///

Bermodal Gigih dan Semangat, 3 Ibu Desa ini Berhasil Meraih Kesuksesan di Usia 30an

Indonesia merupakan negara kesatuan yang terdiri dari 34 propinsi, 98 Kota, 410 kabupaten, serta tak kurang dari 6.700 kecamatan. Secara struktur, kelurahan dan desa berada di lapisan pertama perangkat kepemerintahan kita. Berdasarkan data Desa/Keluarahan dalam Peraturan Kepala BPS Nomor 66 Tahun 2016 Indonesia saat ini memiliki 82.038 Desa. Berdasarkan sensus penduduk di tahun 2016, jumlah penduduk di desa mencapai 800juta jiwa dengan 86% nya adalah perempuan.

Pedesaan memberikan sumbangsih yang sangat besar terutama bagi ketersediaan pangan dan perekonomian Indonesia, melalui kegiatan pertanian, kehutanan, peternakan, perikanan, dan perdagangan. Dengan tingginya angka penduduk perempuan di pedesaan, kita bisa melihat pentingnya peran perempuan di pedesaan. Bahwa kehadiran mereka turut memberi kontribusi untuk pembangunan, khususnya melalui program kesehatan masyarakat, serta pendidikan di pedesaan. Namun peran dan kontribusi perempuan dalam kehidupan keseharian di desa belum sepenuhnya disertai dengan pemberdayaan perempuan dalam pengambilan keputusan. Tidak sedikit perempuan pedesaan yang terlemahkan karena keadaan.

Namun tidak demikian dengan ketiga ibu yang tinggal di 3 desa Kabupaten Bogor ini. Mereka adalah Ibu Onih pengusaha keset (39) , ibu Fitri (36) pengusaha konveksi, dan ibu Apsiah (32) peternak cupang.

Ibu Onih

Ibu dua anak ini memulai usahanya dalam bidang budidaya lele. Usaha tersebut sayangnya menuai kegagalan. Namun Ibu Onih tidak patah semangat. Ia bangkit dan mencari peluang lain yang membutuhkan modal usaha yang lebih kecil, “Waktu itu modal saya abis, saya muter-muter cari ide, apa ya yang bisa dibikin dengan modal kecil. Akhirnya saya mutusin untuk mulai nganyam keset,” cerita Ibu Onih ketika ditanya bagaimana ia memulai bisnisnya.

Keset dari bahan baku kain sisa konveksi

Keset dari bahan baku kain sisa konveksi

Bahan baku dari keset buatan Ibu Onih adalah kain sisa konveksi yang dipotong memanjang. Kain tersebut kemudian dianyam dan dipadu padankan dengan beberapa warna sehingga jadilah keset ukuran 90×40 cm yang ia jual dengan harga Rp 7.500-10.000.
Usaha tersebut berjalan selama beberapa sampai ia dihadapkan kembali dengan tantangan yang baru yaitu permodalan. Akses pendanaan di pedesaan memang sangat minim. Beruntung di tahun 2012 ia bertemu dengan PT Amartha Mikro Fintek yang memberikan layanan pendanaan berprinsip syariah. Ia mengajukan pendanaan sebesar Rp 500.000 yang ia gunakan untuk menambah dana usahanya.


Mampu mengelola uang dengan bijaksana

Ibu Onih sadar betul bahwa uang harus dikelola dengan baik, ia mengalokasikan danannya untuk simpanan, kesehatan, juga cadangan usaha. Dengan pengaturan keuangan yang bijak ini jugalah usahanya semakin meningkat sampai hari ini mampu mempekerjakan 7 orang, dan bisa memenuhi perminaaan sampai 90 keset perminggunya. Lebih dari itu, kehidupan Ibu Onih dan keluarganya pun meningkat.

Ibu Fitri

Lain halnya dengan Ibu Fitri. Ibu satu ini memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan memulai sendiri usahanya. Ia memulai langkahnya dengan  menerima dana Rp 500.000 dari layanan pendanaan PT Amartha Mikro Fintek. Dana tersebut ia gunakan untuk membeli mesin jahit bekas dari mantan atasannya. Sejak saat itu, Ibu Fitri mantap untuk memulai usahanya sebagai Tukang Jahit.


Otak bisnis yang cerdas

Ibu Fitri begitu cerdas dalam membangun usahanya. Bagaimana tidak, pada awal usahanya ini, ia tidak langsung lantas jumawa dengan prestasinya memulai usaha. Ia terus berusaha mengasah kemampuan dan kapasitas produksinya. Di tahun-tahun berikutnya, Ibu fitri fokus menambah mesin untuk workshop miliknya. Sementara di tahun berikutnya, Ia membuka kursus jahit untuk warga sekitar, yang kemudian menjadi karyawan atau partner usahanya.

Cerdas melihat peluang, cerdas mengelola uang

Cerdas melihat peluang, cerdas mengelola uang

Hingga saat ini memiliki 10 mesin jahit yang mampu memproduksi pesanan lebih dari tiga online shop. Tidak berhenti di usaha konveksi, Ibu Fitri juga mengembangkan usaha warung dan jual pulsa. Sehingga tak heran jika kini ibu Fitri sudah memiliki 7 karyawan dan lebih dari 200 murid kursus, juga berhasil bermitra dengan perusahaan distributor yang mengantar produknya ke Malaysia dan Somalia.

Ibu Apsiah

“Saya teh gamau ngerepotin orang tua lagi, makannya mikir buka usaha apa ya. Biar nanti juga punya rumah sendiri”. Begitu kata ibu Apsiah ketika ditanya mengapa ia memulai usahanya. Ibu Apsiah memang sudah menjalankan usaha ternak cupang sejak lama. Ketika ia mendengar tentang PT Amartha Mikro Fintek dengan slogan “Pendanaan Mudah, Pelayanan Ramah”, dan melayani pendanaan untuk usaha bagi perempuan, Ibu Apsiah langsung mendaftarkan dirinya. Lolos dalam uji kelayakan dan pendampingan keuangan, Ibu Apsiah menerima pendanaan awal Rp 500.000.

Ibu Apsiah dan ratusan ikan hasil ternakannya

Ibu Apsiah dan ratusan ikan hasil ternakannya

Kerja sama membuahkan hasil
Modal usaha tersebut ia gunakan untuk mengembangkan usaha ikan cupang bersama suaminya. “Jadi habis cupangnya besar dan siap dijual, nanti suami saya yang bawa ke kota buat jualan”, ujar Ibu Apsiah. Ia mengaku bahwa kerja sama dalam usaha sangat penting, karena dengan demikian mereka bisa berbagi tanggung jawab, dan hasil yang diraih pun lebih maksimal. Benar saja, kini Ibu Apsiah bersama suami telah mampu membeli tanah dan membangun rumah sendiri, beserta 2 buah motor untuk mendistribusikan ikan miliknya, dan memiliki lapak di Jatinegara serta menyewa ruko di blok M. Kini mimpi Ibu Apsiah yang ingin ia capai adalah menyekolahkan anaknya hingga kuliah.

Dari ketiga Ibu ini kita bisa belajar bahwa perempuan pedesaan memiliki ambisi yang sama dengan perempuan di manapun. Meski kadang dalam pengambilan keputusan atau memulai usaha, mereka terbentur dengan minimnya akses. Dengan mendorong perempuan untuk turut dalam pengambilan keputusan, kita bisa melihat hasil yang positif. Dalam ketiga cerita di atas kita melihat bahwa akses permodalan dari PT Amartha Mikro Fintek membuka peluang mereka untuk melakukan banyak hal.

PT Amartha Mikro Fintek yang terlah terdaftar dan diawasi OJK merupakan perusahaan TekFin (Teknologi Finansial) Peer-to-peer lending yang memang berkomitmen untuk memberikan akses pendanaan untuk perempuan pedesaan. Tujuannya agar ekonomi di desa semakin aktif dan dinamis, serta semakin banyak perempuan Indonesia terdorong untuk mandiri. Membangun mimpi untuk Indonesia yang sejahtera bersama, menjadi jembatan untuk kesetaraan ekonomi.

(Tim Amartha)

Please follow and like us:
1 Comment
Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

FACEBOOK
FACEBOOK
LINKEDIN
%d bloggers like this: