Andi Taufan Garuda Putra, Dirikan Amartha untuk Kesejahteraan Merata di Indonesia

Andi Taufan Garuda Putra merupakan Pendiri dan CEO Amartha dan kini menjadi Staf Khusus Presiden. Amartha adalah perusahaan pionir  peer to peer (p2p) lending atau fintech p2p berdampak sosial yang menyalurkan pendanaan modal usaha mikro kepada perempuan di pedesaan. Hingga kini, Amartha telah menghubungkan dan menyalurkan pendanaan dari pendana di perkotaan sebesar Rp 1,6 triliun kepada lebih dari 339 ribu mitra di pedesaan pulau Jawa,  Sulawesi dan Sumatera. 

Pria berdarah Bugis yang akrab disapa Taufan ini, lahir di Jakarta pada 32 tahun lalu. Taufan merupakan anak tertua dari dua bersaudara yang telah mengenyam gelar sarjana dari Institut Teknologi Bandung dan Master of Public Administration, Harvard Kennedy School. Dia juga telah menikah dengan Putri Nandi Pinta Agusria. Dari pernikahan itu, dia memiliki seorang putra bernama Andi Denali Rumi Garudaputra.

Mengawali karir di IBM Global Business Services, Taufan tergerak hatinya untuk meninggalkan pekerjaannya dan melakukan sesuatu yang lebih bernilai bagi rakyat kecil. Di tahun 2010, Taufan mendirikan Amartha, bisnis berdampak sosial memberikan akses permodalan kepada perempuan. di piramida terbawah di pedesaan, diawali dengan perempuan di Desa Ciseeng, Kabupaten Bogor.

Para perempuan diwajibkan untuk membentuk kelompok untuk saling mendukung mengembangkan usaha satu sama lain dan juga membantu bila ada anggota yang mengalami kesulitan dengan tanggung renteng.

“100 persen peminjam merupakan pelaku usaha mikro perempuan di desa. Sebagai bisnis yang dilandasi nilai-nilai sosial, kami ingin membantu mencapai sustainable development goals melalui pilar pengentasan kemiskinan, partisipasi perempuan dalam pembangunan dan mengurangi ketimpangan pendapatan di pedesaan,” kata Taufan.

Andi Taufan Garuda Putra bersama para mitra usaha Amartha di Ciseeng, Bogor

Taufan memberikan pinjaman modal usaha kepada beberapa warga di desa tersebut. Dia mendirikan Amartha untuk memberikan akses keuangan kepada masyarakat desa yang selalu terlibat hutang dengan rentenir. Bahkan, mereka sulit mendapatkan pinjaman usaha dari lembaga uang konvensional. Ini karena, mereka tidak memiliki syarat yang cukup untuk lembaga tersebut seperti tidak mempunyai tabungan di bank atau tidak mempunyai sejarah kredit. 

Baca Juga: Amartha Raih Penghargaan SDG’s di Jenewa

Selain itu, lokasi mereka sulit dijangkau oleh lembaga keuangan konvensional. Akses transportasi  yang sulit membuat Taufan mendatangi para pelaku usaha mikro di desa tersebut dengan kereta api, angkutan umum maupun ojek setempat.“Dulu jalanan di desa masih penuh lubang. Banyak batu dan tanah di jalan. Enggak seperti sekarang. Jalanan sudah bagus,” kata Taufan.

Melalui pendekatan sosial bisnis, Taufan membuat lembaga keuangan dengan sistem yang mudah menggunakan pola pembiayaan kelompok. Mulanya, dia hanya memberikan pinjaman kepada sekitar 20 orang peminjam. Tak disangka, pertumbuhan peminjam semakin bertambah hingga 200 orang. 

