Amartha Sejahterakan dan Berdayakan Perempuan di Pedesaan

PT Amartha Mikro Fintek atau Amartha, perusahaan teknologi finansial (tekfin) alternatif investasi berdampak sosial, meluncurkan hasil riset bersama Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada bertajuk “Peran Amartha dalam Meningkatkan Kesejahteraan Perempuan di Pedesaan” di Jakarta pada Rabu (06/11). 

Hasil riset tersebut menunjukan bahwa Amartha berhasil meningkatkan kesejahteraan hidup para mitranya yaitu para perempuan pengusaha mikro di pedesaan. Pendanaan dan pendampingan usaha Amartha kepada para mitra membuat pendapatan mereka naik hingga tujuh kali lipat, melebihi Upah Minimum Regional (UMR) setempat. 

Riset kolaboratif ini dilakukan pada delapan puluh delapan responden mitra Amartha di delapan kota di Jawa (Bandung, Bogor, Subang, Sukabumi, Banyumas, Klaten, Kediri, dan Mojokerto) dengan menggabungkan metode survei, wawancara dan focus group discussion. 

Dewa Ayu Diah Angendari, Sekretaris Eksekutif CfDS UGM, mengatakan, “Sembilan puluh empat persen mitra Amartha merasa lebih sejahtera setelah bergabung dengan Amartha. Penghasilan mereka naik jadi Rp5-10 Juta per bulan dari yang awalnya hanya sekitar Rp1-2 Juta per bulan. Kenaikan tertinggi dirasakan oleh salah satu mitra Amartha di Klaten yang mengalami lonjakan pendapatan dari Rp1,4 Juta menjadi Rp10 Juta per bulan, jauh melampaui UMR Klaten senilai Rp1.795.061”.

Sembilan puluh empat persen mitra Amartha merasa lebih sejahtera setelah bergabung dengan Amartha. 

Salah satu temuan riset tersebut mengungkap bahwa 76% mitra usaha Amartha mengaku dapat membayar uang sekolah anak dari pendapatan usaha mereka. Mereka juga merasakan hasil penjualan meningkat, usaha semakin berkembang, dapat turut membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat sekitar serta memiliki cadangan dana darurat.

Aria Widyanto selaku Chief Risk and Sustainability Officer Amartha saat meluncurkan hasil riset bersama CfDS UGM bertajuk “Peran Amartha dalam Meningkatkan Kesejahteraan Perempuan di Pedesaan” di Jakarta pada Rabu (06/11).

Aria Widyanto selaku Chief Risk and Sustainability Officer Amartha mengatakan, “Setiap minggunya, Amartha mengadakan pertemuan majelis atau kelompok mitra beranggotakan 10-25 orang untuk memberi pendampingan dan pendidikan mengenai tata kelola usaha dan keuangan. Dengan metode ini, Amartha dapat menjembatani kesenjangan yang muncul dari rendahnya tingkat pendidikan dan akses informasi perempuan di pedesaan.”

Baca Juga: Bangun Kesejahteraan di Desa, Ini 4 Hal yang Dilakukan Amartha

Mayoritas perempuan di pedesaan memiliki tingkat pendidikan yang rendah serta mengalami keterbatasan dalam mengakses informasi. Sebanyak 52,3% mitra Amartha merupakan lulusan sekolah dasar yang rata-rata berprofesi sebagai pedagang berskala mikro dengan penghasilan kurang dari Rp3 juta per bulan.

Dalam mengakses informasi, para mitra Amartha masih mengandalkan televisi atau orang-orang di sekitar mereka. Sekitar 70% perempuan mitra Amartha berusia di atas 40 tahun dan sebanyak 62,5% mitra Amartha tidak memiliki telepon genggam yang memungkinkan mereka terhubung dengan internet. Menghadapi tantangan tersebut, Amartha menerjunkan business partner atau agen lapangan yang bertugas untuk menjembatani jurang tersebut.

Sistem pendampingan melalui business partner Amartha membuat pengetahuan para perempuan desa tentang literasi keuangan semakin meningkat. Selain mengumpulkan pembayaran, business partner yang datang di setiap pertemuan mingguan turut membantu para mitra Amartha untuk mengelola pinjaman. Kegiatan rutin mingguan ini membangkitkan kesadaran dan tanggung jawab untuk mengelola keuangan dengan lebih baik. Sebanyak 54,5% mitra Amartha merasa kemampuan mengelola keuangan meningkat setelah bergabung dengan Amartha.

(Kiri – Kanan) Aria Widyanto – Chief Risk and Sustainability Officer AMARTHA, Ibu Tumini – Perempuan Tangguh Amartha, Dewa Ayu Diah Angendari, MA – Sekretaris Eksekutif CfDS UGM & Dosen Dept Ilmu Komunikasi UGM saat meluncurkan hasil riset bersama CfDS UGM bertajuk “Peran Amartha dalam Meningkatkan Kesejahteraan Perempuan di Pedesaan” di Jakarta pada Rabu (06/11). 

Baca Juga: Pariyah Sukses Jual Keripik Hingga Ke Jepang

Dengan rendahnya tingkat pendidikan dan minimnya akses terhadap informasi, para perempuan mitra Amartha ternyata lebih memilih fintek peer-to-peer (p2p) lending dibandingkan jasa keuangan formal lainnya. Sejumlah pertimbangan yang melatarbelakangi keputusan tersebut adalah jarak yang jauh dengan bank, jumlah pinjaman yang dapat diajukan terlalu besar, syarat administrasi yang lebih kompleks, hingga sudah terbiasa dengan transaksi tunai.

Please follow and like us:
FACEBOOK
FACEBOOK
LINKEDIN
%d bloggers like this: