Home Amartha Lender's Corner Banyak Kesenjangan, Bagaimana Fintech Menjembatani UMKM dan Inklusi Keuangan?

Banyak Kesenjangan, Bagaimana Fintech Menjembatani UMKM dan Inklusi Keuangan?

|

|

|

Terbukanya akses keuangan atau inklusi keuangan bagi masyarakat merupakan salah satu kunci pembangunan dalam era saat ini. Begitu juga dengan pemerintah Indonesia yang sudah menjadikan inklusi keuangan menjadi salah satu strategi pembangunan nasional. 

Menurut Peraturan Presiden Nomor 82 tahun 2016, definisi inklusi keuangan adalah adalah sebuah kondisi dimana setiap anggota masyarakat mempunyai akses terhadap berbagai layanan keuangan formal yang berkualitas, tepat waktu, lancar, dan aman dengan biaya terjangkau sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing. 

Berdasarkan Data Global Findex 2017 (World Bank), indeks inklusi keuangan Indonesia pada tahun 2017 sebesar 48 persen, angka tersebut masih jauh dibawah negara tetangga, seperti Malaysia yang mencapai 85 persen di tahun 2017 dan Singapura sebesar 98 persen di tahun yang sama. Data Survei Nasional Keuangan Inklusi (2018) menunjukkan masih banyak masyarakat yang belum terhubung dengan industri perbankan. 

Data Financial Inclusion Insight (FII) dan Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) menyebutkan jumlah kepemilikan akun per tahun di Indonesia mengalami kenaikan walaupun masih belum setinggi negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Pada tahun 2018, masyarakat dewasa yang memiliki akun mencapai 55,7 persen. 

Permasalahan dalam peningkatan inklusi keuangan, membutuhkan peran serta dari sektor ekonomi digital melalui perusahaan teknologi finansial (TekFin). Perusahaan TekFin melihat kekosongan layanan jasa keuangan di masyarakat underbanked sebagai peluang untuk melayani masyarakat yang tidak tersentuh layanan jasa keuangan perbankan. 

Sektor TekFin menjadi strategi penting untuk memperluas inklusi finansial dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. TekFin yang ditopang oleh masifnya penggunaan smartphone oleh masyarakat, bahkan hingga daerah pedesaan, menjadi jembatan dan solusi bagi masyarakat yang selama ini sulit dijangkau oleh lembaga perbankan. Lewat penggunaan smartphone, masyarakat dapat menggunakan layanan finansial dengan mudah untuk memenuhi kebutuhannya atau menjaga keberlanjutan bisnisnya. 

Dalam perlambatan ekonomi pada masa pandemi, TekFin berpotensi untuk mengambil peran dalam proses pemulihan ekonomi. Dengan karakteristik TekFin yang bersifat lowtouch economy, customer-based, berbasis social capital, penggunaan data science serta digerakkan oleh profesional muda, perkembangan TekFin pada masa pandemi masih positif. 

Berdasarkan data Statistik OJK per Juli 2020, akumulasi penyaluran pinjaman tahun 2020 (Januari hingga Juli) melalui TekFin mencapai Rp35 Triliun dengan pertumbuhan per tahun mencapai 135 persen (Juli, 2020, yoy). Artinya minat masyarakat untuk melakukan pinjaman melalui TekFin masih tumbuh meskipun ada pandemi. 

Dengan kinerja yang positif, TekFin memiliki potensi untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional khususnya sektor UMKM. Data Bank Indonesia menyebutkan penyaluran kredit ke usaha mikro dan kecil hanya 12 persen (mikro 6% dan kecil 6%). Sedangkan penyaluran kredit untuk industri sedang 8 persen dan industri besar 80 persen. Maka dapat dilihat bahwa pelaku usaha UMKM mempunyai kendala dalam penyerapan kredit. 

Padahal jika dilihat dari jumlah, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah mencapai 99 persen dari jumlah usaha di Indonesia. Namun penyerapan kreditnya tidak lebih dari 20 persen. Di era digital, UMKM dan startup (usaha rintisan) harusnya berkembang dan terhubung dengan pemodal secara lebih mudah.

Namun demikian, di Indonesia, TekFin belum dilibatkan secara optimal dalam pemulihan ekonomi nasional khususnya UMKM. Adanya Covid-19 memaksa UMKM di Indonesia untuk segera melakukan penyesuaian dari segi perencanaan bisnisnya. Sebagian besar usaha mikro sangat membutuhkan bantuan kredit agar bisa tetap bertahan di tengah pandemi. Pembiayaan lewat platform TekFin memungkinkan adanya penyaluran pembiayaan yang lebih cepat, efektif dan tepat sasaran. 

Penyaluran pembiayaan lewat TekFin juga bisa dilengkapi dengan proses pendampingan dan pelatihan literasi keuangan. Pelatihan literasi keuangan ini sangat membantu upaya pemerintah khususnya OJK dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait sektor finansial. Terlebih saat ini, posisi gagal bayar pada TekFin Lending menunjukkan peningkatan. Per Juli 2020, posisi kredit tidak lancar mencapai 7,99 persen, meningkat dari bulan Januari 2020 (3,98%). 

Optimalisasi peran TekFin Lending dalam pemulihan ekonomi nasional harus didukung dengan regulasi serta dorongan yang kuat dari para pengambil kebijakan. Saat ini TekFin lending untuk sektor konsumtif mengalami peningkatan sementara lending produktif mengalami penurunan karena UMKM terpaksa harus mengurangi jumlah produksi. Dinamika ini harus mendapatkan perhatian serius dari para pengambil kebijakan, sebab sebagian besar lending produktif di sektor TekFin sangat bergantung pada para investor. 

Oleh karena itu, diperlukan peran dari setiap pemangku kepentingan dalam mendorong peran TekFin dalam program pemulihan ekonomi nasional, termasuk peran lembaga penelitian dan advokasi. INDEF sebagai salah lembaga penelitian dan advokasi di Indonesia bekerja sama dengan Amartha menyusun sebuah diskusi dengan tema “Menatap Masa Depan Fintek dan UMKM 2021”.

Untuk Anda yang tertarik mengikuti webinar ini, dapat mendaftarkan diri ke bit.ly/FintechDanUMKM2021. Peserta terbatas!

LANGGANAN EMAIL MONEY+

DAPATKAN INFO TERBARU
TENTANG MONEY+

Team Money+
Money + is financial blog for everyday life. We cover a wide range of everyday life topics including technology, lifestyle, careers, sharia and women empowerment. We strive to make financial easy to understand and fun for everyone!

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Usaha yang Cocok di Tengah Pandemi Corona

Covid-19 atau virus corona sedang mewabah sehingga semua orang harus diam di rumah mengisolasi diri. Tapi kalau begini terus semua aktivitas jadi...

Ini Daftar Negara Termiskin di Dunia, Ada Indonesia Gak Ya?

Setiap negara di dunia diklasifikasikan menjadi 3, yaitu negara miskin, berkembang, dan maju. Dalam klasifikasi ini setiap organisasi dunia memiliki indikatornya...

Apa Itu TKB90 dan TKW90?

Amartha terus menjalankan prinsip transparansi kepada masyarakat dengan mencantumkan Tingkat Keberhasilan 90 (TKB90) di halaman utama website Amartha.com. Dengan transparansi ini, pemberi pinjaman akan...

Butuh Dana Cepat? Ini Pilihan Pinjaman Syariah Bebas Riba

Perlu modal besar untuk buka usaha? Pinjam ditempat lain tapi takut riba? Kamu tidak usah khawatir, pasti saja ada solusinya. Kini ada...