Kegigihannya membangun perusahaan ini membuahkan hasil. Dia mendapatkan penghargaan Ashoka Young Change Makers Awards 2010. Setelah mendapatkan penghargaan itu, orang tuanya yang dahulu tidak mendukung. Kini, mendukung usahanya dalam membangun Amartha. Meski begitu, tantangan di depan masih harus terus dihadapinya. Beberapa kali, dia mengalami kegagalan, namun tak membuatnya pupus harapan.“Ya, sempat sulit juga mendapatkan pinjaman usaha untuk ibu-ibu saat itu. Karena kami masih menggunakan sistem manual,” ungkapnya.

Andi Taufan Garuda Putra bersama Presiden Jokowi

Selepas menyelesaikan masa studinya di Master of Public Adminstration dari Harvard University pada tahun 2016, dia mengubah Amartha dari lembaga keuangan mikro konvensional menjadi peer-to-peer lending yang menghubungkan investor dengan usaha mikro perempuan di pedesaan melalui pemanfaatan teknologi.

Sekitar tahun 2015, beberapa perusahaan fintech peer to peer lending memang mulai bermunculan di Indonesia. Perubahan ini ternyata membawa Amartha menjadi salah satu fintech lending yang diperhitungkan di Indonesia.

Melihat peluang bisnis Amartha, pada 2017, Mandiri Capital Indonesia (MCI), anak usaha Bank Mandiri, menyuntikan dana kepada Amartha. MCI berpartisipasi dengan Lynx Asia Partners, Beenext, dan Midplaza Holding dalam pendanaan tersebut. 

Sederet penghargaan pun terus bermunculan atas prestasi Amartha dalam mewujudkan inklusi keuangan. Pada 2018, Amartha meraih beberapa penghargaan dari dalam maupun luar negeri seperti Mastel Digital Inclusion Awards 2018 untuk kategori startup fintech,  UN Capital Development Fund (UNCDF), “30 Promising Growth-stage Startups 2018” dari Forbes Indonesia dan InnovationXchange (iXc), Frontier Innovators yang diinisiasi pemerintah Australia. 

Baca Juga: Mau Mulai Usaha? Ini #KataTaufan

Berkembang Pesat

Amartha juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari total dana yang disalurkan. Pada akhir 2018, total dana yang didistribusikan mencapai lebih dari Rp 700 Miliar, meningkat lebih dari 200% dari tahun 2017 sebesar Rp 200 miliar. Amartha pun terus berkembang hingga  menjangkau Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Kini, Amartha telah menyalurkan Rp 1, 5 Triliun kepada lebih dari 336.000 pengusaha mikro perempuan di Indonesia (Data Amartha, 19 November 2019).

Hingga pada Oktober 2019, Amartha telah menjangkau pulau Sulawesi. Sulawesi Selatan menjadi cabang pertama Amartha. Sebagai putra daerah Sulawesi Selatan, dia bangga Amartha dapat menjangkau pulau Sulawesi. Bahkan, pada akhir tahun, Amartha akan menjangkau pulau Sumatera. 

Atas prestasinya dalam memberantas kemiskinan, November 2019, Amartha mendapatkan penghargaan di SDG Geneva Summit 2019, Jenewa, Swiss. Penghargaan tersebut disematkan kepada Amartha sebagai perusahaan jasa keuangan yang berdampak meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan pertama, yaitu pengentasan kemiskinan.

Andi Taufan Garuda Putra di kantor Amartha, Jakarta

Amartha menjadi satu-satunya perusahaan fintech dari Asia Tenggara yang terpilih sebagai finalis bersama 11 negara berkembang lainnya dari seluruh dunia. Terhitung ada tiga perusahaan fintech dari India, Meksiko dan Somalia/Peru yang menjadi pesaing Amartha pada kategori Jasa Keuangan.

“Adalah impian saya dapat melihat Indonesia yang semakin sejahtera dan merata. Dengan hadirnya Amartha, kita dapat berkontribusi dalam meningkatkan akses pembiayaan sektor UMKM sehingga dapat menciptakan perekonomian yang lebih inklusif di Indonesia, tutupnya.

 

Please follow and like us:
FACEBOOK
FACEBOOK
LINKEDIN
%d bloggers like this: