Jangan Asal Kasih Data Pribadi, Ini Deretan Bahayanya!

|

|

|

Hingga kini, data pribadi masyarakat Indonesia yang ada di internet belum sepenuhnya aman. Baru-baru ini saja, data 279 juta penduduk Indonesia diduga bocor dan dijual di forum online. Praktik jual beli data pribadi warga Indonesia memang kerap terjadi berbagai forum media sosial, marketplace, sampai situs dark web.

Data pribadi yang bocor dan terbuka diperjualbelikan ini pun sering dimanfaatkan beberapa oknum untuk mengajukan pinjaman daring di platform fintech peer to peer (p2p) lending ilegal.

Bahkan di Facebook, ada beberapa grup yang terang-terangan menawarkan jasa e-KTP yang dapat digunakan sebagai persyaratan pinjaman online dengan harga yang tergolong murah.

Berdasarkan data Bareskrim Polri, laporan mengenai pencurian data pribadi cukup meningkat selama empat tahun terakhir. Pada tahun 2017 terdapat 47 kasus, kemudian tahun 2018 meningkat menjadi 88 kasus, dan lonjakan kasus terjadi pada tahun 2019 sampai tahun 2020 yakni hingga 182 kasus.

Sebenarnya, ada beberapa alasan mengapa jual-beli data pribadi untuk pinjaman daring kerap terjadi.

Pertama, mudahnya pendaftaran dan pengajuan dana di platform pinjaman ilegal. Calon peminjam biasanya hanya membutuhkan e-KTP, nomor rekening bank, dan nomor telepon. Dengan persyaratan pengajuan pinjaman semudah itu, praktik jual-beli data pribadi semakin laris.

Kedua, data-data pribadi masyarakat Indonesia sangat mudah tersebar, diakses, hingga dipalsukan. Contohnya, e-KTP bisa saja tersebar saat kita melakukan fotokopi atau registrasi. Bahkan, ada juga warga yang secara terang-terangan mengunggah e-KTP miliknya di media sosial. Padahal hal ini sangat berbahaya karena berpotensi disalahgunakan.

Well, selain kerap disalahgunakan untuk mengakses pinjaman online ilegal, berikut ini adalah beberapa deretan bahaya lainnya jika data pribadi tersebar secara secara sembarangan di internet!

1. Password Email dan Media Sosial Bisa Terbongkar

Masih banyak dari pengguna internet yang menggunakan tanggal lahir sebagai password atau kata kunci untuk mengakses email dan akun media sosial. Dengan mengetahui tanggal lahir korban, peretas bisa saja membuka dan membajak akun korban.

Oleh karenanya, pengguna Internet disarankan untuk tidak menggunakan tanggal lahir sebagai password dan rutin menggantinya. Selain itu, juga disarankan mengaktifkan sistem pengamanan two factor authentication (TFA) dengan menggunakan one time password (OTP) melalui SMS hingga USSD. TFA melibatkan pihak ketiga yaitu operator untuk mengirimkan OTP yang digunakan untuk otorisasi transaksi.

2. Membobol Layanan Keuangan

Perlu kamu tahu, data nomor telepon dan sebagainya dapat digunakan peretas untuk membobol akun media sosial atau layanan lainnya. Sebagai contoh untuk membobol layanan pembayaran digital seperti GoPay atau OVO.

3. Telemarketing

Data nomor telepon bisa diperjualbelikan untuk kepentingan telemarketing. Maka, tidak heran jika seseorang mendapat panggilan telepon dan ditawarkan sebuah jasa atau produk. Anehnya, penelpon sudah mengetahui nama lengkapmu meski tak pernah berafiliasi dengan perusahaan tersebut sama sekali.

Selain itu, SMS spam berbau penipuan mulai penawaran berhadiah juga cukup menjengkelkan. Kamu bisa saja menjadi ‘korban’ telemarketing ketika data nomor ponsel sudah tersebar.

4. Profiling untuk Target Politik atau Iklan di Media Sosial

Data-data personal yang diambil bisa dipakai untuk rekayasa sosial hingga profiling (membuat profil pengguna). Data-data tersebut dikumpulkan lalu diproses. Maka, big data itu bisa dianalisis yang bermanfaat untuk profiling penduduk.

Misalnya berdasarkan umur dan demografi penduduk berdasarkan lokasi, hobi, hingga jenis kelamin. Big data tersebut bisa digunakan untuk sosialisasi politik maupun target iklan di media sosial.

Hal ini serupa dengan yang dilakukan Cambridge Analytica dengan data pengguna Facebook. Perusahaan itu menggunakan profiling warga AS untuk menargetkan artikel tertentu kepada pengguna. Artikel ini berisi penggiringan opini agar warga pada akhirnya mendukung calon Presiden Donald Trump saat itu.

Itulah deretan bahaya jika data pribadi tersebar secara secara sembarangan di internet. Perhatikan keamanan data pribadi-mu, ya!

LANGGANAN EMAIL MONEY+

DAPATKAN INFO TERBARU
TENTANG MONEY+

Team Money+
Money + is financial blog for everyday life. We cover a wide range of everyday life topics including technology, lifestyle, careers, sharia and women empowerment. We strive to make financial easy to understand and fun for everyone!

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Usaha yang Cocok di Tengah Pandemi Corona

Covid-19 atau virus corona sedang mewabah sehingga semua orang harus diam di rumah mengisolasi diri. Tapi kalau begini terus semua aktivitas jadi...

Butuh Dana Cepat? Ini Pilihan Pinjaman Syariah Bebas Riba

Perlu modal besar untuk buka usaha? Pinjam ditempat lain tapi takut riba? Kamu tidak usah khawatir, pasti saja ada solusinya. Kini ada...

Apa Itu TKB90 dan TKW90?

Amartha terus menjalankan prinsip transparansi kepada masyarakat dengan mencantumkan Tingkat Keberhasilan 90 (TKB90) di halaman utama website Amartha.com. Dengan transparansi ini, pemberi pinjaman akan...

Tambah Marak, Ini Cara Laporkan Fintech Pinjaman Online Ilegal

Ketua Satgas Waspada Investasi (SWI), Tongam L Tobing menyatakan menghentikan 3.056 fintech pinjaman online ilegal. Hingga kini tercatat...