Investasi Properti Pakai DP 0%, Bikin Untung atau Malah Rugi?

|

|

|

Tahun 2021 bisa dibilang menjadi tahun yang tepat untuk memulai investasi properti. Hal ini didukung oleh beberapa stimulus yang dikeluarkan pemerintah untuk menggairahkan kembali penjualan di sektor tersebut.

Sebagai informasi, sejak tanggal 1 Maret 2021, Bank Indonesia (BI) telah melonggarkan rasio kredit properti terhadap harga (Loan to Value/LTV) sampai 100 persen. Artinya, masyarakat yang mengambil kredit pemilikan rumah (KPR) pada periode tersebut bisa menikmati uang muka (DP) hingga nol persen. Kebijakan ini akan berlangsung tanggal 31 Desember 2021 mendatang.

Namun, pelonggaran LTV/FTV tersebut hanya berlaku bagi bank-bank yang memenuhi kriteria Non Performing Loan/Non Performing Financing (NPL/NPF) tertentu, yang terbilang rendah. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan hanya bank yang memiliki rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) di bawah 5 persen yang bisa memberikan DP 0 persen.

Selain itu, BI juga memutuskan untuk menghapus ketentuan pencairan bertahap properti inden untuk mendorong pertumbuhan kredit di sektor properti, dengan tetap memerhatikan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko. Dengan demikian, selama 1 Maret sampai 31 Desember 2021, tidak berlaku ketentuan mengenai kewajiban pencairan bertahap untuk pemilikan properti yang belum tersedia secara utuh dan besaran maksimum dalam pencairan bertahap kredit properti ataupun pembiayaan properti.

Dikutip dari publikasi resmi BI, ketentuan kredit rumah DP nol persen adalah sebagai berikut:

1. Rumah yang Bisa Dibeli dengan DP 0 Persen

  • Rumah Tapak: Tipe tipe 21-70, tipe kurang dari 21, dan tipe di atas 70
  • Rumah Susun: Tipe 21-70, tipe kurang dari 21, dan tipe di atas 70
  • Ruko atau Rukan

2. Kriteria NPL/NPF Bank Penyedia Kredit Rumah DP 0 Persen

  • Rasio Kredit Bermasalah atau rasio Pembiayaan Bermasalah secara bruto kurang dari 5 persen
  • Rasio Kredit Properti Bermasalah atau rasio Pembiayaan Properti Bermasalah secara bruto kurang dari 5 persen

3. Status Kredit

  • Kredit properti atau pembiayaan properti berdasarkan Akad Murabahah, Istishna, MMQ dan IMBT

4. Status Kepemilikan Properti

  • Kepemilikan pertama dan kedua

Adapun, untuk bank-bank yang tidak memenuhi kriteria NPL/NPF di bawah 5 persen masih mungkin memberikan kredit properti dengan uang muka nol, namun hanya untuk tipe tertentu. Berdasarkan publikasi BI, bank-bank yang tidak memenuhi kriteria NPL/NPF di bawah 5 persen masih diizinkan memberikan KPR dengan DP 0 persen hanya untuk rumah tapak atau rumah susun di bawah tipe 21.

Kredit rumah dengan tipe di bawah 21 itu harus untuk pembelian (kepemilikan) pertama, baik dengan Akad Murabahah, Istishna, MMQ maupun IMBT. Bank-bank yang tidak memenuhi kriteria NPL/NPF di bawah 5 persen hanya boleh memberikan kredit properti untuk tipe yang lain, dengan batas minimal nilai uang muka (DP) 5 dan 10 persen.

DP minimal 5 persen bisa diberlakukan oleh bank-bank yang tidak memenuhi kriteria NPL/NPF untuk kredit rumah dengan tipe sebagai berikut:

  • Rumah tapak/rumah susun tipe di bawah 21 untuk kepemilikan kedua dan ketiga
  • Rumah tapak/rumah susun tipe 21-70 untuk kepemilikan pertama sampai ketiga
  • Rumah tapak/rumah susun di atas tipe 70 untuk kepemilikan pertama
  • Ruko/rukan kepemilikan pertama

Sementara itu, aturan DP minimal 10 persen bisa diberlakukan oleh bank-bank yang tidak memenuhi kriteria NPL/NPF untuk kredit rumah dengan tipe sebagai berikut:

  • Rumah tapak/rumah susun di atas tipe 70 kepemilikan kedua dan ketiga
  • Ruko/rukan kepemilikan kedua dan ketiga

Sebagai informasi, seluruh ketentuan di atas berlaku untuk pembiayaan properti berwawasan lingkungan maupun tidak berwawasan lingkungan. Perlu dipahami, program DP 0 persen ini memang mempermudah masyarakat untuk memiliki properti, namun ada baiknya tetap berhati-hati.

Pasalnya, pembelian hunian tanpa DP jelas akan membuat pokok utang menjadi besar yang berdampak pada jumlah cicilan per bulan berada di level tidak ideal. Oleh karena itu, lakukanlah perhitungan dengan matang sebelum akhirnya kamu memutuskan untuk mengambil KPR DP nol persen.

Perlu diingat, bunga KPR di bank konvensional bersifat floating, yang artinya perubahan tingkat suku bunga bisa saja terjadi ketika masanya tiba. Karena itu, jika kamu berniat mengambil cicilan 15 tahun, jangan mudah tergiur dengan bunga rendah tapi hanya berlaku satu hingga tiga tahun.

Pertimbangkanlah untuk mencari program KPR dengan suku bunga fixed (tetap) yang berlangsung 10 tahun. Selain itu, kamu juga dapat mempertimbangkan, KPR syariah. Pasalnya, KPR syariah tidak akan membebani kamu dengan biaya penalti untuk percepatan pelunasan.

LANGGANAN EMAIL MONEY+

DAPATKAN INFO TERBARU
TENTANG MONEY+

Team Money+
Money + is financial blog for everyday life. We cover a wide range of everyday life topics including technology, lifestyle, careers, sharia and women empowerment. We strive to make financial easy to understand and fun for everyone!

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Usaha yang Cocok di Tengah Pandemi Corona

Covid-19 atau virus corona sedang mewabah sehingga semua orang harus diam di rumah mengisolasi diri. Tapi kalau begini terus semua aktivitas jadi...

Moms, Ini Lho Perkiraan Biaya Imunisasi Si Kecil

Buat bayi, imunisasi adalah hal yang sangat penting didapat mengingat daya tahan tubuhnya masih sangatlah lemah. Sebagai informasi, imunisasi merupakan cara meningkatkan...

Butuh Dana Cepat? Ini Pilihan Pinjaman Syariah Bebas Riba

Perlu modal besar untuk buka usaha? Pinjam ditempat lain tapi takut riba? Kamu tidak usah khawatir, pasti saja ada solusinya. Kini ada...

Apa Itu TKB90 dan TKW90?

Amartha terus menjalankan prinsip transparansi kepada masyarakat dengan mencantumkan Tingkat Keberhasilan 90 (TKB90) di halaman utama website Amartha.com. Dengan transparansi ini, pemberi pinjaman akan...