Hari Air Sedunia dan Keterbatasan Akses Air Bersih di Daerah Rural

|

|

|

Selamat Hari Air Sedunia.

Tanggal 22 Maret selalu diperingati sebagai Hari Air Sedunia sebagai bentuk kesadaran dan upaya mencegah krisis air global di masa depan.

Air merupakan salah satu kebutuhan penting bagi manusia, tumbuhan, dan hewan di muka bumi ini. Maka dari itu kehadirannya sangatlah penting dan harus terus disediakan. Ada 2,2 miliar manusia di bumi ini yang membutuhkan akses air bersih.

Ide Hari Air sendiri dimulai pada tahun 1992 saat Konferensi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) tentang Lingkungan dan Pembangunan di Rio de Janeiro.

Kepedulian terhadap masalah air terus berkembang dalam kegiatan-kegiatan lain seperti Tahun Kerja Sama Internasional di Bidang Air pada tahun 2013 dan Dekade Aksi Internasional tentang Air untuk Pembangunan Berkelanjutan (2008-2028).

Tindakan tersebut dilakukan karena anggota PBB percaya bahwa air dan sanitasi adalah kunci untuk pengentasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, dan kelestarian lingkungan.

Masalah Air Bersih di Indonesia

Air bersih di Indonesia telah dijamin dalam Undang-Undang yaitu Pasal 33 UUD 1945 ayat (3) yang berbunyi “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”

Selain itu, kebijakan tersebut turut dipertegas dalam UU No.23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah bahwa pemenuhan air bersih bagi masyarakat merupakan salah satu tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah sebagai bagian dari pelayanan publik yang harus mereka lakukan.

Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tidak ada provinsi di Indonesia yang memiliki akses terhadap sumber air minum layak hingga 100 persen.

Hingga tahun 2011, rumah tangga di Indonesia lebih mengandalkan sumur terlindung (air yang berasal dari dalam tanah bila lingkar sumus tersebut dilindungi oleh tembok paling sedikit 0,8 meter di atas tanah dan 3 meter ke bawah tanah) sebaai sumber air minum dengan persentase 25,42%.

Angka tersebut terus menurun, di tahun 2016, hanya ada 21% rumah tangga yang menggunakan sumber air minum ini. Salah satu indikasi penurunannya adalah semakin tercemarnya sumur terlindung.

Laporan Perkembangan Air Minum dan Sanitasi 2014 oleh WHO / UNICEF menyebutkan 26% rumah tangga di daerah pedesaan tidak memiliki akses air bersih dan sanitasi. Sementara data BPS tahun 2017 menunjukkan 17% rumah tangga pedesaan di Indonesia belum memiliki toilet dan masih buang air besar sembarangan. Fakta-fakta tersebut menunjukkan risiko lingkungan rumah tangga yang tidak sehat yang kemudian berkontribusi pada angka kemiskinan.

Adalah Ibu Junengsih, salah satu dari banyak mitra Amartha yang kesulitan mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia harus menempuh jarak jauh untuk mendapatkan air bersih. Meskipun demikian, Ibu Junengsih dan mitra Amartha lainnya yang kini dapat memiliki akses air bersih dan sanitasi.

Sebagai informasi, Amartha merupakan perusahaan investasi peer to peer lending yang menghubungkan pendana atau investor kepada peminjam khususnya perempuan pengusaha mikro di pedesaan. Pendana yang mendanai mitra usaha akan mendapatkan keuntungan hingga 15% flat per tahun.

Amartha memiliki visi dan misi menciptakan kesejahteraan merata di Indonesia dengan menyalurkan pendanaan usaha disertai pelatihan dan pendampingan usaha. Salah satu untuk mencapai hal tersebut adalah memberikan banyak perhatian pada sarana air bersih dan sanitasi mitra Amartha.

Laporan Akuntabilitas Sosial Amartha tahun 2019 menunjukkan, 94% peminjam Amartha sudah memiliki akses pribadi air bersih dan 93% di antaranya sudah menggunakan toilet jongkok atau duduk.

Terkait akses ke sumber air bersih, hanya 2% peminjam Amartha yang tidak memiliki kebersihan yang layak akses air. Sekitar 45% peminjam memiliki akses ke fasilitas perpipaan air, sementara 49% lainnya memiliki sumur air pribadi di rumah dan 4% menggunakan fasilitas air minum umum.

Tahun 2020 lalu pula Amartha telah memprakarsai proyek kemitraan dengan Rumah Zakat yang disebut “Desa Sejahtera” untuk menyediakan toilet umum dan sumur air Jawa barat. Proyek ini dirancang untuk mengatasi masalah fasilitas sanitasi dan mengurangi risiko stunting yang memiliki kontribusi signifikan terhadap tingkat pendapatan rumah tangga dalam jangka panjang (Kementerian Kesehatan, 2018).

LANGGANAN EMAIL MONEY+

DAPATKAN INFO TERBARU
TENTANG MONEY+

Team Money+
Money + is financial blog for everyday life. We cover a wide range of everyday life topics including technology, lifestyle, careers, sharia and women empowerment. We strive to make financial easy to understand and fun for everyone!

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Usaha yang Cocok di Tengah Pandemi Corona

Covid-19 atau virus corona sedang mewabah sehingga semua orang harus diam di rumah mengisolasi diri. Tapi kalau begini terus semua aktivitas jadi...

Ini Daftar Negara Termiskin di Dunia, Ada Indonesia Gak Ya?

Setiap negara di dunia diklasifikasikan menjadi 3, yaitu negara miskin, berkembang, dan maju. Dalam klasifikasi ini setiap organisasi dunia memiliki indikatornya...

Butuh Dana Cepat? Ini Pilihan Pinjaman Syariah Bebas Riba

Perlu modal besar untuk buka usaha? Pinjam ditempat lain tapi takut riba? Kamu tidak usah khawatir, pasti saja ada solusinya. Kini ada...

Moms, Ini Lho Perkiraan Biaya Imunisasi Si Kecil

Buat bayi, imunisasi adalah hal yang sangat penting didapat mengingat daya tahan tubuhnya masih sangatlah lemah. Sebagai informasi, imunisasi merupakan cara meningkatkan...