Amartha Prosperity Index: Sudah Melek Inklusi Keuangan, UMKM Belum Manfaatkan Kanal Digital untuk Kembangkan Usaha

0
540
Event Launch Amartha Prosperity Index
Aria Widyanto, Chief Risk & Sustainability Officer Amartha memaparkan hasil temuan pada survei yang bertajuk “The Indonesia Grassroot Entrepreneur Report” dalam kegiatan Focus Group Discussion di Veranda Hotel, Jakarta (13/4).

PT Amartha Mikro Fintek (Amartha), perusahaan fintech yang berfokus pada pemberdayaan perempuan pengusaha mikro, meluncurkan hasil riset terbaru bersama Katadata Insight Center mengenai lanskap UMKM Indonesia terhadap penggunaan produk keuangan dan adopsi digital. 

Hasil riset menunjukkan bahwa pelaku usaha mikro dan ultra mikro sudah memiliki tingkat inklusi keuangan yang baik, dengan skor 84,33 berdasarkan Amartha Prosperity Index. Namun tidak banyak UMKM yang sudah memanfaatkan kanal digital untuk mengembangkan usaha mereka. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan skor yang rendah pada dimensi adopsi produk digital yakni sebesar 22,55. 

Riset yang bertajuk “The Indonesia Grassroot Entrepreneur Report” ini diukur menggunakan Amartha Prosperity Index, yaitu sebuah indeks yang disusun untuk memahami bagaimana kondisi pelaku usaha ultra mikro dan kecil pada saat ini dalam ranah perilaku finansial dan digital. Indeks ini terbagi menjadi tiga dimensi utama yang mengukur kesejahteraan berdasarkan tingkat inklusi keuangan, penggunaan produk finansial tingkat lanjutan, dan adopsi digital bagi UMKM.

Aria Widyanto, Chief Risk & Sustainability Officer Amartha mengungkapkan, “Tujuan utama Amartha meluncurkan riset ini adalah untuk mengetahui fakta di lapangan, faktor-faktor apa saja yang dapat mendorong UMKM untuk lebih maju dilihat dari kacamata inklusi keuangan dan adopsi teknologi. Hasilnya, kami mendapatkan temuan bahwa pelaku usaha mikro dan ultra mikro di Indonesia sudah cukup melek dengan inklusi keuangan, tetapi belum mahir memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan usahanya. Jadi penggunaan teknologi masih sebatas pada keperluan komunikasi harian atau hiburan saja”.

Survei ini dilakukan pada bulan November 2021 dan melibatkan 402 orang pelaku usaha mikro dan  ultra mikro yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia, yaitu Bodetabek, Jawa Tengah, Yogyakarta, Lampung, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Selatan. Riset mengutamakan responden yang berdomisili di wilayah sub-urban, sesuai dengan karakteristik mitra Amartha.

Hasil Pengukuran Dimensi Amartha Prosperity Index

Dari hasil riset ini ditemukan bahwa dimensi adopsi digital berperan lebih besar dalam mendorong akselerasi bisnis para pelaku usaha mikro dan ultra mikro. Kemudian, diikuti oleh dimensi pemanfaatan produk keuangan, serta dimensi inklusi finansial. Adopsi digital di segmen ini sudah cukup baik dengan perolehan skor 66,08. 

Sebanyak 97 persen pelaku usaha mikro dan ultra mikro sudah memiliki perangkat/gadget, akses internet, dan penggunaan media sosial. Tetapi, penggunaan e-commerce untuk memperluas jangkauan pasar masih sangat rendah, dengan perolehan skor 20,50. 

Dalam hal pemanfaatan produk keuangan untuk tingkat lanjutan, hasilnya diperoleh skor sebesar 29,98, yang artinya para pelaku UMKM sudah terinklusi oleh produk keuangan tetapi penggunaannya hanya sebatas transaksi umum saja, belum dioptimalkan untuk mengembangkan usaha.

Dari survei ini pula, terlihat bahwa 92 persen pelaku usaha mikro dan ultra mikro memulai usaha mereka dari modal pribadi. Hanya sekitar 34 persen yang melakukan pinjaman  dari institusi formal seperti perbankan.

Angka pengguna fintech juga masih sangat rendah, yakni hanya 2,7 persen pelaku usaha mikro dan ultra mikro yang mendapat modal berkat pinjaman fintech. Alasan utamanya adalah, pelaku UMKM khawatir tidak sanggup membayar pinjamannya, sehingga lebih memilih tabungan pribadi saja.

Aria melanjutkan, “Ini merupakan peluang besar khususnya bagi Amartha, karena pangsa pasar UMKM yang belum terlayani akses permodalan masih sangat banyak. Stigma bahwa berutang merupakan hal buruk, sebenarnya bisa diluruskan. Pinjaman produktif seperti yang disediakan oleh Amartha justru dapat membuka peluang bagi UMKM untuk lebih maju dan sejahtera, apalagi pelayanan Amartha tidak terbatas pada pemberian modal saja, tetapi juga pendampingan usaha. Selain itu, peluang lebih besar juga hadir dari pentingnya bagi pelaku UMKM untuk mendapatkan literasi digital demi kemajuan bisnis mereka”.

Vivi Zabkie, Research Manager Katadata Insight Center memaparkan, “Alasan utama rendahnya skor pemanfaatan kanal digital untuk mengembangkan usaha adalah karena mereka belum memiliki keterampilan yang memadai. Mereka mengerti cara menggunakan media sosial, mengerti cara berbelanja online, tetapi tidak tahu cara mempromosikan usahanya lewat kanal digital, jadi seutuhnya mengandalkan interaksi fisik/offline. Oleh sebab itu, butuh pendampingan atau edukasi lebih lanjut agar kemajuan teknologi ini diimbangi dengan kecakapan penggunanya”.

Amartha sebagai perusahaan fintech cukup gencar melakukan edukasi literasi keuangan dan digital untuk para mitranya. Lebih dari 103 ribu mitra telah mengikuti pelatihan literasi keuangan, dan lebih dari 45 ribu mitra memperoleh edukasi kewirausahaan dari Amartha.

Dampaknya, lebih dari 25 persen mitra Amartha sudah membiasakan diri untuk melakukan pencatatan keuangan, sehingga lebih disiplin dalam menabung dan mampu membeli aset baru dari hasil menabung.

“Program pendampingan dan edukasi bagi UMKM ini juga sejalan dengan arahan pemerintah yang mendorong UMKM untuk go digital. Tetapi untuk mewujudkan itu, tentu saja kita tidak bisa bergerak sendiri-sendiri. Butuh kolaborasi dari berbagai pihak, dan oleh karena itu, riset ini kami publikasikan. Agar upaya kita tidak berhenti di sini, melainkan semakin banyak pemangku kepentingan yang tergerak untuk turut andil menyejahterakan UMKM di Indonesia. Amartha optimis, dengan penyediaan akses modal yang inklusif serta edukasi literasi digital yang masif, akan memberi dampak bagi UMKM untuk semakin maju” tutup Aria.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here