Home Sport E-Sport : Era Baru Dunia Olahraga

E-Sport : Era Baru Dunia Olahraga

|

|

|

“Bedu! Jangan main game terus. Sana belajar!”
“Tidak boleh main game! Main game gak akan bikin kamu sukses.”
“Nintendo-nya mamah gembok. Mainnya kalo libur saja!”


Generasi 90-an pasti familiar dengan narasi-narasi seperti diatas, bahkan hingga beranjak remaja pun stigma negatif terhadap game masih belum berubah. Sebagian besar dari Kita pasti memiliki pengalaman atau teman yang terganggu kuliahnya karena gila main game, bahkan ada yang hingga di drop out. Namun seiring perkembangan zaman, stigma negatif tersebut perlahan mulai bergeser. Saat ini aktifitas main game sudah menjadi sebuah profesi bahkan dapat disebut sebagai atlet professional atau yang biasa dikenal sebagai atlet e-sport.

Perkembangan pesat dunia game online tidak terlepas dari pesatnya pertumbuhan teknologi sehingga menyebabkan mudahnya akses terhadap teknologi saat ini. Mulai dari ketersediaan internet hingga gadget untuk bermain game. Jika dulu game online hanya dapat di akses melalui PC, saat ini kita tidak perlu repot ke warnet untuk dapat memainkan game online. Cukup bermodalkan smartphone dan akses internet cepat, kita dapat dengan mudah memainkan game di smartphone seperti Mobile Legend, PUBG Mobile, dan lain-lain.


Hadiah Sangat Besar


Banyaknya kompetisi game online berskala nasional dan internasional juga turut mempengaruhi perkembangan dunia e-sport hingga seperti saat ini. Tidak hanya kompetisi khusus game online, kompetisi olahraga tradisional pun sudah mulai mempertandingkan e-sport sebagai salah satu cabang olahraga resmi yang dilombakan. Asian Games 2018 di Indonesia merupakan pelopor dipertandingkannya e-sport di ajang olahraga tradisional, meskipun hanya sebatas ekshibisi. Sementara pada tahun 2019, e-sport merupakan salah satu cabang olahraga bermedali di SEA Games Filipina 2019. Bahkan Komite Olimpiade Internasional (IOC) saat ini sedang mempertimbangkan untuk mempertandingkan e-sport pada kompetisi olahraga terbesar dan tertua di dunia, Olimpiade Tokyo 2020.
Khusus untuk turnamen e-sport sendiri, saat ini menawarkan hadiah yang sangat besar, bahkan lebih besar dibandingkan hadiah yang dipersembahkan oleh olahraga tradisional. Dilansir dari berbagai sumber, tim pemenang The International 9 yang merupakan turnamen Dota 2 terbesar di dunia mendapatkan hadiah sebesar US$ 15,6 juta atau lebih dari US$ 3,1 juta per orang, sedangkan seorang pemenang Fortnite World Cup berhasil membawa pulang hadiah sebesar US$ 3 juta. Sebagai perbandingan, Tiger Woods “hanya” mendapatkan hadiah sebesar US$ 2,07 juta ketika menjuarai 2019 Masters. Sementara Novak Djokovic dan Simona Halep mendapatkan US$ 3juta ketika menjuarai Wimbledon 2019.

Gambar : Perbandingan hadiah per individu (Dalam Juta USD

Dukungan Banyak Pihak


Lantas, bagaimana tanggapan para penggelut olahraga tradisional dengan perkembangan e-sport tersebut? Alih-alih merasa terancam dengan eksistensi e-sport, para penggelut olahraga tradisional justru mendukung perkembangan e-sport. Mereka memanfaatkan melonjaknya eksistensi e-sport sebagai ajang untuk meningkatkan popularitas di kalangan milenial yang merupakan segmen terbesar dari e-sport itu sendiri. Tercatat beberapa tim sepakbola profesional mulai mengontrak atlet e-sport sebagai perwakilan mereka dalam mengarungi kompetisi game online, sebut saja Manchester City, West Ham United, Wolfsburg, AS Roma, Schalke 04, Valencia, hingga Paris Saint Germain. Manchester City misalnya, salah satu klub terkaya di Inggris tersebut pada Oktober 2016 untuk pertama kalinya merekrut atlet FIFA, Kieran Brown, mengikuti langkah West Ham United yang menjadi pelopor klub sepakbola Inggris pertama yang merekrut atlet e-sport, Sean ‘Dragon’ Allen.

Source : dailymail.co.uk


Dukungan terhadap e-sport tidak hanya datang dari praktisi olahraga, para akademisi pun mulai menaruh perhatian terhadap perkembangan olahraga online tersebut. Terdapat beberapa SMA di seluruh dunia yang memiliki kurikulum e-sport tersendiri, di Indonesia yang paling terkenal ialah SMA 1 PSKD. Sekolah yang terletak di Jakarta Pusat ini telah menerapkan program e-sport mulai dari tahun ajaran 2016-2017. Tidak hanya tingkat SMA, tidak sedikit Universitas yang saat ini telah memiliki program studi e-sport, antara lain University of California, Robert Morris University, dan University of Utah. Mereka bahkan menawarkan beasiswa untuk para pelajar yang ingin serius menggeluti bidang e-sport. Dengan mengikuti program e-sport di Universitas tersebut, Kita akan mendapatkan gelar Sarjana e-sport. Hmm.. menarik bukan?!
Lalu, bagaimana para kalian wahai generasi 90-an yang saat ini sebagian sudah memiliki anak? Apakah tetap meneruskan ‘tradisi’ untuk melarang main game kepada anak? Atau justru mengarahkannya?

(Source : dikutip dari berbagai sumber)

LANGGANAN EMAIL MONEY+

DAPATKAN INFO TERBARU
TENTANG MONEY+

Reza Donadoni
Internal Audit & Risk Management Professional who has hobby in sport

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Usaha yang Cocok di Tengah Pandemi Corona

Covid-19 atau virus corona sedang mewabah sehingga semua orang harus diam di rumah mengisolasi diri. Tapi kalau begini terus semua aktivitas jadi...

Apa Itu TKB90 dan TKW90?

Amartha terus menjalankan prinsip transparansi kepada masyarakat dengan mencantumkan Tingkat Keberhasilan 90 (TKB90) di halaman utama website Amartha.com. Dengan transparansi ini, pemberi pinjaman akan...

Butuh Dana Cepat? Ini Pilihan Pinjaman Syariah Bebas Riba

Perlu modal besar untuk buka usaha? Pinjam ditempat lain tapi takut riba? Kamu tidak usah khawatir, pasti saja ada solusinya. Kini ada...

Pendanaanmu Makin Aman dengan Promo Premi Asuransi 100%! #KitaJanganMenyerah

Dengan semangat #KitaJanganMenyerah, yuk terus dukung Ibu Mitra Amartha untuk bangkit di tengah kondisi pandemi COVID-19 ini! Cek marketplace...