Khawatir Riba? Investasi Syariah Bisa Jadi Alternatifnya

investasi syariah amartha

Beberapa tahun belakangan, industri keuangan syariah sedang berkembang pesat di Indonesia. Tidak hanya perbankan dan multifinance yang saat ini memiliki produk berbasis syariah.

Saat ini pasar modal juga telah memiliki produk investasi syariah. Namun belum banyak masyarakat yang mengetahui mengenai pasar modal ini. Padahal investasi syariah merupakan solusi tepat bagi umat muslim yang tidak ingin berurusan dengan riba.

Secara umum produk investasi syariah sama dengan investasi konvensional yang telah dikenal masyarakat luas. Namun ada beberapa prinsip syariah yang membedakan produk investasi syariah dengan produk investasi konvensional. Berikut kami himpun jajaran investasi syariah terbaik untuk Anda investor cerdas.

  1. Saham Syariah

Saham syariah adalah saham emiten yang prinsip usahanya tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Bidang usaha yang bertentangan dengan prinsip syariah sebagai berikut:

  • Perjudian dan permainan yang tergolong judi
  • Lembaga keuangan konvensional berbasis bunga (ribawi)
  • Memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan atau menyediakan barang/jasa yang haram atau merusak modal dan bersifat mudarat

Persyaratan emiten yang memiliki saham syariah secara laporan keuangan adalah memiliki utang berbasis bunga dibagi ekuitas tidak lebih dari 82 persen dan total pendapatan bunga. Pendapatan tidak halal lainnya juga kurang dari 10 persen dari total pendapatan.

Apabila emiten yang sahamnya diperdagangkan di bursa saham dan telah memenuhi kriteria tersebut, maka dapat digolongkan sebagai saham syariah. Saham syariah di Bursa Efek Indonesia terangkum dalam Daftar Efek Syariah (DES) yang diperbaharui setiap enam bulan sekali, sehingga investor tidak kesulitan menentukan suatu saham tergolong saham syariah atau tidak.

Kinerja saham-saham yang masuk dalam kategori syariah secara umum diwakili oleh dua indeks, yaitu Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan Jakarta Islamic Index (JII). Perbedaan kedua indeks tersebut adalah ISSI mencerminkan kinerja seluruh saham yang masuk kategori syariah, sementara JII hanya mencerminkan kinerja 30 saham syariah terlikuid, kapitalisasi pasar, dan faktor fundamental yang sangat baik.

  1. Sukuk

Sukuk atau obligasi syariah secara terminologi merupakan bentuk jamak dari kata “sakk” dalam bahasa Arab yang berarti sertifikat atau bukti kepemilikan. Namun, sukuk bukanlah surat utang, melainkan bukti kepemilikan bersama atas suatu aset atau proyek.

Setiap sukuk yang diterbitkan harus mempunyai aset yang dijadikan dasar penerbitan (underlying asset). Penggunaan dana sukuk harus digunakan untuk kegiatan usaha yang halal.

Bentuk keuntungan dari sukuk bergantung jenis akad yang digunakan dalam penerbitan sukuk. Secara umum, keuntungan yang diberikan bisa dua jenis, yakni sewa atau sering juga disebut Sukuk Ijarah dan bagi hasil yang sering disebut Sukuk Mudharabah.

Pada prakteknya, Sukuk Ijarah mirip dengan obligasi berkupon tetap karena memberi imbal hasil berbentuk sewa, dengan persentase tetap tiap periodenya. Sementara Sukuk Mudharabah hampir sama dengan obligasi berkupon variabel karena imbal hasil yang diberikan bisa berbeda-beda tiap periodenya, bergantung keuntungan perusahaan atau proyek yang dijaminkan dalam sukuk.

3. Peminjaman/ P2P Lending

Peer-to-peer (P2P) lending adalah sebutan kegiatan menanamkan modal. Secara harafiah peer-to-peer lending dapat diartikan sebagai pinjaman orang perorangan.

Yang membuat P2P unik adalah menggunakan teknologi internet untuk mempertemukan calon investor dengan calon usaha mikro sebagai debitur. Salah satu lembaga yang menawarkan investasi syariah di indonesia adalah Amartha.

Dengan total dana yang disalurkan lebih dari 30 milyar rupiah, Amartha menjelma sebagai lembaga investasi syariah berstatus startup di Indonesia yang fokus memberikan pinjaman untuk masyarakat pedesaan.

meningkatkan produktivitas usaha

Selain sebagai investasi syariah, fokus pendanaan untuk masyarakat pedesaan ini juga yang membuat amartha termasuk kedalam social financing.

Dengan tekad membangkitkan usaha kecil bagi masyarakat pinggiran, perusahaan startup ini telah sukses menyalurkan modal ke lebih dari 20 ribu nasabah. Selama kurang lebih 6 tahun berjalan.

Term spesifik yang dipakai dalam bisnis model amartha ini adalah impact investing, yaitu kesempatan untuk berinvestasi dengan mendapatkan return yang kompetitif dan dalam waktu yang bersamaan dapat membantu menumbuhkan ekonomi orang lain serta menciptakan kebaikan.

pinjaman modal usaha amartha

Beberapa nilai lebih dari Amartha didapat dari penggunaan sistem investasi syariah. Seperti halnya mengimplementasikan aturan tanggung-renteng seperti group lending yang populer oleh Grameen Bank.

  • Pinjaman gagal bayar ditekan hingga 0%
  • Dengan sistem investasi syariah, amartha.com dapat menjaga nilai kredit macet atau default (NPL) rate 0% selama 5 tahun lebih beroperasi.
  • Tentunya dengan track record NPL rate 0% akan sangat menguntung bagi para investor pemula maupun yang sudah fasih. Sementara untuk peminjam modal usaha akan semakin tidak terbebani dengan bantuan yang berikan amartha
  • Adanya keuntungan bagi investor berkisar antara 15%-17% atau bahkan lebih, dimana keuntungan investasi bagi investor tersebut bukan didapat lewat bunga(RIBA) namun lewat bagi hasil dari nett profit.

Untuk lebih lengkapnya Anda bisa menanyakan lebih mendetail dengan Amartha. Seperti apa akad perjanjian antara investor dan peminjam/pengusaha? Dan berapa besar keuntungan yang pernah diperoleh para investor di amartha.

Yuk mulai berinvestasi syariah di amartha.

Please follow and like us:
4 Comments
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

FACEBOOK
FACEBOOK
GOOGLE
GOOGLE
https://blog.amartha.com/khawatir-riba-investasi-syariah-bisa-jadi-alternatifnya">
LINKEDIN
%d bloggers like this: