Ini 5 Alasan Warga Indonesia Malas Jalan Kaki

0
716
Ilustrasi berjalan kaki. sumber: www.istockphoto.com
Ilustrasi berjalan kaki. sumber: www.istockphoto.com

Tingkat Kemalasan untuk Jalan Kaki di Indonesia

Indonesia berada di tingkat yang rendah mengenai intensitas warganya dalam hal berjalan kaki. Bahkan, Indonesia pernah menjadi negara paling malas untuk berjalan di tahun 2017. Jumlah langkah pedestrian di Indonesia setiap harinya bahkan lebih rendah dari jumlah langkah para pedestrian dunia per harinya. Kemalasan budaya bepergian dengan berjalan di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor. 

Mengapa Masyarakat Malas Jalan Kaki?

Bepergian dengan berjalan sebenarnya memiliki peranan yang besar, terutama untuk kesehatan. Dengan melakukan hal ini setiap harinya, tubuh akan lebih bugar untuk beraktifitas. Bahkan, negara maju yang mayoritas aktivitas penduduknya lebih produktif memiliki tingkat kesadaran yang tinggi.

Budaya untuk jalan kaki sudah seharusnya diterapkan oleh masyarakat Indonesia. Namun, masih ada beberapa faktor yang menjadi sumber kemalasan. Apakah kamu termasuk orang yang malas? Kamu pasti setuju dengan 5 Alasan masyarakat Indonesia ini:

1. Infrastruktur yang Tidak Memadai

Fasilitas untuk pejalan kaki di Indonesia cukup minim, terutama di kota-kota kecil. Pada sebagian kota besar pun, infrastruktur untuk pedestrian masih memiliki kekurangan. Walaupun sudah tersedia trotoar, terkadang terdapat kendala seperti jalan berlubang, pedagang, hingga pengendara motor yang kerap dengan sengaja naik ke trotoar demi menghindari macet. Tingkat keamanan pedestrian pun menjadi rendah karena hal-hal tersebut.

2. Kebersihan yang Kurang Terjaga

Kebersihan menjadi alasan mengapa orang-orang di negara maju lebih suka untuk jalan kaki. Sebaliknya, warga di Indonesia merasa malas karena tingkat kebersihan yang kurang. Banyak orang yang masih membuang sampah sembarangan, terutama di pinggir jalan.

Bahkan, sampah tersebut tidak hanya sampah kecil seperti plastik atau botol minum saja. Kerap ditemui sampah rumah tangga yang juga dibuang sembarangan. Hal tersebut tentunya membuat semangat bepergian dengan berjalan jadi menghilang.

3. Faktor Cuaca

Cuaca di Indonesia memang kurang cocok untuk para pedestrian. Panas yang terik di Indonesia membuat kita cepat merasa lelah saat bepergian dengan berjalan. Rasa malas jalan kaki masyarakat Indonesia pun semakin tinggi ketika musim hujan tiba. 

Curah hujan di Indonesia memiliki intensitas yang tinggi dimana cukup merepotkan dan berbahaya untuk bepergian dengan berjalan.

4. Tidak Menjadi Kultur di Indonesia

Di negara-negara maju, jalan kaki telah dibiasakan sejak mereka kecil. Hal ini tentunya berbeda dengan keadaan di Indonesia. Karena bukan kebiasaan yang wajar, masyarakat tidak berpikir bahwa bepergian dengan berjalan adalah sebuah keharusan. Diperlukan sosialisasi dan kesadaran yang tinggi pada setiap warga untuk mulai menanamkan budaya bepergian dengan berjalan.

Baca Juga: 4 Tips Konsisten Olahraga, Biar Badan Lebih Sehat!

5. Terbiasa dengan Kemudahan Teknologi

Alasan masyarakat malas jalan kaki di Indonesia karena terlalu terlena dengan kemajuan teknologi yang ada. Seperti lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi daripada bersusah payah untuk bepergian dengan berjalan. Selain itu, munculnya aplikasi pesan antar makanan, online shop, dan berbagai kemudahan lainnya pun menjadi alasan masyarakat malas untuk berjalan. 

Kesadaran masyarakat untuk bepergian dengan berjalan harus menjadi perhatian. Kebiasaan bepergian dengan berjalan dapat mengurangi polusi, meningkatkan kesehatan, dan menghemat pengeluaran. Kesadaran untuk bepergian dengan berjalan harus ada dalam setiap orang. Diperlukan orang-orang yang mau untuk menjadi contoh bagi masyarakat lainnya. Apakah kamu dapat mengawali kebiasaan bepergian dengan berjalan di Indonesia? Yuk, mulai untuk menerapkan budaya jalan kaki di Indonesia.

Selain mengawali budaya bepergian dengan berjalan, yuk bantu pengusaha mikro untuk mengembangkan bisnisnya dengan cara mulai modalin mitra di Amartha. Di microfinance marketplace Amartha, kamu dapat mulai berinvestasi mulai dari Rp100.000 saja dengan imbal hasil 15% flat per tahun. Hasil investasi pun dapat menjadi pendapatan pasif untukmu.

Download aplikasi Amartha di Android
Download aplikasi Amartha di iOS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here