Amartha dan OJK Dukung Edukasi Keuangan di Ambon

Amartha dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendukung edukasi tentang keuangan di Ambon. Acara berjudul  OJK Goes To Campus dan Edu Expo OJK ini bekerja sama dengan Pemerintah Kota Ambon dan Politeknik Negeri Ambon.

Dalam kesempatan itu, Founder dan CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, Anggota Dewan Komisioner OJK, bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Tirta Segara, Kepala OJK Provinsi Maluku, Bambang Hermanto, serta beberapa perusahaan fintech lainnya turut hadir di Auditorium Politeknik Negeri Ambon, Senin (25/2).

“Acara ini digelar dalam mengedukasi masyarakat serta untuk meningkatkan literasi keuangan di Ambon.  Kami diundang OJK untuk mendukung edukasi tersebut,” kata Andi Taufan Garuda Putra.

Pria yang akrab disapa Taufan ini melihat banyak potensi di sektor ekonomi mikro di Indonesia, terutama yang dijalankan oleh perempuan. Apalagi, dengan hadirnya fintech peer to peer lending di Indonesia memudahkan masyarakat pedesaan yang tak terjangkau lembaga keuangan konvensional untuk mendapatkan layanan keuangan. Teknologi keuangan memudahkan para pengusaha mikro mendapatkan akses layanan keuangan yang aman dan efisien.

Hal ini terbukti dengan hadirnya Amartha sebagai pelopor fintech p2p lending untuk pelaku usaha mikro perempuan di pedesaan. Mereka adalah masyarakat yang sulit mendapatkan pembiayaan modal usaha karena lokasi yang sulit diakses transportasi serta infrastruktur yang belum mumpuni.

Sejak awal berdiri pada 2010, Amartha mendukung dalam kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG) oleh PBB yakni pengentasan kemiskinan, partisipasi perempuan dalam pembangunan dan pengurangan ketimpangan pendapatan di pedesaan.

Saat ini, Amartha sebagai fintech terpercaya telah berhasil menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 877 miliar kepada lebih dari 199 ribu pelaku usaha mikro dengan pembiayaan lancar 97%. Pembiayaan tersebut didapat dari para pendana Amartha yang berdomisili di perkotaan dengan cara mengakses amartha.com serta memilih para peminjam yang memiliki usaha kuliner, perdagangan, perkebunan, perikanan dan usaha lainnya.

Sebagian besar perempuan tangguh Amartha berada di sektor perdagangan sekitar 69,69%, peternakan sebesar 4,79%, pertanian sekitar 7,65%, jasa sebesar 3,31%, dan di bidang non-produktif sebesar 5,01%. Amartha tidak hanya menjembatani mereka dengan dunia teknologi keuangan digital tetapi juga memberikan edukasi keuangan. Amartha terus berusaha untuk mewujudkan inklusi keuangan di Indonesia.

Menurut OJK, inklusi keuangan telah mencapai 63 persen dari jumlah populasi hingga akhir 2017. Hal ini terbantu perluasan internet oleh Pemerintah yakni layanan 3G yang menjangkau  60 ribu desa dan cakupan 2G yang mencakup 73 ribu desa. Selain itu, kehadiran p2p lending di Indonesia.

Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) telah mengatur ketentuan inklusi keuangan. Bahkan, target Pemerintah untuk inklusi keuangan mencapai 75 persen pada tahun ini.

FACEBOOK
FACEBOOK
GOOGLE
GOOGLE
https://blog.amartha.com/amartha-dan-ojk-dukung-edukasi-keuangan-di-ambon">
LINKEDIN