsai yang akan di-finishing hanyut terbawa arus.

Dalam sejarah ini merupakan pesanan bonsai terbesar, yaitu sebanyak 20 batang bonsai. Kondisi lampu yang juga padam membuat Ibu Elfi panik. Ibu Elfi akhirnya merelakan bonsai-bonsai yang sudah dirawat selama enam bulan itu terbawa arus dan menyelamatkan diri beserta anaknya yang berusia tiga tahun.

Saat ini hanya tersisa beberapa bonsai batok kelapa yang masih bisa dipasarkan. Ibu Elfi terus berkomitmen akan tetap melanjutkan usaha ini karena masih ada pesanan yang harus dipenuhi. “Dan secercah cahaya itu sudah mulai nampak” lanjutnya.

“Amartha kembali memberikan jalan karena saya sudah bisa melanjutkan pembiayaan kedua, saat pembayaran ke 41 ini saya sudah bisa pengajuan kembali dengan modal yang lebih besar” tambahnya. “Saya yakin, seni itu pasti akan tetap mahal nilainya”, tutup beliau diakhir pembicaraan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here