Home Money+ Bebaskan Generasi Milenial dari Affluenza dengan Berinvestasi

Bebaskan Generasi Milenial dari Affluenza dengan Berinvestasi

Tahun 2020 diprediksi akan masuknya ancaman baru bagi milenial, yaitu affluenza. Sebelum terlambat, ada baiknya kita sebagai milenial untuk membiasakan diri dengan berinvestasi.

Pada tahun 2020 ada sebuah prediksi yang cukup menarik bagi milenial, yaitu adanya ancaman Affluenza. Kata satu ini dikenal sebagai istilah untuk perilaku menyimpang karena pola asuh yang salah, seperti membiasakan hidup dengan kemewahan.

Orang yang terkena affluenza memiliki pemikiran yang cukup berbeda. Pemikiran pertama mereka adalah uang dapat membeli kebahagiaan, dan mereka tidak pernah merasa puas. Kemudian merasa mudah depresi jika berhubungan dengan status keuangannya.

Kedua hal tersebut ternyata sering kali ditemukan pada masyarakat Indonesia, khususnya generasi milenial kelas menengah. Mengapa? Satu hal yang cukup sering terlihat; berlomba untuk meningkatkan citra diri mereka melalui media sosial. Ada beberapa di kalangan milenial kelas menengah yang merasa berhasil dan ‘bahagia’ jika mendapatkan pengakuan dari orang lain. 

Cara yang dilakukan juga berbagai macam, misalnya terus mengunggah beberapa koleksi gambar dirinya dengan barang-barang branded hingga yang mungkin sulit untuk didapatkan. Semakin banyak yang mengklik like atau semakin dipuji maka semakin berhasil dia dalam ‘perlombaan’ di media sosial.

Affluenza, Sifat Konsumtif bagi Milenial

Bila affluenza terus ada di pemikiran milenial dan tidak diatasi, jangan heran jika semakin banyak milenial yang semakin konsumtif, yang bisa saja membelanjakan uangnya dalam jumlah besar dalam satu waktu. Bahkan, yang dibelanjakan bukanlah hal-hal yang dibutuhkan, melainkan keinginannya saja. 

Dari affluenza juga akan muncul konsumenrisme, sebuah kebiasaan mengonsumsi barang-barang secara berlebihan. Salah satu contoh yang mudah kita temui secara nyata adalah saat Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas).

Menurut data Tempo, saat Harbolnas pada Desember 2019 total transaksi yang berlangsung tembus hingga Rp9,1 triliun. Angka ini melejit cukup tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp6,8 triliun. 

Angka tersebut bahkan melebihi target beberapa e-commerce, yang hanya sekitar Rp8 triliun saat Harbolnas. Tingginya angka-angka tersebut mulai menunculkan tanda tanya besar bagi beberapa pihak. Salah satu pertanyaan nakalnya adalah apakah membeli barang karena kebutuhan atau adanya motif lain. 

Mungkinkah generasi milenial ‘terjangkit’ affluenza, sehingga membuat mereka lebih cenderung menjadi konsumtif?

Menyingkirkan Kebiasaan Konsumtif dengan Berinvestasi

Affluenza seakan juga menggiring opini baru, sebuah perubahan yang terjadi dari sisi demografi. Menurut data dari CNBC Indonesia mengatakan; mulai munculnya generasi ‘me, me, and me’ atau bisa disebut dengan ‘generasi gue’. Alasan disebutnya dengan generasi me karena 64% populasi Indonesia pada tahun 2020 didominasi oleh generasi milenial dan post-milenial. 

Menurut data tersebut, milenial adalah generasi yang melakukan pekerjaan dan bermain secara bersama-sama. Milenial cenderung memiliki sifat affluenza, karena menggunakan uang untuk menabung kesenangan dan pengalamannya. Hal ini karena mereka beranggapan kesenangan untuk saat ini akan jauh lebih penting dibandingkan dengan berinvestasi. 

Sebenarnya ada satu cara untuk mengubah kebiasaan konsumtif pada milenial, yaitu dengan membiasakan berinvestasi. Menurut data yang dituliskan Katadata, hanya 45% milenial yang tertarik investasi hingga saat ini. Simple-nya, tidak sedikit milenial yang memilih untuk membeli kopi kekinian demi gengsi dibandingkan berinvestasi. 

Padahal, berinvestasi adalah satu hal yang menguntungkan. Dengan berinvestasi, setiap uang yang kita tanam akan memberikan nilai tambah di masa mendatang. Ada satu jenis investasi yang mungkin akan cocok bagi milenial, yaitu impact investing. Di sini kita tidak hanya mendapatkan keuntungan untuk dirimu sendiri, melainkan bagi orang lain. 

Salah satu perusahaan investasi yang menerapkan impact investing di Indonesia adalah Amartha. Saat berinvestasi, kamu akan mendapatkan return hingga 15% setiap tahunnya. Menariknya, kamu juga akan menciptakan dampak sosial bagi masyarakat menengah ke bawah. 

Pada tahun 2018 saja, Amartha telah membantu lebih dari 152.000 pelaku usaha yang mana sepenuhnya adalah perempuan. Keberhasilannya juga tidak main-main. Amartha berhasil meningkatkan pendapatan keluarga setiap mitranya hingga 59,5%. 

Jadi, daripada kita menghambur-hamburkan uang untuk membeli barang demi gengsi, lebih baik kita berinvestasi yang berguna untuk masa depan dan orang banyak.

Subscribe to Our Newsletter

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.

Team Money+
Money + is financial blog for everyday life. We cover a wide range of everyday life topics including technology, lifestyle, careers, sharia and women empowerment. We strive to make financial easy to understand and fun for everyone!

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

CEO Letter: Dukungan untuk Sektor Usaha Mikro Indonesia

Kepada Pendana Amartha yang terhormat,Semoga Anda dan keluarga dalam keadaan sehat sepenuhnya. Di tengah pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung,...

Apa Itu TKB90 dan TKW90?

Amartha terus menjalankan prinsip transparansi kepada masyarakat dengan mencantumkan Tingkat Keberhasilan 90 (TKB90) di halaman utama website Amartha.com. Dengan transparansi ini, pemberi pinjaman akan...

Usaha yang Cocok di Tengah Pandemi Corona

Covid-19 atau virus corona sedang mewabah sehingga semua orang harus diam di rumah mengisolasi diri. Tapi kalau begini terus semua aktivitas jadi...

7 Amalan Sunnah di bulan Ramadhan yang Bikin Ibadahmu Makin Berkah

Akhirnya bulan yang dinanti-nanti oleh seluruh umat muslim di berbagi penjuru dunia tiba, Ramadhan yang penuh berkah, hikmah dan ampunan, karena berbagai...