Apa Saja Pemicu Impulsive Buying?

Apa Saja Pemicu Impulsive Buying?

Situs e-commerce lagi diskon barang-barang lucu, beli.

Teman ajak ngopi di cafe, ayo.

Promo tiket pesawat langsung booking.

Pernahkah kamu mengalami hal-hal seperti di atas? Pasti pernah dong dengan skala yang berbeda. Nah, tahukah kamu bahwa perilaku di atas disebut sebagai impulsive buying.

Secara definisi, impulsive buying merupakan sebuah keputusan tidak terencana untuk membeli sebuah produk atau jasa. Biasanya keputusan tersebut terjadi secara tiba-tiba. Dalam pelaksanaannya, impulsive buying lebih menggunakan emosi dan perasaan dibandingkan logika. Bagi impulsive buyers, model klasik lima tahap proses pembelian seperti pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, dan perilaku pasca pembelian tidak akan berlaku lagi.

Bayley dan Nancarrow, peneliti di bidang psikologi mengatakan bahwa impulsive buying adalah perilaku yang hedonistik karena ditandai dengan kepuasan setelah terjadi. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan prinsip kegunaan yang mengedepankan manfaat dari sebuah barang yang ada.

Baca Juga: Ini Pelajaran Finansial di Film Confession of a Shopaholic

Secara umum, perilaku impulsive buying disebabkan oleh beberapa faktor seperti lingkungan belanja, kepribadian, produk, dan perbedaan geografis dan aspek budaya. Berikut penjelasan faktor-faktor tersebut:

Faktor Lingkungan Belanja

Lingkungan belanja dapat mempengaruhi seseorang menjadi impulsive buyers. Beberapa hal yang mendukung seperti tampilan produk, aroma, atau luas ruangan. 

Faktor Kepribadian

Salah satu sifat yang mendukung seseorang untuk berbelanja adalah sifat materialisme. Tim Kasser, peneliti asal Amerika menjelaskan bahwa sifat materialisme ditunjukkan dengan mengutamakan keuntungan material, memiliki posesi yang banyak pada pencitraan diri dan popularitas yang biasanya ditunjukkan dengan uang atau penampilan. Penelitian lain menjelaskan juga bahwa impulsive buying dapat melepaskan emosi negatif seperti rendahnya harga diri atau mood yang tidak baik.

Faktor Produk

Produk yang ditata dengan menarik akan mendorong seseorang untuk membelinya secara impulsif. Tak lupa kemasan yang berwarna dan bentuknya yang unik juga menimbulkan hasrat seseorang untuk membelinya.

Faktor Perbedaan Geografis dan Aspek Budaya

Mengenai perbedaan geografis yang berkaitan dengan aspek budaya juga mempengaruhi seseorang masuk dalam kategori impulsive buying. Perspektif budaya dapat menunjukkan bahwa individu dengan budaya yang mandiri akan lebih cenderung mengalami impulsive buying daripada individu yang terbiasa dengan budaya yang kolektif.

Baca Juga: Tips Memilih Pinjaman di Fintech Peer to Peer Lending yang Aman

Setelah mengetahui tentang impulsive buying, semoga kita bisa mempertimbangkan lagi tindakan kita saat membeli suatu barang atau jasa agar kondisi keuangan tetap stabil! Jangan lupa untuk selalu menabung atau berinvestasi. Kamu bisa mencoba fintech peer to peer lending sebagai alternatif investasi. Dengan awal pendanaan Rp 3 juta, kamu sudah bisa membantu modal usaha para pelaku usaha mikro perempuan di pedesaan. Selain memberikan keuntungan hingga 15%, kamu juga memberikan dampak sosial bagi para perempuan tangguh di pedesaan. Ayo, mulai mendanai di Amartha sekarang juga!

Please follow and like us:
FACEBOOK
FACEBOOK
LINKEDIN
%d bloggers like this: