Amartha dan Oxford Microfinance Initiative Gelar Pelatihan di Desa Ciseeng

Perusahaan financial technology (fintech) yang bergerak di platform peer to peer (P2P) lending, Amartha berkerja sama dengan Oxford Microfinance Initiative (OMI) melakukan beberapa kegiatan seperti penelitian dan pelatihan terhadap mitra usaha Amartha pada 10-11 April 2018 di Amartha Point Ciseeng, desa Ciseeng, Bogor, Jawa Barat.

Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran mitra usaha Amartha yang merupakan ibu-ibu pedesaan terhadap kebersihan lingkungan, serta memperkenalkan praktek usaha yang ramah lingkungan.

Dalam kegiatan ini, OMI mengemas pelatihan dengan modul-modul berisikan materi edukasi yang menarik kepada Business Partner. Kemudian, mereka bersama Business Partner memberikan pelatihan kepada mitra Amartha. “Untuk merancang pelatihan ini, OMI melakukan pendekatan empati berdasarkan pengalaman kehidupan ibu-ibu di desa sehingga bisa memahami masalah dari sudut pandang ibu-ibu,” kata Vice President of Amartha, Aria Widynato di Jakarta, belum lama ini.

OMI merupakan organisasi mahasiswa asal Inggris yang memberikan konsultasi dan penelitian kepada institusi microfinance. Organisasi ini menghubungkan institusi microfinance dengan mahasiswa-mahasiswa dari University of Oxford untuk menciptakan dan mendukung proyek-proyek microfinance. Sebelumnya, mereka juga pernnah melakukan kegiatan ini di beberapa negara berkembang seperti Vietnam, Myanmar, Nepal, Ghana, dan Brasil.

“Amartha dan OMI bekerjasama untuk menciptakan dampak sosial dan ekonomi terhadap ibu-ibu mitra Amartha. Tim OMI terdiri dari enam orang mahasiswa S1 dan S2 dari berbagai bidang studi (finance, philosophy, dan environmental policy) di University of Oxford yang berperan sebagai konsultan bagi Amartha. Mereka berasal dari berbagai negara yakni Cina, Singapura, Srilangka, Kanada, Inggris dan Indonesia,” jelas Aria.

Tim Oxford Microfinance Initiative bersama ibu-ibu mitra usaha Amartha di Desa Ciseeng, Rabu (11/4) di Desa Ciseeng, Bogor, Jawa Barat.

Tim Oxford Microfinance Initiative bersama ibu-ibu mitra usaha Amartha di Desa Ciseeng, Rabu (11/4) di Desa Ciseeng, Bogor, Jawa Barat.

Selama di desa tersebut, OMI bertemu dengan Business Manager dan Business Partner serta beberapa ibu yang tergabung dalam majelis (kelompok mitra usaha). Selain pelatihan, mereka juga berdiskusi mengenai masalah-masalah usaha yang dialami oleh ibu-ibu. Tak hanya itu, mereka juga memberikan solusi atas permasalahan tersebut. Beberapa ibu mempunyai usaha-usaha seperti pembuatan sarung tangan & masker, tahu, golok, keset dan warung.

“Mereka ke majelis dan berdiskusi dengan ibu-ibu dalam beberapa kelompok kecil untuk mengetahui kehidupan ibu-ibu di desa, latar belakang, keinginan dan harapan. Kami ke beberapa usaha ibu-ibu untuk melihat masalah, potensi, dan observasi kehidupan dan keadaan sekitar. Pada brainstorming ini, OMI juga meminta Business Partners untuk melakukan persona (menempatkan diri mereka sebagai ibu-ibu) sebagai cara menyenangkan dan efektif untuk mendapatkan ide sebagai bahan penyusunan modul training,” jelas Aria.

Setelah itu, tambah Aria, OMI bertemu dengan pendiri dan CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra dan tim Amartha. Dalam kesempatan itu, mereka menyampaikan beberapa temuan saat berkunjung ke desa Ciseeng. Andi menyambut baik tim tersebut.  “Mereka berkunjung ke kantor pusat Amartha untuk menyampaikan hasil temuan dan merencanakan bentuk penyampaian dari hasil dari program ini,” terang Aria.

Oxford Microfinance Initiative bersama tim Amartha memberikan pelatihan kepada ibu-ibu mitra usaha.

Oxford Microfinance Initiative bersama tim Amartha memberikan pelatihan kepada ibu-ibu mitra usaha.

Salah satu tim OMI, Kavi mengungkapkan kebahagiaanya bisa terlibat dalam kegiatan ini. Apalagi, mereka bisa bertemu dengan ibu-ibu pedesaan. Mereka menjadi mengetahui lebih dalam masalah-masalah ekonomi dan sosial di pedesaan terutama microfinance.

Seperti diketahui, Survei Nasional Literasi dan Inklusi keungan (SNLIK) yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)  pada 2016, menemukan bahwa indeks inklusi keuangan Indonesia baru mencapai 67,82 persen. Ini menunjukan bahwa masih terdapat lebih dari 30 persen masyarakat Indonesia yang belum memiliki akses keuangan, khususnya masyarakat prasejahtera yang sebagian besar tinggal di wilayah pelosok pedesaan.

Dengan hadirnya Amartha sebagai perusahaan fintech yang bergerak di P2P lending, mereka berhasil menghubungkan para wirausaha mikro perempuan di pedesaan yang membutuhkan modal dengan pendana di kota yang ingin membantu mendanai usaha mereka. Hingga kini, perusahaan yang berdiri sejak 2010 ini telah menyalurkan dana sekitar  Rp 340 miliar dan sebanyak 95.000 pengusaha mikro telah diberdayakan.

Please follow and like us:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

FACEBOOK
FACEBOOK
GOOGLE
GOOGLE
https://blog.amartha.com/amartha-dan-oxford-microfinance-initiative-gelar-pelatihan-di-desa-ciseeng">
LINKEDIN
%d bloggers like this: