Amartha: Bangun Ekonomi Pedesaan Lewat Fintech

Financial technology (fintech) atau teknologi finansial (tekfin) semakin berkembang pesat di Indonesia. Dengan semakin majunya teknologi, Indonesia harus bersiap diri dengan munculnya teknologi-teknologi baru terutama di dunia tekfin.

Ada beberapa jenis tekfin diantaranya, crowd funding (penggalangan dana), e-money (uang elektronik), payment gateway (metode pembayaran berbasis digital) dan peer-to-peer (p2p) lending.

PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) adalah contoh tekfin Indonesia peer-to-peer (p2p) lending yang menyalurkan dana dari perseorangan untuk kemudian diberikan  ke penerima dana sebagai dana usaha mikro bagi perempuan-perempuan di pedesaan. Bisnis model Amartha sendiri sangat kental dengan nilai-nilai sosial yang seirama dengan sustainable development goals (SDG) terutama pilar pengentasan kemiskinan, partisipasi perempuan dalam pembangunan dan mengurangi ketimpangan pendapatan di pedesaan. SDG sendiri merupakan agenda Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk kemaslahatan manusia dan bumi. Karena itu, tak semua tekfin memiliki visi yang sama dengan Amartha

“Kami berkomitmen untuk menghubungkan para pengusaha mikro unbanked (masyarakat yang sama sekali tidak punya akses dengan layanan keuangan), khususnya para perempuan di pedesaan dengan para pendana urban untuk mendapatkan keuntungan, sekaligus menciptakan dampak sosial,” kata Andi Taufan Garuda Putra, Founder dan CEO Amartha di Jakarta, belum lama ini.

Ternyata, lanjut Andi, antusiasme masyarakat demikian besar. Pada 2017, sebanyak 9.833 orang pendana (investor) memercayakan dana mereka melalui Amartha, naik tiga belas kali lipat dari 748 orang di tahun sebelumnya. Berkat kepercayaan ini, Amartha berhasil menyalurkan Rp 297 miliar pendanaan kepada 87.631 perempuan mitra di lebih dari 500 desa di pulau Jawa.

“Dengan rata-rata penghasilan mitra naik dari Rp 2,5 juta di tahun 2016 menjadi Rp 3,5 juta di tahun 2017. Kita bisa melihat lebih banyak anak-anak yang pergi ke sekolah, rumah yang semakin layak huni serta meningkatnya taraf hidup dan kualitas gizi di puluhan ribu rumah tangga di pelosok desa. Kita melihat Indonesia yang semakin dan merata bersama Amartha,” ujar Andi.

Andi menjelaskan Amartha sendiri berdiri sejak 2010 sebagai lembaga keuangan mikro konvensional yang bertransformasi pada 2016 menjadi sebuah perusahaan tekfin. Amartha melihat bahwa layanan keuangan perbankan konvensional belum dapat dinikmati oleh ibu-ibu pedesaan. Dengan menekan risiko gagal bayar hingga 0% selama tujuh tahun terakhir, Amartha mempunyai konsep pendanaan unik, aman, dan menguntungkan

“Amartha memiliki manajemen risiko yang unik untuk menjaga rasio pendanaan bermasalah (NPL-Non Performing Loan), yaitu dengan menerapkan sistem tanggung renteng kelompok atau group lending (terdiri dari 15 – 25 orang dalam satu lingkungan) yang disebut Majelis Amartha untuk menguatkan semangat gotong royong atau tanggung renteng apabila terjadi kredit macet,” terang Andi.

Selain itu, lanjut Andi, Amartha menawarkan keuntungan bagi para pendana dengan rata-rata keuntungan mencapai 115 % per tahun. Amartha juga menjamin keamanan pendanaan bagi para pendana dengan memberikan solusi melalui sistem skor kredit berdasarkan pada pendekatan psikometri untuk menilai kelayakan calon penerima dana. “Sistem yang transparan ini juga membantu para pendana untuk dapat melakukan pendanaan di segmen mikro secara lebih aman dan nyaman.” jelasnya.

