Jusuf Hamka Si Pengusaha Jalan Tol yang Dikenal Dermawan

0
17923

Beberapa waktu lama, nama Jusuf Hamka mendapatkan sorotan karena berniat untuk menjadikan tanah miliknya yang seluas 10 hektar sebagai lokasi pemakaman jenazah pasien Covid-19.

Pria yang akrab disapa Babah Alun ini turut berperan dalam memerangi percaloan kremasi untuk jenazah pasien Covid-19 di Jakarta.

Jusuf Hamka sendiri merupakan Dewan Pembina dari Krematorium Cilincing yang memerintahkan krematorium tersebut untuk menerima jenazah pasien Covid-19 dan memungut harga rendah untuk jasa kremasi, yakni Rp 7 juta.

Hal ini lakukan karena sebelumnya sempat beredar berita tentang adanya calo jasa kremasi yang mematok harga hingga ratusan juta rupiah per jenazah pasien Covid-19.

Sebagai informasi, Jusuf Hamka merupakan bos perusahaan jalan tol PT Citra Marga Nusaphala Persada. Ia dikenal sebagai sosok pengusaha yang dermawan dan kerap membantu masyarakat yang kesusahan.

Well, sebenarnya seperti apa sih perjalanan hidup dari Jusuf Hamka? Berikut pembahasannya!

Lahir di Samarinda dengan Nama Joseph Alun

H. Mohammad Jusuf Hamka atau juga dikenal dengan nama Babah Alun lahir dengan nama Alun Joseph di Jakarta, 5 Desember 1957. Untuk diketahui, orang tua Jusuf Hamka adalah pendidik.

Ayahnya yaitu Joseph Suhaimi adalah dosen dengan banyak gelar, sementara sang ibu yakni Suwanti Suhaimi berprofesi sebagai guru. Adapun, Jusuf Hamka sendiri merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara.

Saat masih kecil Jusuf Hamka sudah hidup di perkampungan kecil. Sejak kecil, Jusuf telah ditempa dengan kehidupan pas-pasan. Dia pun sudah terbiasa dengan rutinitas berjualan keliling setiap pulang sekolah.

Meski keduanya berprofesi sebagai pendidik, Jusuf Hamka hanya lulusan SMA. Ia pernah beberapa kali kuliah tetapi tidak selesai. Di masa muda, dia pernah mengenyam pendidikan di sejumlah perguruan tinggi ternama, tapi tak ada yang tuntas. Bukan karena kurang cerdas, cuma dia memang tak suka dengan formalitas.

Walaupun tidak punya ijazah formal, lelaki yang kerap disapa Babah Alun ini tidak pernah minder dalam bergaul. Ia mengibaratkan dirinya sebagai metro mini yang bisa melesat lebih cepat daripada mobil mewah yang takut kegores.

Bekerja Sebagai Supir Traktor

Pada tahun 1986, Jusuf Hamka mulai bekerja di bidang konstruksi jalanan sebagai seorang supir traktor pembuat jalan. Pekerjaan yang dilakoninya selama 3 tahun ini masih berlokasi di Samarinda, Kalimantan Timur.

Kala itu, ia dan keluarganya tinggal di desa Bukuan Kecamatan Palaran, di pinggir Sungai Mahakam, dengan gaji Rp 750 ribu/ bulan.

Kehidupan Jusuf Hamka jauh dari kata mewah. Keluarganya hidup sederhana di pedalaman Samarinda. Bagi Jusuf saat itu, makan dengan telur dan kornet saja sudah hal yang mewah. Bahkan, untuk makan sayur harus menunggu Pasar Pekan yang buka satu minggu sekali.

Tuhan tidak pernah tidur. Atas kerja kerasnya meraih kesuksesan, Jusuf Hamka merasa sangat bersyukur dan menyebut Tuhan berperan luar biasa dalam hidupnya. Atas kuasa-Nya, kini dirinya berhasil menjadi seorang bos jalan tol dan dipercaya menjadi pengelola di kawasan Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Yap, Jusuf Hamka sekarang bisa ini adalah pemilik salah satu perusahaan jalan tol swasta terbesar di Indonesia yaitu PT Citra Marga Nusaphala Persada. Bahkan, saat ini PT Citra Marga Nusaphala Persada dipercaya untuk mengerjakan proyek Harbour Road 2 di Jakarta senilai 16 Triliun dan NS LINK di Bandung senilai 9 Triliun. Total kedua proyek ini mencapai Rp 25 Triliun.

Dikenal Sebagai Sosok Dermawan yang Sering Berbagi ke Sesama

Gelimang kesuksesan Jusuf Hamka pun tidak membuatnya lupa diri. Sejumlah kegiatan sosial sering ia jalankan, seperti membangun Masjid Babah Alun di sekitar Tol Depok-Antasari. Bentuk masjid berarsitektur oriental itu menjadi daya tarik bagi masyarakat sekitar maupun pendatang dari luar kota.

Hingga kini, Jusuf Hamka telah membangun tiga masjid sejak tahun 2017. Ia bercita-cita ingin membangun 1.000 masjid. Namun, ia sadar bahwa usianya tidak lagi muda karena untuk mewujudkan cita-cita tersebut perlu waktu yang sangat panjang.

Untuk mengatasinya, ia mewujudkannya lewat program renovasi masjid jika memang ada yang memintanya melakukan.

Selain itu, di tengah pandemi Covid-19, Jusuf Hamka menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk membantu masyarakat yang terdampak langsung maupun tidak langsung. Sehari-hari dia menyiapkan seribu nasi bungkus nasi kuning bagi masyarakat, dan membagikan sembako dari pintu ke pintu.

Salah satu program yang dilakukan Jusuf adalah mengintensifkan program nasi kuning pojok halal yang sudah berjalan selama 2,5 tahun. Nasi kuning tersebut dijual dengan harga Rp 3 ribu.

Selain itu, Jusuf Hamka juga menjual sembako yang nilainya Rp 25 ribu dengan harga Rp 5 ribu. Dia juga menggandeng ormas di Jakarta Utara untuk melakukan penyemprotan disinfektan ke kampung-kampung, dan sejumlah rumah ibadah.

Kekayaan jelas tidak membutakan seorang Jusuf Hamka. Justru, dia mengaku bakal terus menggunakan pendapatannya untuk berbagi ke sesama. Itulah sosok dari Jusuf Hamka. Semoga sifat baiknya bisa menginspirasi kita, ya!

Dorong Perempuan UMKM Bersama Amartha

Amartha

Nah, salah satu cara untuk melakukan kebaikan yang bisa kita lakukan adalah dengan mendanai mitra usaha perempuan pelaku usaha mikro di pedesaan. Amartha hadir untuk memfasilitasi hal ini.

Amartha merupakan perusahaan investasi P2P Lending yang menghubungkan pendana di kota kepada peminjam, perempuan pengusaha mikro di pedesaan melalui akses permodalan, pendampingan, dan pelatihan usaha. Amartha menawarkan bagi hasil hingga 15% flat per tahun kepada pendana.

Menurut Laporan Akuntabilitas Sosial Amartha, sebanyak 41% mitra berhasil keluar dari garis kemiskinan setelah dua tahun bergabung dengan Amartha.

Anda tidak perlu khawatir karena Amartha sudah terlisensi izin usaha dari OJK sejak tahun 2019. Pelajari mengenai Amartha di sini!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here