Mengenal FOMO Syndrome dan Cara Mengatasinya

0
1209

Fear of Missing Out atau FOMO merupakan salah satu sindrom mengenai kecemasan sosial. FOMO sudah lama terjadi di masyarakat namun jumlahnya meningkat seiring dengan kemajuan teknologi seperti media sosial.

FOMO: Apa dan Bagaimana?

Istilah Fear Of Missing Out atau akrab didengar FOMO muncul pertama kali dalam sebuah makalah yang ditulis oleh Dan Herman, seorang marketing strategist pada tahun 2000.

Mengaitkannya dengan psikologi konsumen, Dan Herman meneliti FOMO sebagai fenomena sosio-kultural, motivasi, dan faktor kepribadian. Karena dianggap penting, istilah FOMO dicatat dalam Oxford English Dictionary pada tahun 2013.

Krisis Identitas, Apakah Ini Trend Baru?

FOMO memiliki arti sebagai suatu kondisi perasaan di mana seseorang merasa gelisah, cemas, takut, hingga frustasi ketika ketinggalan suatu hal terbaru seperti berita atau tren terkini.

Berdasarkan riset, generasi yang paling banyak mengalami FOMO syndrome adalah generasi di rentang usia kelahiran tahun 1980-an hingga 1990-an. Di Amerika ada 24% remaja yang menghabiskan waktu di depan smartphone selama 8-10 jam setiap harinya. Hal ini bisa mirip-mirip dengan di Indonesia.

Terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial dapat membuat seseorang mengalami FOMO Syndrome. Ia akan terus membandingkan hidupnya dan kemudian menyamai dengan orang yang meng-influence mereka.

Hal tersebut bisa jadi baik sekaligus buruk. Baik bila ia terpapar pengaruh baik dan sebaliknya. FOMO dapat berdampak pada masalah kesehatan juga masalah pengambilan keputusan yang dalam hal ini merujuk pada soal keuangan.

Cara Mengatasi FOMO Syndrome

Secara langsung atau tidak, gangguan FOMO yang dibiarkan dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan psikologis seseorang. Ia akan merasa kelelahan, sulit konsentrasi, gemetar, hingga sulit tidur. Lebih parah dari itu, seseorang dengan gangguan FOMO bisa mengidap depresi.

Karena FOMO dilatari oleh rasa tidak bahagia dan rasa kurang puas terhadap suatu hal, maka kunci untuk mengatasinya adalah dengan cara bersyukur dan berbahagia. 

Berdamai Dengan Diri Sendiri

Penulis Happines by Design, Paul Dolan mengutarakan kalau kebahagiaan ditentukan oleh bagaimana seseorang mengalokasikan perhatian. Berhenti memperhatikan atau bermain media sosial bisa menjadi solusi awal.

Ambillah jeda rutin dalam bermain media sosial seperti setiap satu minggu sebulan, atau seminggu per tiga bulan, dan lain sebagainya.

Langkah selanjutnya adalah bersyukur. Langkah ini adalah langkah yang susah-susah mudah. Bersyukur dapat dilakukan dengan melihat kembali atas apa yang sudah kamu raih dan miliki.

Perbanyak mengalokasikan waktu bersama orang-orang terdekat seperti orang tua, keponakan yang lucu-lucu, hingga waktu untuk diri sendiri.

Kamu bisa kok berbahagia karena hal-hal yang sederhana, termasuk mendanai mitra usaha Amartha yang mayoritas adalah perempuan pengusaha mikro yang tidak terlayani oleh lembaga keuangan konvensional. Dana yang kamu miliki akan sangat berguna bila digunakan untuk menyokong modal usaha mereka.

Amartha adalah perusahaan investasi P2P Lending yang menghubungkan investor kepada peminjam melalui suatu platform. Amartha fokus menyalurkan pendanaan dan memberikan pendampingan usaha serta literasi keuangan kepada para perempuan pengusaha mikro di pedesaan. Investor bisa mendapatkan keuntungan sampai 15% flat per tahun.

Ayo baca juga cerita inspiratif dari mitra Amartha yang sudah sukses dari pendanaan Anda!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here