Kolaborasi Bank dengan Tekfin

Pada 9 Maret 2018, Amartha mengikuti panel discussion yang diselenggarakan Bank Mandiri di Batam. Ini merupakan acara diskusi kolaborasi perbankan konvensional dan fintech startup. Seperti diketahui, Amartha telah bekerjasama dengan Bank Mandiri pada 2017.

Direktur Utama PT Mandiri Capital Indonesia (MCI) Eddi Danusaputro mengatakan PT Bank Mandiri Tbk melalui perusahaan modal ventura MCI telah melakukan pendanaan modal dengan Amartha. Pasalnya, Amartha mempunyai visi yang sama yakni meningkatkan inklusi keuangan di seluruh Indonesia.

“Bank Mandiri tidak terlalu kuat di mikro, karena itu kami investasi ke Amartha. Rata-rata besaran pembiayaan Rp 2-3 juta per penerima. Melalui kolaborasi ini, Amartha bisa kami bawa sebagai inovasi ke dalam Bank Mandiri. Di sisi lain, kami membantu Amartha menaikkan rekam jejak mereka,” kata Eddi di Jakarta.

Chief Executive Officer (CEO) Mandiri Capital Indonesia, Eddi Danusaputro saat berbicara di IT Summit, Batam, Jumat (9/3)

Chief Executive Officer (CEO) Mandiri Capital Indonesia, Eddi Danusaputro saat berbicara di IT Summit, Batam, Jumat (9/3)

Andi menerangkan Bank Mandiri melihat tekfin sebagai rekan terpercaya untuk dapat menjangkau segmen masyarakat di pedesaan. Hubungan ini berlaku saling menguntungkan, terutama untuk merangkul lebih banyak pendana urban. Pasalnya, jika institusi seperti bank saja percaya pada layanan tekfin untuk menjangkau segmen mikro, semestinya pendana perseorangan pun akan lebih percaya diri untuk mulai menambah pendanaan di sektor P2P lending.

“Karakter penerima dana di desa yang tidak memiliki kredit historis bukanlah menjadi tanda mutlak bahwa mereka memiliki risiko yang tinggi untuk diberikan dana. Karena sebenarnya kalau di pedesaan cukup susah untuk menjangkau dan mengajukan pinjaman di bank, padahal dari segi karakter, mereka cukup bertanggung jawab kok,” kata Andi.

Berdasarkan data Accenture, pendanaan pada bidang fintech terus meningkat dengan nilai mencapai tiga kali lipat dari US$ 92,8 juta menjadi US$ 2,97 miliar dalam kurun waktu 2008 hingga 2013. Data Statista juga menunjukkan, nilai transaksi perusahaan fintech di Indonesia sepanjang tahun 2017 ini diprediksi akan tumbuh 27,5 persen menjadi US$ 18,65 miliar dibandingkan tahun lalu yang sebesar US$ 14,5 miliar.

Vice President (VP) of Growth Amartha, Fadilla Tourizqua Zain atau yang akrab disapa Ika mengatakan kerja sama ini merupakan bentuk kepercayaan bank terhadap tekfin. “Kami sangat senang Bank Mandiri telah percaya dengan Amartha. Saat ini kerja sama yang kami lakukan memang masih baru pendanaan kapital, tapi tidak menutup kemungkinan akan ada kolaborasi lain” kata Ika.

Menurut Ika, Amartha tetap membuka pintu selebar-lebarnya untuk bank lain bekerja sama. Pasalnya, kolaborasi bank dengan tekfin akan memberikan dampak positif yang lebih besar. Terlebih, perkembangan tekfin sangat pesat tak hanya di dunia tetapi juga di Indonesia  “Tentunya, kami juga membuka bank lain untuk bekerja sama,” tutupnya.

Please follow and like us:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

FACEBOOK
FACEBOOK
GOOGLE
GOOGLE
https://blog.amartha.com/amartha-bangun-ekonomi-pedesaan-lewat-fintech">
LINKEDIN
%d bloggers like this: