Desember 2018, Penyaluran Pendanaan Amartha Tembus Rp 700 Miliar

Desember 2018, Penyaluran Pembiayaan Amartha Tembus Rp 700 Miliar

JAKARTA- Dalam satu tahun terakhir ini, Amartha mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari jumlah mitra (pelaku usaha mikro Amartha) maupun total dana yang disalurkan. Pada  2018, lebih dari 167.000 perempuan pelaku usaha mikro di pelosok Indonesia telah menjadi mitra Amartha, meningkat 117% dari tahun 2017 sebanyak lebih dari 70.000 mitra. Sedangkan untuk total dana yang didistribusikan lebih dari Rp 700 Miliar, meningkat lebih dari 200% dari tahun 2017 sebesar Rp 200 miliar.

Amartha fokus terhadap pendanaan kepada pelaku usaha perempuan. Ini karena sekitar 51% usaha kecil dan 34% usaha menengah di Indonesia dimiliki dan dijalankan oleh wanita. Hal inilah yang menjadikan Amartha sebagai P2P lending terbesar di Asia Tenggara yang menyalurkan pendanaan kepada pengusaha mikro perempuan yang unbankable di daerah pedesaan.

“Sebagai bisnis yang dilandasi nilai-nilai sosial, kami juga ingin turut membantu mencapai sustainable development goals melalui pilar pengentasan kemiskinan, partisipasi perempuan dalam pembangunan dan pengurangan ketimpangan pendapatan di pedesaan. Karena itu, pada 2018 ini Amartha terpilih sebagai pemenang dalam InnovationXchange (iXc), Frontier Innovators yang diinisiasi pemerintah Australia, karena dinilai telah memberikan dampak sosial bagi masyarakat di kawasan Indo-Pasifik,” kata  Founder dan CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra di Jakarta, baru-baru ini.

Sejak pertama kali berdiri pada 2010, Andi mengatakan bahwa Amartha terus berkomitmen untuk menghubungkan para pengusaha mikro unbanked, dengan para pendana yang ingin berpartisipasi di sektor pendanaan yang lebih menguntungkan dan tentunya bernilai sosial. Keunikan lain terletak pada pengusaha mikro atau Mitra Amartha, yang seluruhnya adalah perempuan.

“Amartha hadir menawarkan peluang bagi pendana yang ingin memberikan akses pendanaan, untuk terhubung dengan pengusaha mikro perempuan di pedesaan yang membutuhkan pendanaan modal usaha sehingga diharapkan mampu ikut mendorong peningkatan inklusi keuangan masyarakat di Indonesia, khususnya di kawasan pedesaan.

Dahulu Amartha merupakan lembaga keuangan mikro yang bertransformasi menjadi perusahaan P2P lending pada 2016. Bisnis Amartha terus berkembang setelah menggunakan teknologi keuangan seperti peer to peer lending. Hal ini memberikan kesempatan bagi individu atau institusi untuk dapat berpartisipasi dalam mengembangkan bidang usaha mikro yang terbukti aman dan menguntungkan.

Founding Member IMFEA (Indonesia MicroFinance Expert Association) dan Project Leader ukmindonesia.id, Dewi Meisari Haryanti, Founder dan CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra dan Head of SME Product, Business Support & UORM PT Bank Permata Tbk (Permata Bank), Haryanto Suryonoto saat temu media di Amartha HQ, Jakarta, Selasa (11/12) siang.

Selama 8 tahun berdiri, saat ini Amartha telah memiliki ratusan ribu mitra perempuan tangguh yang gigih, tekun, bersemangat dan terus berkomitmen dalam memanfaatkan dana amanah dari pendana urban melalui Amartha. “Untuk mengapresasi para mitra kami, pada 2018 ini Amartha juga menggelar kampanye #perempuantangguh dengan memilih sepuluh perempuan-perempuan hebat yang inspiratif untuk memajukan ekonomi di desa dan berusaha mandiri dalam membantu keluarga dan masyarakat sekitar. Sepuluh perempuan tangguh yang terpilih ini nantinya akan mendapatkan hadiah umrah gratis dari Amartha,” tutup Andi Taufan.

Founding Member IMFEA (Indonesia MicroFinance Expert Association) dan Project Leader ukmindonesia.id, Dewi Meisari Haryanti, mengatakan, salah satu aspek penting yang dihadapi UMKM di Indonesia saat ini untuk dapat naik kelas adalah mendapatkan akses pendanaan guna mendorong usaha mereka. Akses pendanaan UMKM ini menjadi esensial, karena untuk dapat melakukan ekspansi usaha, UMKM memerlukan sumber daya dana usaha yang memadai. Peran fintech P2P lending dalam program inklusi keuangan pemerintah dan OJK dapat membantu masyarakat dan UMKM untuk mendapatkan akses yang lebih mudah dalam memanfaatkan jasa keuangan. Oleh karena itu, dukungan regulator sangat diperlukan untuk mempercepat pengembangan fintech, khususnya P2P micro lending sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi Indonesia,” katanya.

Selain membantu UMKM mengakses pendanaan dengan mudah dan cepat, fintech juga dapat menjadi “agunan”, yaitu berupa track record atau rekam jejak sebagai pelaku usaha yang amanah dan memiliki semangat berusaha tinggi. “Rekam jejak ini adalah bentuk “agunan” lain yang terbukti membuat cukup banyak pelaku UMKM mendapatkan pendanaan, baik dari pendana perseorangan, perusahaan modal ventura, angel investor, fintech, koperasi simpan pinjam, maupun bank. Rencana yang matang – baik yang tertulis maupun tidak tertulis – adalah wujud dari “agunan” tersebut. Platform P2P lending yang aman dan sudah teregulasi menjadi harapan bagi para pengusaha kecil yang sedang mencari pinjaman usaha sekaligus jadi cara untuk menysukseskan program inklusi keuangan sehingga mampu meningkatkan perekonomian Indonesia secara makro. Bagi para pendana juga diharapkan tidak perlu ragu untuk membantu pendanaan untuk UMKM, karena dana yang digunakan adalah untuk kegiatan produktif yang menguntungkan,” ujar Dewi Meisari Haryanti.

Head of SME Product, Business Support & UORM PT Bank Permata Tbk (Permata Bank), Haryanto Suryonoto mengatakan, “Mengacu terhadap peraturan tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi, kami melihat Amartha telah memenuhi persyaratan dalam hal tata kelola sistem teknologi, elektronik, mitigasi risiko, edukasi dan perlindungan pengguna layanan pinjam meminjam dan transparansi dengan adanya sistem credit scoring. Selain itu, Amartha juga telah resmi terdaftar dan diawasi oleh Pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak tahun 2017. Oleh karena itu, Permata Bank memercayakan Amartha untuk menyalurkan akses pendanaan ke pelaku Usaha Mikro di seluruh Indonesia.”

Haryanto menjelaskan. dengan adanya kolaborasi positif industri jasa keuangan seperti Bank dengan industri fintech P2P lending diharapkan dapat memberdayakan UMKM melalui akses dana usaha yang lebih fleksibel dan lebih mudah, serta memutar roda ekonomi lebih cepat sehingga menciptakan lapangan kerja baru dan pengentasan kemiskinan.

Lebih lanjut Haryanto menambahkan, melalui fintech seperti Amartha, kami bisa dapat meningkatkan efisiensi operasional sehingga dapat menjangkau daerah-daerah pelosok dan memproses pengajuan pinjaman dengan lebih cepat ke sektor produktif seperti UMKM. Sistem dan proses yang ditawarkan pun mudah dan aman, yaitu Amartha akan mereferensikan mitra pengusaha mikro yang sesuai dengan kriteria Permata Bank. “Selanjutnya, Permata Bank akan menentukan mitra UMKM yang dapat memperoleh fasilitas kredit. Dengan melalui proses scoring dari Amartha, diharapkan dapat membantu Permata Bank dalam meminimalisir peluang terjadinya Non Performing Loan (NPL) di kemudian hari.” ucapnya.

Please follow and like us:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

FACEBOOK
FACEBOOK
GOOGLE
GOOGLE
https://blog.amartha.com/desember-2018-penyaluran-pembiayaan-amartha-tembus-rp-700-miliar">
LINKEDIN
%d bloggers like this: