Dua Komunitas Ini Suarakan Kesetaraan Gender

“Dalam membangun Indonesia, kita butuh perempuan-perempuan tangguh. Ada yang langsung terjun ke lapangan, ada yang menjaga tatanan keluarga. Perempuan tangguh dalam hidupku adalah Ibu Iriana. Selamat kepada para perempuan yang hari ini mengikuti Women’s March, dalam rangka Hari Perempuan Dunia yg akan jatuh pada tanggal 8 Maret.” tulis Presiden Republik Indonesia Joko Widodo di akun Instagramnya, beberapa hari lalu.

Ya, tanggal 8 Maret menjadi peringatan International Women’s Day atau Hari Perempuan Sedunia. Pertama kali dirayakan pada 19 Maret 1911 di Austria, Denmark, Jerman dan Swiss. Kemudian, diresmikan menjadi 8 Maret sebagai peringatan terhadap kasus yang terjadi 50 tahun yang lalu. Tepatnya, demonstrasi pada 8 Maret 1857 di New York yang dilakukan buruh untuk melawan penindasan dan gaji buruh yang rendah.

Hari Perempuan Internasional menjadi peringatan keberhasilan kaum perempuan di bidang ekonomi, politik dan sosial. Saat feminisme bangkit kembali pada era 1960-an, hari besar ini kembali dirayakan. Akhir tahun 1975, PBB menyatakan agar perayaan ini dirayakan setiap  tahun di seluruh dunia, sebagai pengingat dan tanda pentingnya kontribusi perempuan di dunia global.

Saat ini, Hari Perempuan Internasional hadir dengan tema Press for Progress. Tema ini diangkat agar wanita terus bergerak dan berani untuk menggapai kesetaraan gender di segala bidang.

“#PressforProgress ini adalah ajakan yang untuk memotivasi mempersatukan teman rekan kerja, dan seluruh masyarakat untuk berpikir, bertindak, dan gender inclusive,” tulis situs Internasional Women’s Day.

Ada beberapa komunitas yang menyuarakan kepentingan-kepentingan perempuan di Indonesia diantaranya Woman In Action dan Konde.co. Mereka terbentuk atas keresahan-keresahan perempuan saat ini. Adalah Cheryl Marella, Dewi Rezer dan Alys Pondaag yang mendirikan Woman In Action (WIN). WIN merupakan wujud kepedulian mereka dalam Woman Empowerment (Pemberdayaan Perempuan). Melalui media sosial, mereka menyuarakan hal tersebut. Tak hanya itu, mereka juga terkadang menjadi bintang tamu, workshop dan aksi lainnya.

“Kita sering diundang event memang yang berhubungan dengan Woman Empowerment. Salah satunya Amartha untuk Investor Day (berkunjung ke desa-desa ibu mitra usaha Amartha). Beberapa ibu-ibu kita cover ceritanya di media sosial. Kami promo juga soal kesehatan, public speaking dan hidup sehat  di media sosial,” kata Cheryl.

Kini, perempuan Indonesia sudah berani menjadi pemimpin. Hal ini terlihat dengan beberapa menteri perempuan di kabinet. Selain itu, Indonesia juga pernah memiliki presiden perempuan. “Ini kemajuan bagi kita, di kota-kota besar. Tetapi berbeda kalau kita menengok di daerah-daerah terpencil yang masih sulit untuk akses pendidikan kemudian internet untuk belajar,” ujarnya.

Hal yang sama dilakukan oleh media online seperti Konde.co. Media ini khusus menyuarakan perempuan dan kelompok marjinal. Para penulisnya berasal dari berbagai latar belakang pekerja dan jaringan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seperti ibu rumah tangga,  jaringan buruh, pembela Hak Asasi Manusia (HAM), perempuan hingga media.

Luviana merupakan pendiri Konde.co yang resah terhadap marjinalisasi, diskriminasi, subordinasi, kekerasan dan stigma yang negatif terhadap perempuan dan masyarakat marjinal. Mereka berjuang melawan keresahan itu lewat media online. “Melalui tulisan, Konde.co hadir dengan gagasan untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan masyarakat marjinal yang memberikan pemahaman, pencerahan, kesadaran dan daya kritis masyarakat,” jelasnya.

Luviana ingin mengajak perempuan untuk menulis mengenai keresahan-keresahan tersebut dari masalah sosial, politik dan ekonomi. Dengan menulis, para perempuan dapat bersama-sama menyebarkan informasi tentang perempuan.

“Kita menulis dan juga mendorong kebijakan-kebijakan soal perempuan salah satunya Rancangan Undang Undang Kekerasan Seksual  yang masih dibahas di DPR. Masalah buruh perempuan yang mengalami eksploitasi dan kekerasan seksual. Perjuangan untuk menolak upah murah. Lalu, buruh perempuan yang bekerja di pabrik-pabrik mengalami nasib tak menentu. Kondisi kerja berat yang tak berpihak pada perempuan hamil, serta kekerasan dan pelecehan di tempat kerja masih terus dihadapi pekerja perempuan,” ucapnya.

Kedua komunitas ini mempunyai visi yang sama dengan Amartha yang mendukung kesetaraan gender bahwa perempuan mempunyai andil besar dalam memajukan ekonomi Indonesia. Dengan hadirnya Amartha sebagai peer-to-peer lending, perempuan pedesaan mendapatkan pendanaan untuk mengembangkan usaha mikro di daerahnya. Mengutip pernyataan Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani Indrawati, berbagai penelitian telah dilakukan dan membuktikan bahwa perempuan memang paling rentan tetapi juga kekuatan paling besar untuk mencapai ekonomi.

Pada Hari Perempuan Internasional ini, Amartha telah melakukan tindakan nyata dalam membangun ekonomi lewat ibu-ibu yang bergerak di usaha mikro di pedesaan.

Dua komunitas ini bergerak memperjuangkan hak-hak perempuan di Indonesia. Lalu bagaimana dengan Anda?

(Tim Amartha)

Please follow and like us:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

FACEBOOK
FACEBOOK
GOOGLE
GOOGLE
https://blog.amartha.com/dua-komunitas-ini-berani-suarakan-kesetaraan-gender">
LINKEDIN
%d bloggers like this: