Does Subscription Really Save Your Money? 2020 Declutter Challenge: Unsubscribe! 

Millennial

Baru saja gajian, sudah harus bayar tagihan yang menumpuk dari Spotify, Netflix dan biaya subscription lainnya? Selalu jadi donatur bulanan setia fitness centre yang faktanya hanya didatangi dalam hitungan jari? Atau iseng mencoba layanan promo paket bundling food delivery dari penyedia ride hailing yang malah jadi lebih boros karena lebih banyak jajan? Ternyata, tanpa terasa kebiasaan subscription bisa menjadi “bocor halus” di dompetmu yang jika dihitung-hitung bisa menembus jutaan rupiah per bulan!

Penawaran yang diberikan dari model bisnis subscription/paywall sangatlah beragam. Beberapa pilihan penyedia layanan favorit saya berdasarkan kategorinya :

– Penyedia Layanan Konten

Medium: Tidak bisa mengakses lebih dari 4 artikel setiap bulannya
TechinAsia: Tidak dapat mengakses konten pilihan dan premium

– Layanan Entertainment

Spotify: mendengar konten non-stop bebas iklan dan dapat mengakses konten meskipun offline
Audible & Kindle from Amazon: pengalaman audiobook yang dibacakan langsung eksklusif oleh pengarangnya dilengkapi dengan e-book.

– Layanan Lifestyle

Yummy Box (Ismaya) : layanan catering harian dengan variasi menu sehat dan enak  dan layanan pengantaran gratis. Meniadakan kebingungan ‘mau makan apa hari ini’ tanpa khawatir ongkos kirim seharga pesanan makanan 😉
Style Theory: layanan sewa baju desainer yang menyelesaikan dilema ‘mau pakai baju apa ke kondangan hari ini’

Berbagai kemudahan dari fitur layanan – layanan dan bagaimana membedakan pengguna gratis dengan pengguna berbayar. Bahkan penawaran Free Trial pun semakin mempersulit konsumen untuk mengambil keputusan yang lebih rasional dan objektif. Sehingga banyak dari kita cenderung mengambil keputusan impulsif setelah sejenak menikmati layanan dan fitur yang ditawarkan, terutama bila ditambah dengan daya tarik harga yang “lebih murah” dan promo yang “dibuang sayang”

Memasuki tahun 2020, saya memiliki resolusi untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan termasuk meniadakan pengeluaran yang tidak perlu dari keimpulsifan paket berlangganan bulanan saya. Kemudian saya mencoba melihat kembali list subscription selama 2019 dan merefleksikan apakah betul betul bermanfaat dan tepat guna. Ada beberapa pertanyaan yang saya gunakan sebagai self-check list untuk validasi apakah keputusan subscription kamu sudah wise atau masih impulsif.  Yuk sambil lihat juga ceklist mu!

Apakah benar bundling dan promo dapat membuat kita berhemat? Apakah sudah benar-benar dihitung?

Pastikan pemilihan layanan atau fitur yang memang sering kamu gunakan di level frekuensi minimal tertentu dimana biaya berlangganan lebih kecil dibandingkan jumlah yang harus dibayarkan jika dikalikan dengan frekuensi aktual. Sebagai contoh, jika kamu berlangganan promo paket food delivery dari ride hailing maka kamu dapat merasakan ‘keuntungan maksimal’ apabila setidaknya melakukan sekitar 20 kali order makanan dalam 2 minggu. Pertanyaannya: apakah frekuensi jajan tambahan dengan maksud ‘memaksimalkan benefit promo bulan ini’ membuat saya lebih berhemat?

Apakah memotivasi untuk membentuk habit yang baik?

Berdasarkan riset Phillippa Lally yang dipublikasikan di European Journal of Social Psychology pada tahun 2009, dibutuhkan setidaknya 66 hari untuk membentuk sebuah kebiasaan baru. Dengan berlangganan bulanan, secara bertahap kita akan membentuk kebiasaan dikarenakan meningkatnya frekuensi aktivitas tersebut secara konsisten. Sudahkah layanan berlangganan pilihan kamu memotivasi kamu untuk membentuk kebiasaan baik di tahun 2020 ini?

Dari pengalaman pribadi, saya akhirnya memutuskan untuk berhenti berlangganan Netflix dikarenakan saya merasa time spent Netflix menjadi sangat berlebihan sehingga saya pernah beberapa kali menghabiskan akhir pekan hanya di rumah untuk menamatkan series Netflix favorit. Menurut saya, sistem rekomendasi Netflix sangatlah baik dalam melakukan profiling dari watch history kita dan mampu menyuguhkan tayangan serupa lainnya yang sangat sesuai dengan preferensi kita untuk terus lanjut membuat kita ketagihan nonton! Familiar dengan istilah binge watching? Northwestern University melakukan riset yang membuktikan bahwa binge watching bisa menyebabkan gangguan kesehatan bahkan hingga resiko depresi!

Apakah membuat kamu happy and worth the penny?

Selama kamu membaca artikel ini, apakah berarti berlangganan bulanan adalah sesuatu yang harus dihindari? Tentu tidak seekstrim itu! Mengutip the famous Marie Kondo, “Keep only those things that speak to your heart. Then take the plunge and discard all the rest. Does this spark joy?”

Berlangganan layanan bulanan yang positif dengan bijak tentunya bisa membuat kita terhibur bahkan merasa lebih happy selama kita bisa secara rasional memilah dan memiliki kontrol penuh atas apa yang kita pilih untuk menciptakan added value  bagi kehidupan kita.

Nah, sebagai langkah awal di tahun 2020 sudahkah kamu mereview kembali list berlangganan kamu? Yuk berhemat dengan menyeleksi layanan berlangganan dengan lebih bijak dan memastikan uangmu tidak terbuang sia-sia. Siapa tahu dengan unsubscribe layanan berlangganan yang tidak diperlukan, uang berlebih kamu bisa dialokasikan untuk hal yang bermakna dan menambah nilai bagi orang lain, yaitu mendanai 1 ibu mitra Amartha hari ini 🙂

Appendix

Pada tahun 2019, Spotify mengklaim sekitar 50% penggunanya telah berbayar. Namun di kuartal 1 2019 masih merugi dikarenakan 75% pendapatan digunakan untuk membayar royalti kepada rekanan label musik dan musisi.
Riset menarik dari Euromonitor tahun, mayoritas pengguna produk / layanan dengan model bisnis berlangganan (subscription/ paywall) adalah millenial.

Global survey teranyar dari Deloitte mengkonfirmasi 64% dari responden milenial setuju bahwa mereka akan physically healthier dan 60% akan merasa lebih bahagia jika berhasil mengurangi time spent di media sosial.

Please follow and like us:
FACEBOOK
FACEBOOK
LINKEDIN
%d bloggers like this: