Boros? Coba Siasati Latte Factor dengan Cara Ini!

The Confession of Shopaholic merupakan salah satu film adaptasi dari novel karya Sophie Kinsella. Rebecca, tokoh utama dalam film tersebut berperan sebagai seorang wartawan yang mempunyai cita-cita bekerja di majalah fesyen bernama Alette.

Dalam perjalanan menuju kantor redaksi Alette, Rebecca yang diperankan oleh Isla Fisher tak kuasa untuk membeli syal berwarna hijau. Sayangnya, kartu kreditnya ditolak saat membeli barang tersebut. Kemudian, dia membeli semua hot dog di salah satu kedai serta membayarnya dengan cek. Hal tersebut dilakukan agar dia mendapatkan uang tunai dan dapat membeli syal itu. 

Tak disadari, hal itu bisa saja terjadi dengan kita. Padahal, barang itu tidak berguna atau kita masih mempunyai keperluan lain. Pengeluaran tersebut memang terlihat kecil, tetapi jika kita jumlahkan maka hasilnya akan membuat kita tercengang lho. Apalagi, jika barang itu kita beli setiap hari atau minggu.

Nah, kegiatan membeli barang yang tidak perlu itu disebut sebagai Latte Factor oleh David Bach. Secara umum, Latte Factor mengacu pada pengeluaran kecil yang sifatnya rutin yang sebenarnya tidak terlalu penting dan bisa ditiadakan. David mengambil kata latte dari secangkir kopi karena baginya kopi adalah pengeluaran kecil yang jika dijumlahkan dalam satu bulan bisa untuk membayar listrik.

Latte Factor sebenarnya tidak khusus ditujukan untuk kopi, hanya saja kopi adalah pengeluaran rutin yang biasa dilakukan oleh seorang pekerja khususnya milenial yang membeli kopi secara online. Katakanlah ada seorang pekerja yang setiap hari harus minum kopi di sebuah kedai kopi ternama. Dia membeli secangkir kopi dengan harga Rp 30.000. Hitunglah, dalam sebulan pekerja itu sudah mengeluarkan uang sebesar Rp 900.000. Padahal kalau dia membeli kopi bubuk dan menyeduhnya sendiri, ia bisa menghemat setengah dari pengeluaran itu, kan?

Lalu, apa saja yang termasuk ke dalam kategori pengeluaran Latte Factor?

Baca Juga: Apa Saja Pemicu Impulsive Buying?

Air Minum

Setiap bepergian kemanapun gak pernah bawa air minum karena bisa beli di tempat. Padahal dalam sehari kamu mengeluarkan uang Rp10.000 untuk beli air minum dan dalam satu bulan kamu sudah menghabiskan uang sebesar Rp300.000. Hmm, lumayan nih buat ditabung.

Biaya Administrasi Bank

Transaksi sehari-hari melalui smartphone, tidak pernah membawa uang cash. Tanpa disadari transaksi tersebut ternyata mengeluarkan biaya lebih yang tidak disadari atas nama fleksibilitas. Nah, mulai sekarang siapkan uang cash yuk.

Transportasi Online

Mau ke mall seberang kantor males jalan naik transportasi online aja. Mau jajan di restoran sebelah pakai aplikasi transportasi online aja. Iya, apa-apa pakai transportasi online aja. Boleh kok, tapi jangan sampai ketergantungan ya! Soalnya semua itu hal yang terlihat sepele tapi bisa mengeluarkan uang yang cukup besar lho kalau diakumulasikan setiap bulannya lho. 

Kopi

Bagi setiap orang, kopi memiliki arti masing-masing. Misalnya saja untuk gaya hidup atau meeting bersama klien untuk memenangkan project besar. Sayangnya, sebagian besar pegawai kantoran menjadikan kopi sebagai gaya hidup. Nah hal yang demikian ini sesungguhnya tanpa disadari mengeluarkan banyak uang lho. Mari menghitungnya, satu cangkir kopi dengan harga minimal Rp25.000 dan dikali setiap hari selama satu bulan, hasilnya Rp750.000. Wow!

Rokok

Bagi perokok, rokok adalah latte factor yang tanpa disadari menghabiskan sebagian pendapatan mereka. Begini hitungannya, dalam sehari seorang perokok menghabiskan satu bungkus rokok seharga Rp20.000 maka dalam satu bulan si perokok mengeluarkan uang sebesar Rp600.000. Ada baiknya kebiasaan ini dikurangi sehingga uang dan tubuhmu sama-sama sehat.

Baca Juga: Pebedaan Investasi Jangka Pendek dan Panjang

Nah, sudah tahu khan barang yang masuk dalam kategori latte factor. Coba kamu menabung uang itu tersebut dan melakukan investasi. Apalagi, saat ini ada alternatif investasi seperti fintech peer to peer lending. Kamu bisa memulai melakukan pendanaan kepada pelaku usaha mikro di Amartha. Sebagai perusahaan pelopor fintech p2p lending

Please follow and like us:
FACEBOOK
FACEBOOK
LINKEDIN
%d bloggers like this: