Jangan Abaikan 4 Hal Berikut Saat Hendak Berutang

Hidup sebagai generasi millennial zaman now rasanya kecenderungan untuk berutang semakin dekat, terlebih dengan adanya berbagai kemudahan seperti aplikasi peminjaman uang, hingga online shoping yang menawarkan promo cicilan yang menarik yang tidak hanya jadi magnet juga memudahkan kita untuk berutang.

Bolehkah berutang? jawabannya boleh selama sifatnya produktif dan nilainya masih dibawah kendali. Nah realitanya banyak di antara kita yang terjebak dengan hutang karena dilakukan tanpa perencanaan keuangan yang matang, alhasil penghasilan yang masuk habis duluan untuk bayar cicilan hutang, nggak mau kan kaya gitu, makanya jangan abaikan 4 hal ini sebelum berutang.

Berutang Untuk Tujuan Produktif
Hal yang perlu dipastikan sejak awal adalah tujuan dari berutang itu sendiri, untuk tujuan konsumtif apa produktif. Hutang akan menjadi produktif jika itu bisa menjadi aset jangka panjang, menghasilkan penghasilan tambahan, bahkan menambah produktifitas kita dalam bekerja. Misalkan setelah dihitung-hitung biaya transport ke kantor menggunakan angkutan umum selama sebulan mencapai 500 ribu, nah setelah dibandingkan dengan cicilan motor dan uang bensin selama sebulan ternyata tidak beda jauh, dengan demikian hutang menjadi produktif karena bisa mengganti biaya transportasi menjadi aset juga menambah efektifitas waktu kita menuju kantor.

Batasi Nilai Cicilan
Dalam perencanaan keuangan pribadi dikenal strategi alokasi anggaran 4-3-3, dimana 40% untuk alokasi biaya kebutuhan rutin, 30% untuk alokasi cicilan dan asuransi, dan 30% untuk alokasi saving dan investing. Nah jika mau berutang pastikan nilai cicilannya dibatasi tidak melebihi 30% penghasilan, bahkan akan lebih baik jika bisa kurang dari itu, kenapa? supaya kebutuhan lainnya juga terpenuhi. Ingat, penghasilan kita bukan cuma digunakan untuk bayar hutang tapi juga ada keperluan rutin bulanan dan dana investasi masa depan yang juga perlu dipersiapkan.

Ilustrasi

Ilustrasi

Hitung Ulang Biaya Bulanan
Hitung kembali anggaran keuangan selama sebulan pada saat akan berutang, apakah terdapat alokasi keuangan yang terganggu lalu apakah sisa penghasilan setelah dipotong hutang masih bisa memenuhi keperluan rutin dan investasi. Dengan demikian jika kondisinya kurang baik bahkan berdampak pada kondisi keuangan yang berantakan, maka ada baiknya kalian pikirkan kembali bahkan sebisa mungkin kurangi porsi cicilannya atau ditunda jika perlu.

Pastikan Total Hutang Tidak Melebihi Aset
Perlu dipastikan jika total hutang tidak melebihi nilai aset yang kita miliki, kalian bisa membuat neraca keuangan dimulai dari mencatat seluruh nilai aset (kekayaan) yang kita miliki lalu mencatat seluruh nilai hutang (kewajiban) yang dimiliki. Hal ini ditujukan untuk kondisi darurat diluar rencana jika kita tidak bisa memenuhi kewajiban untuk membayar hutang, kalian tentunya tidak menginginkan untuk menjual aset yang dimiliki.

Artikel ini merupakan hasil kerjasama Amartha dengan Halofina.
Please follow and like us:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

FACEBOOK
FACEBOOK
LINKEDIN
%d bloggers like this: