Ibu Suyanti, Ketika Perempuan Jadi Kepala Rumah Tangga

Ibu Suyanti, Ketika Perempuan Jadi Kepala Rumah Tangga

Dua tahun lalu, sang suami telah meninggal dunia. Ibu Suyanti atau yang akrab disapa Ibu Yati ini harus berjuang menjadi kepala rumah tangga. Beruntung, dia mempunyai usaha warung sembako yang digelutinya sejak enam tahun lalu.

Usaha kecilnya ini cukup membantu kebutuhan keluarga sehari-hari. Dia menjual barang dan makanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para warga di sekitar rumahnya. Saban hari, dirinya bekerja sendiri di warung tersebut. “ Ya, saya jualan makanan yang dijual itu tahan lama dan tidak cepat basi. Jual untuk anak-anak yang ingin camilan hingga bapak-bapak yang memerlukan rokok atau alat cukur,” kata Ibu Yati.

Saat ini, anak tunggalnya telah menikah dan mempunyai anak. Alhasil, dirinya bekerja sendiri di warung. Dia pun memilih usaha warung karena tidak memerlukan kerja yang ekstra keras. Dia hanya menjual barang dan makanan yang sudah jadi. “Kalaupun ingin membuka warung makan, akan membutuhkan banyak tenaga. Saya tidak memiliki cukup tenaga untuk itu. Saya juga usianya sudah 54 tahun, agak repot kalau bekerja sendiri,” ujarnya.

Dahulu mendiang suami bekerja sebagai pengelola traktor baja.  Adapun traktor baja milik suaminya kini dikelola dan dirawat oleh tetangganya. “Setelah suami wafat, saya perlu menyambung hidup. Saya kemudian mulai memperbesar usaha pelan-pelan karena modal masih sedikit waktu itu,” jelasnya.

Warung yang dibangun di rumahnya itu tak pernah sepi pembeli. Beberapa warga sekitar membeli kebutuhan di warung tersebut. Suatu waktu itu, dia mempunyai kesulitan untuk memperbesar usahanya. Dia mengalami keterbatasan modal. Suatu ketika dia bertemu dengan salah satu petugas Amartha. Perkenalannya dengan Amartha justru membatu usahanya menjadi maju.

“Saya berkenalan dengan petugas Amartha.  Waktu itu belum tahu Amartha. Jadi, saya tanya. Ternyata, Amartha merupakan lembaga peminjam yang membantu para ibu-ibu untuk mengembangkan bisnis. Saya tertarik,” ujarnya

Untuk memperbesar usahanya, Ibu Yati meminjam modal usaha kepada Amartha sebesar Rp 3 juta pada 2016. Kemudian, pada 2017, modal usahanya bertambah menjadi Rp 5 juta. “Sekarang sudah masuk angsuran ke-40. Kalau seminggunya itu saya bayar Rp 130.000. Saya maunya usaha saya semakin besar lagi nanti ke depannya,” ucapnya.

“Saya senang bisa berada di majelis. Karena saya jadi bisa mengerti bagaimana berusaha oleh teman-teman di Amartha,” ucapnya.

Setiap minggu, Ibu Yati berkumpul dengan para pengusaha mikro lainnya dalam sebuah majelis untuk membahas perkembangan bisnisnya. Dia sangat terbantu dengan perkumpulan majelis yang dibentuk Amartha. Dia juga semakin mengenal para ibu-ibu yang memiliki usaha tersebut. Seperti diketahui, fintech aman dan terpercaya Amartha membentuk suatu kelompok di beberapa daerah. Kelompok itu terdiri dari 15 – 25 pelaku usaha mikro. Perusahaan yang berdiri sejak 2010 ini mengembangkan sistem Tanggung Renteng (Grameen Model). “Saya senang bisa berada di majelis. Karena saya jadi bisa mengerti bagaimana berusaha oleh teman-teman di Amartha,” ucapnya.

Ibu Yati tetap berjuang di usianya yang sudah menginjak 54 tahun. Meskipun, anak tunggalnya sudah bekerja dan berkeluarga. Perempuan tangguh ini tetap ingin bekerja di masa tuanya. Dia tidak mau membebani anaknya untuk membiayai seluruh kehidupannya. Apalagi, sejak sang suami telah tiada, dia tetap bekerja dari pagi hingga malam di warung tersebut.

Please follow and like us:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

FACEBOOK
FACEBOOK
GOOGLE
GOOGLE
https://blog.amartha.com/ibu-suyanti-ketika-perempuan-jadi-kepala-rumah-tangga">
LINKEDIN
%d bloggers like this: