Habibienomics, Konsep Ekonomi ala BJ Habibie

Habibienomics, Konsep Ekonomi ala BJ Habibie

Indonesia berduka. Pada 11 September 2019, Presiden ke-3 Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie atau BJ Habibie menghembuskan nafas terakhir di RSPAD Gatot Soebroto. 

Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan instruksi pengibaran setengah tiang dan hari berkabung selama tiga hari berdasarkan surat dari Menteri Sekretaris Negara dengan nomor B-1010/M.Sesneg/Set/TU.00/09/2019 yang ditandatangani Mensesneg Pratikno.

Instruksi itu diberikan kepada para pimpinan lembaga, menteri, jaksa agung, panglima TNI, Kapolri, para pimpinan BUMN serta duta besar di berbagai negara.

Semasa hidupnya, BJ Habibie memberikan banyak kontribusi bagi Indonesia, salah satunya dalam bidang ekonomi yang bernama Habibienomic.

Konsep Habibienomics pada dasarnya adalah pemikiran dari BJ Habibie. Konsep tersebut pertama kali diulas oleh Kwik Kian Gie pada 1993 yang dimuat di harian Kompas dengan tajuk Konsep Pembangunan Ekonomi Prof. Habibie. Isi dari konsep tersebut mengenai strategi industrialisasi yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui teknologi. 

Menurut Joy Tulung, Pengamat Ekonomi dari Universitas Sam Ratulangi Manado, konsep Habibienomics adalah sebuah aliran pemikiran yang penting dan relevan untuk diterapkan saat ini dan masa mendatang.

Bagi Joy, konsep ini bermakna mengembalikan kedaulatan ekonomi Indonesia yang artinya setiap produk yang dihasilkan rakyat harus bernilai tambah dan memberikan tambahan kesejahteraan bagi rakyat.

Arif Budiman dalam Kompas, 5 Mei 1993 menyimpulkan pemikiran Habibienomics yakni, perekonomian harus dikembangkan melalui perebutan teknologi canggih untuk mengejar ketertinggalan dari negara maju. Indonesia tidak boleh hanya menjadi negara yang hanya bisa memproduksi barang yang memiliki keunggulan komparatif, tetapi harus memiliki keunggulan kompetitif. Keunggulan kompetitif itu bisa dicari melalui pengejaran teknologi tinggi.

Saat itu, konsep ini belum terealisasi karena masalah ekonomi yang dihadapi oleh Indonesia. Namun, konsep Habibienomics kini ramai dijalankan oleh pelaku usaha di Indonesia melalui finansial teknologi (fintek).

Awal Mula Fintek

Industri fintek terutama peer to peer lending muncul pertama kali di Inggris dengan nama perusahaan Zopa pada tahun 2005. Industri tersebut mulai menyebar ke seluruh dunia dan masuk ke Indonesia sekitar tahun 2006.

Peer to peer (P2P) lending adalah perusahaan yang menghubungkan investor kepada peminjam melalui teknologi atau internet. Baik investor atau peminjam diseleksi melalui sistem yang dimiliki masing-masing perusahaan.

Di Indonesia, industri fintek sendiri sedang digandrungi oleh masyarakat. Menurut data OJK, sampai tanggal 7 Agustus 2019 sudah ada 127 perusahaan yang terdaftar dan diawasi. Tujuh di antara perusahaan tersebut sudah memiliki Izin Usaha dan salah satunya adalah Amartha.

Amartha merupakan perusahaan p2p lending yang menghubungkan pendana di kota kepada peminjam di desa dan khusus hanya kepada perempuan.

Saat ini, Amartha telah menyalurkan lebih dari 260.000 pengusaha kecil dan mikro di seluruh Pulau Jawa. Menurut Laporan Akuntabilitas Sosial Amartha tahun 2018, sebanyak 70% peminjam Amartha memiliki penghasilan rata-rata per bulan lebih dari 5 juta rupiah. Hal ini senada dengan pemikiran BJ Habibie melalui konsep Habibienomics.

Dengan mendanai di Amartha, kamu bisa mewujudkan kesejahteraan yang merata bagi rakyat Indonesia. Cari tahu informasi selengkapnya di www.amartha.com!

Please follow and like us:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

FACEBOOK
FACEBOOK
LINKEDIN
%d bloggers like this: