Amartha Jadi Pembicara di Asia Pacific Week Berlin 2018

Amartha menjadi satu-satunya perusahaan fintech di Asia Tenggara yang diundang dalam konferensi digital terbesar di Jerman, Asia Pacific Week Berlin 2018.

BERLIN- Vice President PT. Amartha Mikro Fintek (Amartha) Aria Widyanto menjadi pembicara dalam acara Asia Pacific Week Berlin 2018, membawakan topik “Fireside Chat: Lending, Factoring and FinTech Solve It All”, pada Rabu (26/4).

Dalam acara itu, Aria berbicara tentang pertumbuhan startup financial technology (fintech) terutama Peer-to-Peer (P2P) lending di Indonesia. Namun, persoalan timbul apakah pinjaman ini akan menambah deretan hutang baru atau justru membantu peminjam untuk meningkatkan taraf hidup. Peluang, tantangan dan regulasi yang membayangi layanan simpan pinjam berbasis teknologi informasi ini juga menjadi bahasan yang penting dalam acara tersebut.

Menurut data Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech), perusahaan fintech P2P lending di Indonesia terus berkembang pesat dari 15 persen pada awal 2017. Kini, naik menjadi 32 persen pada akhir tahun 2017. Pada Maret 2018, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga merilis ada 40 perusahaan P2P lending yang telah resmi terdaftar dan mendapatkan izin dari regulator.

“Saya berbicara di panel fintech sebagai satu-satunya perusahaan fintech dari Asia Tenggara yang diundang di APW Berlin 2018. Mereka melihat perkembangan fintech di Indonesia semakin pesat beberapa tahun ini,” kata Aria Widyanto, di Berlin, baru-baru ini.

Sebagai pionir P2P lending untuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di pedesaan, Aria menjelaskan, Amartha berdiri pada 2010 untuk mengakomodir pinjaman bagi masyarakat pedesaan yang “unbanked”. Bukan perkara mudah bagi perusahaan ini untuk membantu perekonomian dipedesaan. Apalagi, perusahaan yang didirikan oleh Andi Taufan Garuda Putra ini menyasar pengusaha perempuan. Selain itu, lokasi yang berada jauh dari perkotaan serta sulitnya akses perbankan para pengusaha ini membuat mereka membutuhkan dana  untuk meningkatkan taraf hidup. “Saat ini, Amartha telah menyalurkan sekitar Rp 350 milyar kepada 100.000 pengusaha mikro,” jelas Aria.

VP Amartha, Aria Widyanto (Dari Kanan)

Aria menyampaikan juga bahwa kolaborasi dari regulator, komunitas dan institusi, serta perorangan memegang peranan penting untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi di grassroot. Amartha telah berkolaborasi dengan instutisi Pemerintah dan swasta serta lembaga non profit. “Tahun 2017, Amartha telah resmi dan terdaftar oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kami juga berkolaborasi dengan beberapa Bank di Indonesia seperti Bank Mandiri dan Bank Permata,” ucap Aria.

Konferensi ini menghubungkan startup dari kota-kota di Eropa dan Asia. Lebih dari 80 pembicara, 48 sesi dan sebanyak 1300 pengunjung hadir dalam konferensi tersebut. Beberapa perusahaan swasta, organisasi maupun aktor institusional terkait startup dari Jerman dan Asia terlibat. Selain itu, beberapa diskusi dibuat lebih interaktif membahas soal pengaruh budaya dengan digital, teknologi serta kewirausahaan.

APW merupakan inisiasi dari Walikota Pemerintahan Berlin pada 1997. Konferensi ini menghubungkan Eropa dengan Asia dari berbagai bidang seperti Kota Pintar (Smart City), Industri 4.0, Digitalisasi, Startup, dan inovasi. Konferensi ini berfungsi sebagai “payung” dalam mengintegrasikan ekonomi, budaya, ilmiah, politik, dan sosial. APW juga memperkuat hubungan sister city antara Berlin, Beijing, Jakarta dan Tokyo. Pada 2015, acara ini digelar tahunan. Benua Eropa menjadi titik awal berdirinya perusahaan P2P lending. Pada 2005, perusahaan P2P lending pertama di dunia berdiri di Inggris.

Please follow and like us:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

FACEBOOK
FACEBOOK
LINKEDIN
%d bloggers like this: