Alasan Warren Buffett Tidak Pilih Kripto Sebagai Aset Investasi

0
1680

Siapa yang tidak mengetahui Warren Buffett? Ia merupakan seorang investor yang namanya sudah terkenal ke seluruh penjuru dunia. Belakangan, ia mengaku tidak menjadikan kripto sebagai aset investasi.

“Saya tidak punya Bitcoin. Saya tidak memiliki cryptocurrency, tidak akan pernah.” ujarnya kepada CNBC pada tahun 2020.

Tambahnya, berinvestasi pada Kripto dan Bitcoin adalah perjudian. Ia bahkan pernah membandingkan uang kripto dengan kemuningkinan kotak racun tikus.

Berikut ini 3 alasan mengapa Chairman dan CEO Berkshire Hathaway, Warren Buffett, tidak berinvestasi pada Kripto.

  1. Tidak Memiliki Nilai Unik Sama Sekali

Warren Buffett tidak memilih Bitcoin karena dianggap sebagai aset yang tidak produktif. Ia lebih mempreferensikan untuk saham di suatu perusahaan yang nilai dan arus kasnya jelas dan menghasilkan atau memproduksi sesuatu. Baginya, cryptocurrency tidak memiliki nilai nyata.

“Mereka tidak menghasilkan (barang atau jasa), mereka tidak mengirimkan cek kepada investor, mereka tidak dapat melakukan apa-apa, dan apa yang Anda harapkan adalah ada orang lain yang datang dan membayar lebih banyak untuk mereka nanti tapi kemudian orang itu dapat masalah,” jelasnya, melansir Kontan.

Menurut Buffett, nilai yang dimiliki Bitcoin hanya berasal dari optimisme investor yang ingin membayar lebih banyak untuk itu di masa depan daripada yang dibayarkan hari ini.

  1. Kripto Bukan Uang

Buffett menyebut Kripto sebagai fatamorgana. Selain itu, Kripto juga tidak memenuhi persyaratan sebagai mata uang. Menurut definisi secara umum, uang adalah alat tukar, penyimpan nilai, dan unit akun.

“Itu (Kripto) tidak memenuhi persyaratan sebagai mata uang. Ini bukan alat pertukaran yang tahan lama, aset itu bukan penyimpan nilai.” jelasnya di CNBC pada tahun 2014.

Mengenal Time Value of Money Yang Jarang Dipahami Investor

  1. Tidak Memahaminya

Warren Buffett adalah investor paling sukses karena ia sangat memahami instrumen yang dipilihnya. Sementara untuk Kripto, ia tidak begitu memahaminya.

“Saya mendapat cukup masalah dengan hal-hal yang menurut saya tidak saya ketahui. Mengapa saya harus mengambil posisi long atau short pada sesuatu yang tidak saya ketahui?” katanya seperti mengutip Yahoo Finance.

Alternatif Investasi Selain Kripto

Sekarang ini ada banyak instrumen investasi yang bisa dipilih oleh investor, mulai dari saham, reksadana, hingga P2P Lending. Sebagai informasi, P2P Lending merupakan alternatif investasi baru yang juga banyak diperbincangkan banyak orang.

Salah satu investasi P2P Lending yang sudah memiliki izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah Amartha.

Amartha

Amartha merupakan pionir P2P Lending di Indonesia yang khusus menyalurkan dana investor kepada perempuan pengusaha mikro di pedesaan disertai pendampingan usaha dan pelatihan keuangan secara rutin. Amartha menawarkan bagi hasil hingga 15% flat per tahun kepada para investornya.

Amartha menerapkan sistem Grameen Bank yang diterapkan oleh Muhammad Yunus. Sebagai bentuk transparansinya, Amartha merilis Laporan Akuntabilitas Sosial setiap tahunnya. Baca Laporan Akuntabilitas Sosial Amartha di sini.

Sehingga, dengan kata lain, mendanai di Amartha tidak hanya mendapatkan keuntungan materi tapi juga turut menciptakan dampak sosial yang nyata berupa kesejahteraan bagi keluarga-keluarga di pedesaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here