“Kartini – Kartini” Modern Amartha

Kecerdasan pemikiran bumiputera tidak akan maju jika perempuan ketinggalan dalam usaha. Karena perempuan adalah pembawa peradaban. – R.A Kartini

Siapa yang tidak kenal dengan Raden Ayu Kartini atau yang biasa dikenal dengan Raden Adjeng Kartini? Setiap tanggal 21 April, pelbagai acara hari Kartini diperingati di kantor, gedung maupun sekolah dengan menggunakan baju kebaya untuk wanita dan baju daerah untuk pria.

RA Kartini telah menginspirasi masyarakat Indonesia lewat surat-suratnya tentang kondisi perempuan kala itu. Dalam tulisannya, dia mengambarkan perempuan pribumi yang tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

Kartini berhasil menarik perhatian masyarakat Belanda dan Indonesia pada saat itu. Kala itu, Indonesia masih bernama Hindia Belanda dan masih berbentuk pemerintahan kolonial Belanda. Meski begitu, pemikirannya mampu membuat masyarakat tercengang akan keberanian dan perjuangannya untuk kesetaraan gender. Apalagi, pada masa itu, perempuan masih belum mendapatkan kesempatan untuk berbicara di publik.

Pencipta lagu “Indonesia Raya”, WR. Supratman pun menciptakan lagu untuk Kartini pada lagu “Ibu Kita Kartini”. Tentunya, lagu ini sudah tidak asing didengar oleh masyarakat Indonesia. Bahkan, sangat populer di kalangan siswa. Lagu ini menceritakan tentang perjuangan perempuan untuk merdeka.

Semangat Kartini menular dalam peruahaan Amartha sebagai pionir Peer-to-Peer lending untuk ekonomi inklusif. Sebagai, perusahaan financial technology, Amartha mempertemukan pendana untuk memberikan pinjaman dana kepada usaha ibu-ibu di pedesaan. Perusahaan yang berdiri sejak 2010 ini mempunyai misi untuk pengentasan kemiskinan, mencapai kesetaraan gender, dan memberdayakan perempuan serta mengurangi kesenjangan.

Mengutip pebisnis dan filantropis Melinda Gates bahwa jika kita berinvestasi pada perempuan, kita berinvestasi pada sumber kekuatan pembangunan global. Hal itu yang mendasari Amartha untuk terus membangun ekonomi melalui ibu-ibu yang tinggal di desa. Dengan begitu, Indonesia tanpa kemiskinan akan terwujud.

Semangat ini pula yang menular pada para pekerja di Amartha. Seperti perjuangan “Kartini-Kartini” modern di Amartha. Yuk, kita lihat beberapa profil perempuan-perempuan tangguh di Amartha :

Evi Kusumah

Ada sebuah ungkapan : Passion is energy. The power comes from things that excites you. Hal inilah yang selalu bisa kita lihat dari sosok perempuan yang akrab disapa Teja ini. Dia selalu tampak bersemangat dengan apa yang ia kerjakan. Role-nya sebagai trainer di Amartha tidak membatas gerak langkahnya untuk melakukan berbagai inisiatif yang bisa membantu kelancaran koordinasi antara berbagai tim di kantor pusat dengan tim lapangan.

Dia mengelola bebrapa program yang signifikan meningkatkan performa Business Partner Amartha di pedesaan, dan berkontribusi dalam banyak hal mulai dari membantu tim product dalam mendesain, melakukan testing, melatih penggunaan aplikasi hingga memberikan support saat ada permasalahan. Semua ini selalu dikerjakan tanpa mengeluh dan selalu tersenyum.

Evi Kusumah

Evi Kusumah

Anita Rosalina

The important thing is not to stop questioning. Curiosity has its own reason for existing – Albert Einstein

Mau belajar dan mau berkembang tampak jelas pada Anita. Dapat beradaptasi denga cepat, meski berpindah dari roles yang berbeda, mulai dari mengelola social project ketika masih di tim Operations, melakukan beragam growth strategy melalui sosial media dan digital dari sisi pendana bersama tim marketing, sampai sekarang ini Anita ada bersama tim customer experience Amartha. Anita juga mampu berkomunikasi dengan baik across all functions in order to deliver her tasks.

Anita Rosalina

Anita Rosalina

Indriani

Sejak Januari 2015, dia memulai karirnya di Amartha ketika masih berbentuk koperasi. Di awal transformasi Amartha menjadi perusahaan P2P, dia telah memberikan banyak kontribusi selama masa pertumbuhan Amartha, khususnya dalam menjaga proses peer-to-peer pada marketplace agar dapat terealisasi dan berjalan baik.

Demi memastikan hal itu, Indri selalu bekerja “extra mile” dengan selalu berkoordinasi dan membantu kesulitan yang terjadi di desa binaan Amartha, serta memberikan “support” penuh dengan divisi lain demi menjaga customer satisfaction. Kompleksitas dan dinamika yang terjadi di marketplace tidak mengendurkan semangatnya dalam menjalani tugas dan selalu siap untuk membantu rekan-rekan lainnya.

 Indriani. "When a team takes ownership of its problems, the problem gets solved. It is true on the battlefield, it is true in business, and it is true in life" - Jocko Willink.


Indriani. When a team takes ownership of its problems, the problem gets solved. It is true on the battlefield, it is true in business, and it is true in life. Jocko Willink.

 

Itulah tiga “Kartini-Kartini modern di Amartha. Mereka berjuang bersama untuk mewujudkan ekonomi inklusif. Semangat itulah yang membuat mereka ingin terus memajukan ekonomi pedesaan lewat ibu-ibu. Anda pun bisa berjuang bersama kami dengan menjadi pendana untuk para mitra. Dana Anda sangat berguna bagi mereka yang hidup di “rural areas”. Mari wujudkan Indonesia tanpa kemiskinan melalui Amartha.

Please follow and like us:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

FACEBOOK
FACEBOOK
LINKEDIN
%d bloggers like this: