Amartha Kunjungi The Jakarta Post Paparkan Dampak Sosial Fintech P2P Lending di Desa

Amartha Kunjungi The Jakarta Post

Founder dan CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra mengunjungi redaksi The Jakarta Post pada Selasa (17/9) siang di The Jakarta Post Building, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Andi Taufan didampingi oleh Direktur Amartha, Aria Widyanto dan Public Relations Manager Amartha, Derira Harahap bertemu dengan Managing Editor The Jakarta Post, M. Taufiqurrahman, Journalist The Jakarta Post, Esther Samboh, Editor The Jakarta Post, Prima Wiryani dan jajaran redaksi The Jakarta Post.

Andi Taufan mengatakan, bangga bisa mengunjungi kantor redaksi serta bertemu dengan awak redaksi The Jakarta Post. Dia berharap kunjungan ini akan mempererat tali silaturahmi dengan The Jakarta Post.

Dalam kesempatan itu, Taufiqurrahman menyambut baik kedatangan Amartha. Dia juga menyambut positif peran Amartha sebagai perusahaan fintech peer to peer lending yang menyalurkan pendanaan serta memberikan dampak positif kepada pelaku usaha mikro di desa.

Taufan mengatakan, Amartha telah memberikan dampak positif bagi kemajuan usaha mikro di pedesaan. Amartha telah menyalurkan pendanaan sebesar Rp 1,3 triliun kepada lebih dari 200.000 pelaku usaha mikro di Indonesia.

“Misi kami dari awal ingin menyejahterakan masyakat pedesaan lewat teknologi keuangan. Amartha ingin memberikan akses layanan keuangan bagi para pelaku usaha mikro di desa,” kata Andi Taufan saat memberikan paparannya.

Managing Editor The Jakarta Post, M. Taufiqurrahman dan CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra di The Jakarta Post Building, Tanah Abang, Jakarta

Awalnya, dia melihat para pelaku usaha mikro di desa sulit mendapatkan pinjaman. Pasalnya, mereka merupakan masyarakat yang tidak terjangkau perbankan maupun lembaga keuangan. Selain lokasi yang sulit dijangkau, mereka juga tidak memiliki credit history. Hal ini mempersulit mereka untuk meminjam uang untuk modal usaha kepada lembaga keuangan konvensional. Pada 2010, Amartha berdiri untuk mengatasi masalah tersebut.

“Dengan pendekatan teknologi keuangan, kami berhasil mempersingkat waktu untuk menganalisis calon peminjam. Dalam, waktu kurang dari 3 menit, kami sudah dapat menilai kelayakan peminjam serta credit scoring melalui teknologi,” kata Aria.

Seiring dengan perkembangan teknologi keuangan, Amartha bertransformasi dari microfinance menjadi fintech p2p lending sekitar tahun 2016. Kemudian, pada 2017, Amartha resmi terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pada Maret 2019, Amartha resmi mendapatkan izin usaha dari OJK.

“Ada sekitar delapan perusahaan fintech lending yang mendapatkan izin usaha dari ratusan fintech lending yang terdaftar di OJK. Untuk proses menjadi izin usaha perlu waktu sekitar dua tahun. Dan itupun tidak mudah,” ucap Taufan.

 

Please follow and like us:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

FACEBOOK
FACEBOOK
LINKEDIN
%d bloggers like this: