Home Lifestyle ⛾ How I Went Through My Quarter-Life Crisis

How I Went Through My Quarter-Life Crisis

“Duh gw ga tau mau jadi apa?” atau “Kenapa gw ada di dunia ini ya? Tujuannya untuk apa?” Pernah tidak punya pertanyaan seperti ini di benak kalian? Mungkin jika ada yang pernah memiliki pertanyaan tersebut, kamu sedang mengalami yang namanya Quarter-life crisis

Menurut studi yang dilakukan oleh LinkedIn, 75% dari orang yang berumur 25-33 tahun pernah mengalami periode Quarter-life crisis dengan rata-rata berumur 27 tahun. Saya sendiri juga pernah mengalami hal tersebut dan banyak sekali pertanyaan yang muncul di dalam benak saya sampai membuat kepala saya pusing. 

Mulai mempertanyakan mengenai eksistensi diri saya di dunia ini, membandingkan diri saya dengan orang lain, hingga mempertanyakan apakah Tuhan itu benar ada?. Semua pertanyaan ini muncul ketika saya berumur sekitar 24 atau 25 tahun.

“Mengenai eksistensi diri saya di dunia ini, membandingkan diri saya dengan orang lain, hingga mempertanyakan apakah Tuhan itu benar ada?”.

Saat itu sekitar tahun 2014, kebetulan saya sedang menempuh studi S2 di University of Amsterdam, Belanda. Pertama kali saya tinggal sendiri jauh dari keluarga dan teman-teman dan tidak mengenal siapapun disana. Mungkin banyak yang berpikir tinggal di luar negeri enak, memang betul enak, tapi ketika banyak pertanyaan yang sedang berada di dalam pikiran saya dan dimana semua kegiatan harus dimulai dari awal, mungkin kata enak menjadi kurang relevan.

Pada saat itu saya pergi meninggalkan keluarga yang sebenarnya bisa dibilang sedang dalam kondisi yang kurang baik, namun karena Ibu saya meyakinkan saya untuk pergi, akhirnya saya pergi. Saat itu juga, saya sedang berada di dalam hubungan percintaan yang ketika saya berkaca sekarang, bisa dibilang “cinta buta” namun saya bisa mengambil banyak pelajaran dari sana.

Oke, jadi pada tahun tersebut banyak sekali pikiran yang membuat saya meragukan eksistensi hidup. Mungkin karena saya belum banyak pengalaman mengenai hidup, saya mulai berpikir bahwa yang saya lakukan selama ini hanya menghabiskan waktu saja. 

Saya juga mulai membandingkan hidup saya dengan teman seumur saya yang sudah bekerja di perusahaan yang bagus dan mapan. Apakah saya salah mengambil studi di luar? Bukannya lebih baik saya bekerja saja?.

Semua pertanyaan itu muncul disaat saya seharusnya harus fokus belajar dan menyelesaikan studi saya. Permasalahan keluarga dan hubungan percintaan juga membuat saya kehilangan motivasi untuk belajar. Dampaknya? Saya gagal dalam ujian dan harus mengambil ulang mata kuliah yang sama di tahun depan. 

Depresi? Tentu saja, saya mempertanyakan diri saya hingga sampai pada titik apakah Tuhan itu ada? Kalau ada kenapa Dia membiarkan saya?. Saat itu saya mulai menjauh dari agama dan mengurangi sosialisasi dengan orang lain.

Kemudian saya memutuskan untuk “Solo travelling”. Saya suka traveling tapi tidak pernah melakukannya sendiri. Akhirnya karena depresi, saya memutuskan untuk pergi sendiri. Karena mudahnya transportasi di Eropa seperti bus dan kereta, saya dapat dengan mudah menjangkau berbagai tempat.

Di saat berpergian dan sendiri itulah saya mulai banyak membaca artikel mengenai “Quarter-life crisis”, mencoba berbicara terhadap diri saya sendiri dan mengenal diri saya, melihat tempat baru dan juga bertemu serta berbicara dengan orang baru. 

Pikiran saya mulai terbuka, ternyata Tuhan itu ada, dia memang tidak berbicara langsung terhadap saya, tapi dia menunjukkan kehadirannya melalui media lainnya. Bertemu dan berbicara dengan orang baru juga membuat saya sadar, semua permasalahan yang saya jalani itu ada pelajaran yang bisa diambil dan memang tidak bisa instan solusinya

Solo travelling juga menyadarkan diri saya bahwa setiap orang memiliki timezonenya masing-masing, tidak perlu membandingkan satu sama lain. Kegagalan merupakan hal yang biasa dan bukan hal yang menjatuhkan, tetapi hanya ujian supaya dapat mempersiapkan sesuatu dengan lebih baik lagi.

Teringat teman saya pernah berkata “Tidak semua jawaban atas pertanyaan itu akan hadir disaat itu juga”. Perkataannya membuat saya mulai berpikir dan sadar, semua pertanyaan yang saya miliki pasti akan ada jawabannya, hanya terkadang kita kurang sabar mencari dan menunggunya.

“Tidak semua jawaban atas pertanyaan yang ada akan hadir disaat itu juga”

Menjelang akhir tahun 2015, saya mulai bisa berdamai dengan diri saya dan menikmati semua proses perjalanan kehidupan yang saya alami hingga saat ini. Apakah saya sudah menyelesaikan “Quarter-life crisis” saya? Mungkin, jika belum pun saya sudah mempersiapkan diri saya untuk menjalaninya dengan tenang dan lebih santai. 

So that’s my story, what’s yours? Let’s share it in the comment section below!

Subscribe to Our Newsletter

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.

Khrisna Ariahttp://www.travelbuddy.id
Generalist by heart. Part time traveller, full time wanderer.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

CEO Letter: Dukungan untuk Sektor Usaha Mikro Indonesia

Kepada Pendana Amartha yang terhormat,Semoga Anda dan keluarga dalam keadaan sehat sepenuhnya. Di tengah pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung,...

Apa Itu TKB90 dan TKW90?

Amartha terus menjalankan prinsip transparansi kepada masyarakat dengan mencantumkan Tingkat Keberhasilan 90 (TKB90) di halaman utama website Amartha.com. Dengan transparansi ini, pemberi pinjaman akan...

Usaha yang Cocok di Tengah Pandemi Corona

Covid-19 atau virus corona sedang mewabah sehingga semua orang harus diam di rumah mengisolasi diri. Tapi kalau begini terus semua aktivitas jadi...

7 Amalan Sunnah di bulan Ramadhan yang Bikin Ibadahmu Makin Berkah

Akhirnya bulan yang dinanti-nanti oleh seluruh umat muslim di berbagi penjuru dunia tiba, Ramadhan yang penuh berkah, hikmah dan ampunan, karena berbagai...