/

Dorong Kemajuan Ekonomi Indonesia, Wujud Kontribusi Amartha Majukan ASEAN

Hari ulang tahun ASEAN KE 50

Kontribusi Nyata Amartha, dalam Majukan ASEAN

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I/2017 sebesar 5,01%. Nampaknya hal ini adalah sebuah kabar gembira bagi kita, karena sebelumnya BI hanya memproyeksikan pertumbuhan pada 4.9% saja. Namun apakah kemajuan dan tumbuhnya ekonomi Indonesia tersebut telah dirasakan dampaknya oleh seluruh rakyat Indonesia?

Jawabannya adalah belum sepenuhnya. Hal ini merujuk pada data BPS bahwa masyarakat miskin di pedesaan jumlahnya masih lebih tinggi dari pada masyarakat miskin di kota yaitu di pedesaan mencapai 13,96% dan di perkotaan hanya 7,73%, maka  hampir dua kali lipat total penduduk miskin yang tinggal di pedesaan.

Meskipun kita sadar, bahwa Indonesia sendiri memiliki potensi ekonomi yang sangat menjanjikan. Namun sayangnya, pertumbuhan ekonomi yang cukup mengesankan dalam triwulan I di tahun 2017 ini kurang dibarengi dengan pemerataan. Kesenjangan masih terjadi di 17.000 kepulauan Nusantara, menghambat lebih dari setengah penduduk Indonesia untuk turut serta dalam pesta kesejahteraan, seiring meningkatnya perekonomian negara kita. 

Selama beberapa tahun kebelakang ini, pemerintah serta sektor swasta telah mencoba untuk mengurangi angka kemiskinan di negara kita dengan memberikan akses pembiayaan non-bank kepada masyarakat ekonomi kecil. Akses pembiayaan ini yang diharapkan dapat menjadi penggerak ekonomi kerakyatan, sehingga dapat mengurangi angka kemiskinan pada daerah-daerah terpencil. Sama halnya dengan apa yang telah dilakukan oleh Amartha selama lebih dari 7 tahun belakangan ini. Pada tahun 2010, Amartha telah mencoba untuk turut serta dalam melakukan pembangunan ekonomi pedesaan, dengan memulai menyalurkan pembiayaan produktif melalui microfinance di daerah Jawa Barat.

Hasilnya, pengusaha mikro mengalami 41% peningkatan pendapatan bisnis perbulan setelah menerima pinjaman modal kerja mulai 2 juta Rupiah. Hal ini juga diikuti dengan perbaikan kualitas hidup keluarga, contohnya adalah setelah mendapat pemodalan dan peningkatan pendapatan, partisipan yang menggunakan lantai tanah turun dari 25% menjadi 14%. Angka tersebut nampak signifikan dalam menurunkan tingkat kemiskinan. Studi ini dilakukan oleh Amartha pada Januari 2017 yang lalu pada 400 pelaku usaha informal seperti peternak ikan cupang, penganyam keset, dan pedagang warung kelontong di wilayah Bogor dan Bandung.

Amartha sebagai penyedia jasa layanan Peer-to-peer Lending P2P (pinjam meminjam berbasis teknologi), terus berkomitmen untuk selalu hadir di tengah-tengah masyarakat piramida bawah, dengan terus mendorong mereka menjadi lebih mandiri dan berdaya. Maka, memperingati ulang tahun ASEAN yang ke-50 hari ini, Amartha turut berbahagia dan bangga, mampu menjadi salah satu lokomotif yang terus berkontribusi sebagai penggerak kemajuan ekonomi nasional, yang nantinya akan bermuara pada kemajuan ASEAN, dimana bangsa Indonesia merupakan salah satu bagian darinya.

Kemudian diharapkan, dengan terus berkembangnya Amartha, dapat membantu mengurangi tingkat kemiskinan, dan memberikan kesempatan kepada orang banyak untuk berpartisipasi dalam misi sosial, yaitu mendorong masyarakat prasejahtera, untuk maju dan berdaya dan dapat turut menikmati kemajuan perekonomian nasional yang semakin baik.

Disamping itu juga, dapat menjadi jembatan masyarakat ekonomi kecil dalam mendapatkan jalur pembiayaan, yang mana mereka tidak mungkin dapatkan melalui bank. Sebagai hasilnya, hal tersebut dapat membantu menggerakan roda perekonomian secara nasional dan menjaga pertumbuhan ekonomi pada kondisi yang diharapkan.

Please follow and like us:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

FACEBOOK
FACEBOOK
GOOGLE
GOOGLE
https://blog.amartha.com/dorong-kemajuan-ekonomi-indonesia-untuk-asean">
LINKEDIN
%d bloggers like this: