Delapan Tahun Amartha Bangun Ekonomi di Pedesaan

Sejak 2010, Amartha berkomitmen untuk membangun ekonomi di pedesaan. Dengan tantangan geografis serta ketersediaan infrastruktur yang terbatas, penduduk di pedesaan memang belum dapat menikmati layanan keuangan perbankan konvensional secara optimal. Padahal sektor UMKM, terutama di pedesaan, telah terbukti berperan besar bagi perekonomian Indonesia.

Sudah sepuluh tahun ibu Wahyuni (35) mempunyai usaha kapstok (gantungan baju). Enam tahun lalu, dia membangun usaha ini di rumahnya, desa Kemang, Bogor. Dia mengaku sulit untuk mendapatkan modal. Pasalnya, dia belum memenuhi syarat untuk mendapatkan pinjaman di bank. Kondisi ini membuatnya untuk meminjam lewat “bank keliling” atau rentenir. Padahal, bunga yang ditawarkan sangat tinggi.

Empat tahun kemudian, dia bertemu dengan petugas Amartha di dekat warung tempat tinggalnya. Kala itu, beberapa ibu sudah mulai bergabung. Namun, untuk dapat masuk dalam mitra usaha Amartha. Mereka mendapatkan pelatihan terlebih dahulu. Selain itu, mereka juga harus bergabung dalam sebuah kelompok (15-25 orang) yang disebut majelis.

Awalnya, dia meminjam Rp 1 juta. Kini, dia bisa meminjam sekitar Rp 6 juta. Tiap tahun pinjamannya terus bertambah. Bahkan, dia dapat membangun pabrik kecilnya dan merenovasi rumah. Produknya pun telah dijual di Jakarta dan Bandung. “Dulu saya mulai benar-benar dari kecil. Saya anter barang-barang ini dengan kereta ke Jakarta. Bawa-bawa kapstok bersama suami saya. Sekarang, saya sudah bisa menyewa mobil untuk mengantar barang-barang ini,” kata Wahyuni seraya tersenyum.

Wahyuni bukanlah satu-satunya mitra usaha Amartha yang berhasil. Sudah ada ribuan pengusaha perempuan yang telah berhasil dibina dan mendapatkan pinjaman dari Amartha. Sejak 2010, Amartha berkomitmen untuk membangun ekonomi di pedesaan. Dengan tantangan geografis serta ketersediaan infrastruktur yang terbatas, penduduk di pedesaan memang belum dapat menikmati layanan keuangan perbankan konvensional secara optimal. Padahal sektor UMKM, terutama di pedesaan, telah terbukti berperan besar bagi perekonomian Indonesia.

Pengusaha kapstok, ibu Wahyuni (35) di desa Kemang, Bogor, Jawa Barat terbantu dengan modal Amartha. Kini, produknya telah tersebar di Jakarta dan Bandung. Dok: Amartha

Pengusaha kapstok, ibu Wahyuni di desa Kemang, Bogor, Jawa Barat terbantu dengan modal Amartha. Kini, produknya telah tersebar di Jakarta dan Bandung. Dok: Amartha

Pada 2010, Amartha berdiri sebagai Lembaga Keuangan Mikro dengan misi menghubungkan pelaku usaha di pedesaan yang kesulitan mendapat modal usaha. Kala itu, banyak pengusaha mikro sulit mendapatkan modal usaha karena memiliki keterbatasan jaminan, pendapatan fluktuatif, dan tidak adanya sejarah kredit. Desa Ciseeng, Bogor, Jawa Barat menjadi desa pertama yang dijangkau Amartha.

“Kami percaya dengan terus memudahkan akses permodalan untuk usaha mikro dan kecil akan berkontribusi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat piramida bawah, membangun ketahanan ekonomi, dan mewujudkan keadilan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia,” kata Pendiri dan CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra di Jakarta, baru-baru ini.

Pada 2016, Amartha menjelma menjadi perusahaan financial technology (fintech) atau teknologi finansial (tekfin). Perusahaan ini bergerak di platform Peer-to-Peer lending atau dikenal layanan simpan pinjam secara online. Perusahaan yang didirikan Andi ini telah berkembang dan melayani lebih dari 500 desa di pulau Jawa yakni Jawa Barat (Bogor, Bandung, Sukabumi, Subang, Indramayu), Jawa Tengah (Klaten dan Banyumas), Yogyakarta (Wonosari, Wates, Banguntapan dan Ngaklik) dan Jawa Timur (Blitar, Mojokerto dan Kediri).

Kini, delapan tahun sudah Amartha berdiri dan telah memberdayakan lebih dari 100.000 mitra usaha yang tersebar di pulau Jawa. Dari tahun ke tahun, Amartha terus mengembangkan sayapnya ke pelosok-pelosok daerah terutama daerah-daerah terpencil yang tidak memiliki akses perbankan secara optimal.

“Amartha hadir sebagai perantara untuk membantu pendana yang ingin melakukan pendanaan untuk kebaikan dengan mitra usaha perempuan di pelosok desa yang bertekad untuk meningkatkan taraf hidup keluarga mereka, jadi apa yang Amartha lakukan ini bukan “hanya” memberi akses keuangan. Lebih dari itu, Amartha membuka akses untuk membangun mimpi dan membuka lebar kesempatan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama,” ujar Andi.

Tahun 2017 menjadi momentum Amartha sebagai pionir P2P lending yang menyasar pengusaha perempuan di pedesaan. Beberapa penghargaan telah didapatkan diantaranya Sankalp Award, STAR UP Award dari Kadin Jakarta, Republika Syariah Award dan Marketeers. Tahun ini, Amartha kembali mendapatkan penghargaan internasional dari pemerintah Australia dalam ajang innovationXchange (IxC) Frontier Innovators.

Please follow and like us:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

FACEBOOK
FACEBOOK
LINKEDIN
%d bloggers like this: